Jam Dinding Ibu

Fimela

tidur di pangkuan ibu adalah candu
menggodanya di selasar ruang tamu
meledakkan tawanya merdu

makin besar laju detik jam dinding
menunjuk orang baru masuk ke rumah ibu
menyapanya lalu merunduk malu

matanya tajam
menelisir sekeliling rumah baru
dilihatnya tanaman padi tumbuh menguning

di luar, benih-benih baru subur menghijau
pohon jati dan beringin mengakar kokoh
tak tertandingi

jam dinding ibu menunjuk lagi tamu itu
terlihat sekeliling ibu gersang
tak satu pun hijau menggenang
padinya meruncing
yang kokoh tak tertandingi
terpancung buntung

ibu membebaskan hidup agar mereka tumbuh
memaknai kasih sayang
kini, menggoda ibu tanpa sekeliling hijau
sudah tak bisa menetaskan tawa

jam dinding ibu lagi-lagi berhasil
menunjuk luka karena kecewa
ia sambut tamunya bak raja
tapi anak-anak hijaunya lenyap
tercuri tanpa terdengar tangisnya

tamu yang tak punya malu
merampas yang terkasih
memakan yang tersayang tanpa
permisi dan pembaru

ibu merunduk meratapi kepunyaannya
pergi tanpa terdengar rengekan kesakitan

tamu itu cerdas
segala kesakitan benar-benar dibungkamnya
tanpa suara
dan ibu hanya menyekat luka
mengharap rawat tulus
tidak dipermainkan

    Raras Kusfajardini

    Mahasiswa Jurusan Pendidikan Matematika UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta; asal Bangka Belitung.

    (see all)

    Share!