Jangan Beri Amunisi untuk Emosi

Jangan Beri Amunisi untuk Emosi
©Police 2 Peace

Kampungku sempat hancur-hancuran karena perang. Satu suku dan satu agama pun bisa saling tebas, ketika emosi tersulut. Maka kenapa, saat pencari makan dari konflik memainkan jurus untuk menyentuh emosi masyarakat daerah lain, kutolak keras.

Sayangnya, ada orang-orang terkenal yang lebih didengarkan. Mereka yang sebenarnya belum pernah melihat kepala pecah oleh peluru, atau leher putus oleh pedang. Mereka berbicara dengan kebebalan, bukan dengan penalaran yang benar-benar berangkat dari pengalaman dan refleksi dari sana.

Aku sendiri lebih berharap, saat satu daerah rentan konflik, yang mesti ditularkan adalah kejernihan berpikir. Bukan memantik emosi mereka.

Dulu, saat Aceh dalam konflik, pertarungan dan cerita pembunuhan tidak cuma antara kombatan GAM dengan TNI/Polri. Sesama masyarakat biasa saja bisa bunuh-bunuhan. Takkan terusut, karena setiap ada yang mati, maka salah satu pihak yang bertarung saja yang jadi tertuduh.

Bahwa GAM dengan militer/polisi bunuh-bunuhan, memang juga banyak. Namun masyarakat biasa, sesama sipil biasa, bunuh-bunuhan pun tak kalah banyak.

Hanya karena persaingan warung kopi saja bisa jadi alasan untuk “menghilangkan” pesaing. Tinggal adukan saja ke pihak yang bertarung, dengan tuduhan sebagai mata-mata TNI, atau sebagai mata-mata GAM. Malamnya lenyap.

Ringkasnya, di medan konflik atau rentan konflik, jangan beri amunisi untuk emosi. Tapi beri apa saja yang mampu menjernihkan pikiran dan nalar mereka. Kasihan, jika akibat ulah pencari makan dari konflik, masyarakat tidak bersalah saling bunuh-bunuhan. Itu biadab.

Di daerah konflik, jika emosi sudah tersentuh, jangan lagi bicara beradab-tidak beradab, pantas-tidak pantas. Pikiran purba membunuh atau mati sering membayangi. Tidak banyak opsi. Maka kenapa, cerita bunuh-bunuhan pun tak lagi sekadar cerita para pihak yang berperang.

Masyarakat biasa pun bisa menunjukkan sisi sadisnya di luar dugaan.

Ya, aku sendiri punya kemarahan terhadap perang, karena pernah hidup dalam suasana perang. Di depan mata, aku melihat anak-anak kehilangan ayah-ibunya. Atau, ibu yang terkoyak-koyak kehormatannya oleh manusia-manusia buas yang selalu ada dalam suasana perang.

Ada istri diperkosa di depan suami, di depan anaknya sendiri, dan lain sebagainya, adalah bagian pemandangan di tengah suasana perang. Kalian yang belum pernah hidup di tengah situasi itu, jangan ikuti jiwa bedebah yang tidak peduli darah tumpah atau segalanya punah: harga diri sampai nyawa.

Untuk pulih dari semua luka yang ada, tidak semudah kalian membuka mulut di depan TV atau sorotan kamera. Untuk sembuh dari dendam akibat sebuah suasana perang, tidak segampang bacotan demi bacotan di media sosial.

Silakan bermedia sosial. Jangan kau jadikan banyak orang harus menjalani kenyataan hidup sebenar-benar sial. Perang adalah kesialan yang pernah kualami sendiri.

Yang kualami sendiri mungkin hanya secuil saja dari cerita konflik di Aceh. Tapi, teman-temanku yang mengalami pengalaman jauh lebih parah, hingga detik ini belum tahu bagaimana supaya dendam benar-benar musnah.

Jadi, kalau ada yang ingin bersimpati untuk satu daerah yang rawan konflik, berilah simpati yang menjernihkan, yang bisa menguatkan mereka bahwa perang dan kerusuhan tidak pernah baik.

Negeri ini sudah berperang ratusan tahun, dan menghadapi seabrek konflik sesama anak bangsa; semestinya kita makin dewasa. Bukan makin kekanak-kanakan, bahwa jika terjadi perang lantas akan terlihat bak jagoan.

Baca juga:
Zulfikar Akbar