Jangan Salahkan Hayati

Jangan Salahkan Hayati
Foto: Tribun

Hayati memang tidak seperti Anna dalam film Ketika Cinta Bertasbih; juga tidak seperti Aisyah dalam film Ayat-Ayat Cinta. Karena keduanya hidup dalam lingkungan pengamal religius yang tinggi.

Itulah sebabnya kisah keduanya dibangun di atas gesekan personal yang hanya melibatkan internal kecil. Kisahnya kehilangan sensasi yang memicu adrenalin karena memang kumpulan individu dalam film itu tidak mempertontonkan entitas yang berbeda.

Beda halnya dengan Hayati, ia hidup di masyarakat sinkretisme dengan pengamalan adat istiadat yang tinggi. Diskriminasi kebudayaan menjajah kedaulatan cintanya, hingga ia menyerah pada sistem budaya itu sendiri.

Ia menjadi menarik karena cintanya menjadi terlarang; bukan hanya karena ditentang adat, malah ditambah dengan pertentangan kelas. Zainuddin, yang digambarkan sebagai pemuda yang beragama, terpelanting karena ia tidak ningrat.

Kompleksitas dan keutuhan problem yang dialami oleh Hayati membawa ia pada suatu persinggahan yang tidak normal. Tersiksa batin serta fisiknya. Bahkan lebih mengecawakan lagi, tangan yang ia pinta untuk mencabut penderitaan dari akarnya berlepas diri darinya. Zainuddin, dengan dendam, cintanya tiba-tiba bengis menambah sayatan luka.

Sepintas lalu, kita akan menuduh Hayati sebagai dalang dari rentetan pilu panjang ini. Bila diteliti secara detail dan memahaminya bukan hanya dengan kasat mata, saya berani jamin, pangkal segala derita ini adalah Zainuddin.

Betapa tidak, hal ini bisa dilihat dari alam sadar Zainuddin yang acap kali menyudutkannya dalam percakapannya tanpa sedikit pun menaruh curiga kepada kebudayaan.

Baginya, Hayati adalah penyebab utama. Dalam benaknya, ia ibarat gulma berkedok bunga yang menjalar membalut sukma.

Andai saja Zainuddin membuka mata, tentunya ia sadar bahwa, dari awal, sinyal buruk sudah di-tethering oleh mamak-niniknya. Namun tetap saja kealpaan Zainuddin membaca itu membuatnya buta.

Dalam bahasa tajam nan kejam, ia meluapkan segala dendam cintanya yang dijawab isak tangis seorang perempuan tak berdaya. Karakter Zainuddin tidak menggambarkan cowok berjiwa besar. Bahkan ia sengaja berusaha untuk kaya demi memuaskan dahaga kebencian dan alat untuk membanting Hayati di depannya.

Padahal ia dari awal tidak melihat itu. Bahkan ia pernah mengatakan kata setuju sebelum Zainuddin jadi orang kaya, malah ketika ia tidak punya siapa-siapa untuk berdialektika rasa.

Zainuddin, yang katanya sastrawan, sebenarnya tidak bisa membaca bahasa surat Hayati dengan seluruh konteksnya. Ia selalu meyakini teks yang tersurat tanpa membaca makna yang tersirat.

Pada akhirnya Hayati tenggelam dalam lautan luka tanpa sempat merasakan seteguk cinta yang sesungguhnya. Walau demikian, ia dapat membaca makna di surat terakhirnya dengan jelas. Ia menyebutkan tidak memiliki dendam. Bahkan ia meraba setiap kalimat amarah yang dikeluarkan Zainuddin sebagai bukti cinta itu masih ada.

Pendek kata, Zainuddin dalam kisah Tenggelamnya Van Der Wijck itu memperlihatkan figur lelaki yang dangkal dalam pengalaman cinta. Tak lebih hanya sekadar anak remaja yang larut dalam simbol kata.

Sejatinya, jika ia memang seorang pejuang cinta, Hayati tidak semenderita ini, dan sudah mendengar kata kerelaan Zainuddin atas kekhilafan yang terjadi sebelum ia tenggelam dan tutup usia.

Zainuddin bukan pencinta, tetapi sosok angkuh dan munafik. Bagi siapa saja yang merasa seperti Zainuddin, bertaubatlah.

    Suheri Rangkuti

    Kandidat Doktor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

    Latest posts by Suheri Rangkuti (see all)