Jangan Biarkan Iklan Menyesatkan-mu

Jangan Biarkan Iklan Menyesatkan-mu
Ilustrasi: IST

Nalar PolitikDyna Herlina S, Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Yogyakarta, mengimbau pemerintah untuk mengupayakan pendidikan konsumen. Ini penting agar mereka (konsumen) tahu bagaimana cara menghindari iklan menyesatkan, mengabaikannya, bahkan menuntut haknya dari produsen.

Hal tersebut Dyna sampaikan melalui ulasannya bertajuk Iklan Menyesatkan, Khalayak Tak Banyak Paham di Beritagar, Rabu (11/7/2018).

“Kesalahan konsumsi dapat berakibat fatal bagi jangka pendek dan jangka panjang,” urainya.

Sebelumnya, ramai pemberitaan soal teguran Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) kepada produsen susu kental manis (SKM). SKM dinilai telah menayangkan iklan menyesatkan. Ia tampilkan anak-anak dan keluarga yang seolah-olah mendapat manfaat dari SKM sebagai produk setara susu murni.

“Fenomena ini menunjukkan produsen susu memanfaatkan ketidaktahuan konsumen dengan penayangan iklan menyesatkan.”

Dijelaskan, iklan merupakan konten media yang penting lantaran kehadirannya sangat sering, kreatif, dan bisa jadi informatif. Meski begitu, publik, utamanya di Indonesia, kurang paham dalam membedakan iklan yang dapat dipercaya dan yang menyesatkan. Alhasil, banyak konsumen tertipu akibat salah tanggap.

“Semua pesan yang bertujuan memengaruhi khalayak, sejatinya, adalah iklan. Maka penting bagi khalayak untuk dapat mengenali, menganalisis, mengambil manfaat, sekaligus skeptis terhadap iklan.”

Yang Harus Dilakukan sebelum Memercayai Iklan

Meminjam kiat Malmelin, Dyna menuturkan bahwa ada 4 hal yang harus konsumen telaah sebelum akhirnya memercayai sebuah produk iklan. Di antaranya adalah informasi, retorika, estetika, dan promosi.

“Mengapa produsen produk membuat iklan? Karena mereka ingin menginformasikan produknya pada khalayak. Sehingga produk itu dikenal, dikonsumsi, dan direkomendasikan.”

Tentu benar. Melalui iklan, konsumen dapat mengetahui kualitas dan reputasi suatu merek produk. Sayangnya, sering orang (konsumen) bertindak fatal dengan menganggap bahwa produk yang kerap diiklankan itu adalah produk terpercaya.

“Khalayak perlu menggunakan berbagai sumber informasi dan menilai kebenaran informasi. Jangan gunakan iklan sebagai satu-satunya sumber informasi suatu produk.”

Kedua adalah estetika. Banyak iklan yang tampil dengan menggunakan cerita-cerita yang menyentuh hati. Ada pula dengan humor, tokoh terkenal, dan bahkan melanggar etika, seperti pseudo sains, kekerasan, dan pornografi.

“Pembuat iklan secara sengaja menempatkan strategi, tujuan, sasaran pemasaran suatu iklan. Mereka mengatur tata bicara agar dapat membujuk calon pembeli dengan senyum, rayuan, dan pujian.”

Yang ketiga adalah estetika. Produsen sering menayangkan iklan dengan tampilan-tampilan paling memukau. Dengan biaya mahal, mereka merancang dan mengeksekusi secara teliti semua aspeknya, seperti suara dan gambar. Tak jarang konsumen terkelabui dari sini.

“Secara emosional, hati konsumen merasakan perasaan positif terhadap produk. Pada saat yang sama, dorongan spontan terjadi, sehingga ingin mengonsumsi produk tersebut.”

Dan yang terakhir, yakni promosi. Ini marak terlihat, terutama di media seperti televisi dan koran, pada ruang dan waktu yang khusus.

“Iklan juga bisa diselipkan pada konten berita, hiburan, acara sosial, seni, olahraga, dan sebagainya.”

Siapa Harus Bertanggung Jawab?

Terhadap maraknya iklan menyesatkan, siapa yang harus bertanggung jawab?

Pertama dan utama, produsen aneka produk. Selain itu, pemilik media, Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (PPKI) Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), dan Lembaga Sensor Film (LSF) juga tak bisa lepas tangan.

“Mereka perlu berkontribusi terhadap penayangan iklan yang etis dan bertanggung jawab.”

Dan, yang juga paling utama, adalah kosumen itu sendiri. Ia pun harus mampu bertanggung jawab atas segala pilihan yang ditentukannya. Ya, selain pemerintah yang juga harus mengupayakan pendidikan konsumen secara memadai.

___________________

Artikel Terkait: