Jalan Tak Bertujuan

Jalan Tak Bertujuan
©Hail
I

Masihkah kau ingat jalan tak bertujuan yang kita tapaki. Kita berjalan bertatih-tatih sembari membenamkan rindu yang berkecamuk dalam dada. Meskipun engkau tak tahu ke mana arah langkah hendak pergi namun engkau tetap ingin melangkah. Ingin menggapai kaki langit yang tak kunjung sampai. Mungkin juga ingin menembusi jagat raya atau mengarungi samudra biar segala yang hidup tahu kalau engkau tak lemah. Engkau perempuan yang tegar. Perempuan yang mampu tersenyum kala luka mampir mencekik.

Berjalanlah terus engkau separuh jiwaku! Aku akan setia mengikutimu karena engkau adalah aku yang lain, pintaku. Sejenak engkau menghentikan langkahmu dan berpaling menatapku penuh rindu. Kemudian berjalan lebih bebas tanpa beban. Andai kamu tahu rindu ini hanya untukmu sayang, separuh jiwaku. Begitu romantis pelukanmu waktu rindu mencuat, batin perempuan itu.

Di bawah cahaya bulan purnama saat langkah kaki kita mencumbui lorong yang diberi nama perpisahan oleh kerabat kita. Engkau tak persoalkan itu apalagi aku. Keyakinan kita di penghujung November kala itu suatu waktu aku akan mengikuti engkau ke mana engkau melangkah. Sekalipun lorong perpisahan harus kita lewati.

Tak aku sadar perjalanan kita sampai di persimpangan. Aku seperti mencium aroma perpisahan tetapi tidak rupanya kita masih pada jalan yang sama. Aku terperangah kita memiliki kesukaan yang sama. Engkau lebih memilih belok ke kiri, aku pun demikian sama denganmu. Dengan memilih tetap diam aku terus mengikuti langkahmu.

Rupanya benar keyakinan kita di penghujung November kita tak berpisah. Hati kita lebih kuat untuk bersatu. Seperti harap yang begitu gema dalam khusyuknya doa kita kala bintang-bintang mulai redup. Lilin peninggalan orang tuamu menjadi penerang di ruangan engkau bertekuk lutut menyembah yang Kuasa.

Sungguh tak adil ibu dan ayahku. Orang tuaku tak bijaksana. Sebaiknya aku tak dilahirkan. Kalau hanya untuk diduitkan.

Aku benci… benci, kata yang selalu perempuan itu ucapkan kala tangisnya pecah seusai doa malam.

Mungkin Aku lelaki paling bodoh di dunia karena masih saja mengharapkan perempuan yang tak mencintaiku, batinku di balik selimut.

Ah.. entahlah cintaku hanya untuk perempuan itu, pintaku lagi

II

Masih pada jalan tak bertujuan. Kali ini kita tak menyangka ternyata di persimpangan kedua ada lukisan tentang kita. Begitu indah namamu dan namaku terukir dalam bingkai pelangi dibaluti pernak-pernik goresan nostalgia. Lukisan itu terpatri menawan di pinggir jalan saat kita melewatinya. Engkau menyunggingkan senyum kala kelopak matamu tak sengaja menatap lukisan nama kita yang dibaluti pernak-pernik nostalgia itu.

Aku pun demikian tersenyum melihat tingkah lucumu. Keindahan lukisan itu rupanya tak membuat kita berhenti melangkah. Engkau malah mempercepat langkahmu. Seolah ada sesuatu yang telah menunggumu untuk bercumbu di bawah naungan temaram bulan sabit.

Di beranda rumah tempat engkau biasa menyuguhkanku segelas kopi hitam manis saat fajar mulai merekah. Membungkus banyak cerita tentangmu. Engkau pernah berbisik padaku. Aku ingat kala itu rinai hujan baru saja reda. Menyejukkan ibu bumi yang kering juga hatimu aku mengira.

Kak, aku akan berusaha untuk bisa mencintaimu, bisikmu. Mungkin sekarang belum waktunya tapi yakinlah suatu hari nanti cintaku padamu akan nyata, suaramu makin parau. Rinai di pelupuk matamu kemudian berderai deras membasahi pipi mungilmu.

Malam mulai gelap menyelimuti jalan kita. Lorong-lorong sepi tanpa tuan. Di manakah gerangan tuan-tuan yang pandai mencopet di kantong rakyat itu? Apakah mereka tengah berlagak di kolong meja tempat persembunyian paling aman? Brengseklah engkau penjahat misterius, umpat perempuan itu saat hening di jalan yang ia tapaki.

Umpatan kembali menggelegar. Aku benci orang tuaku.

Lebih baik mati dari pada aku harus menanggung beban hidup yang kian berat ini.

Kopi hitam manismu kini terasa hambar bukan main. Aku tertunduk bisu tanpa ingin membelai rambutmu kala engkau bersedih. Aku mulai merasa mati bersamamu.

Akankah kita kembali melewati lorong yang diberi nama perpisahan oleh kerabat kita. Agar kita benar-benar berpisah. Entahlah di mana sekarang lorong itu. Tak kita temui lagi. Mungkin benar kata orang masa lalu adalah sejarah yang tak akan pernah terulang kembali di masa sekarang.

Lagi-lagi engkau tersenyum kecut melihatku yang terus mengikuti langkah kakimu pergi. Engkau seakan tak percaya bahtera keluarga yang aku bangun belum juga karam di lautan yang angker sekalipun.

Kembalilah kepada hidup yang lebih baik engkau lelaki baik hati! Aku merasa tak pantas hidup bersamamu. Hidupku telah hancur oleh orang-orang segolongan denganmu, perempuan itu menamparku dengan kata-katanya.

Apa maksudnya hai engkau perempuan? Aku melemah.

Yakinlah. Aku tidak seperti yang engkau kira. Aku tulus mencintaimu, kataku sembari menggenggam erat jemarinya.

Aku sudah mengetahui segalanya tentangmu. Engkau telah dijual oleh orang tuamu kepada lelaki berduit yang bejat. Itu alasan engkau selalu marah dengan orang tuamu. Aku tahu engkau sedang trauma berat karena perlakuan orang bejat pilihan orang tuammu itu. Percayalah padaku perempuan! Aku setia padamu.

Aku berjanji akan menjagamu selamanya, pintaku lagi.

Maafkan aku kekasihku. Rupanya aku tak bisa hidup bersamamu, perempuan itu berbisik kemudian pergi meninggalkanku.

Sejenak lukisan tentang kita terpampang jelas dalam memoriku. Lebih rayu dari rindu.

Dalam benak kita berkecamuk seribu satu pertanyaan perihal lukisan nama kita yang terpampang di persimpangan kedua. Engkau mulai curiga aku penipu. Kata-kata yang sempat aku ucapkan padamu di awal kita berjumpa adalah dusta. Jalan tak bertujuanlah yang menjadi saksinya.

Aku terkejut. Aku terpukul oleh katamu kalau aku yang bersamamu adalah pendusta. Aku tidak bedanya dengan lelaki bejat yang telah menghancurkanmu.

Aku tak mau perasaan curiga itu terus bermekaran dalam hatimu. Namun sia-sia engkau keburu pergi pada tapak tak bertujuan itu. Bayanganmu samar-samar lenyap dari pelupuk mataku.

III

Ayam berkokok berkali-kali saat fajar mekar di bingkai angkasa timur. Aku tersadar dari tidur pulas. Ternyata engkau perempuan hanyalah masa laluku. Kini namamu dan namaku terbungkus rapi dalam memoriku. Terpampang jelas dalam ingatanku pernak-pernik nostalgia yang ditaburi canda bahagia kala sepi merayu. Aku putuskan untuk berhenti melangkah pada jalan tak bertujuan yang menyesatkan itu, kataku pada selimut dan bantal selepas menguap lebar.

Latest posts by Latrino Lele (see all)