Jangan Takut Berpolitik!

Jangan Takut Berpolitik!
©Instarix

Selama kaum terpelajar kita melihat bahwa perjuangan kemerdekaan sebagai masalah akademi saja, selama itulah perbuatan-perbuatan yang diharapkan itu kosong belaka. Biarlah mereka melangkah keluar dari kamar belajar menceburkan diri ke dalam politik revolusioner yang aktif. ~ Tan Malaka, Aksi Massa

Tan Malaka benar. Perjuangan pemuda untuk membebaskan masyarakat dari ketertindasan penguasa hanya akan tercapai manakala pemuda mampu terlibat aktif dalam politik. Menceburkan diri dalam gelanggang politik merupakan sikap yang menunjukan adanya keinginan untuk melakukan perubahan.

Karena alasan demikian, politik menjadi satu-satunya jalan untuk menjawab berbagai tuntutan pemuda. Sehingga politik menjadi pintu masuk bagi pemuda untuk memenuhi tuntutan mereka. Tanpa melalui jalan politik, tuntutan pemuda hanya sebuah keniscayaan.

Beberapa waktu belakangan ini, pergerakan pemuda begitu stagnan. Pemuda merasa pesimis dan takut untuk terlibat secara aktif dalam politik.

Barangkali karena situasi politik di tanah air yang sudah makin tak karuan. Sehingga pemuda menarik diri keluar dari arena politik. Hal demikian justru bukan pilihan yang tepat dalam membebaskan masyarakat dari bentuk ketertindasan. Pilihan sikap seperti itu merupakan suatu bentuk kekeliruan pemuda dalam memandang politik.

Jika demikian halnya, segala bentuk penindasan akan terus terjadi karena yang diharapkan (pemuda) tidak hadir untuk melawan bentuk ketertindasan. Ruang politik menjadi satu opsi yang dapat melawan segala bentuk ketertindasan menuju kebaruan masyarakat. Di titik ini mesti pemuda menyadari bahwa meninggalkan gelanggang politik dan bersikap apolitis bukan merupakan pilihan yang rasional, tetapi pilihan tersesat dan dangkal.

Jangan takut berpolitik! Sebuah kalimat yang menyerukan kesadaran bagi pemuda untuk bangkit dan melanjutkan estafet perjuangan melalui kanal politik.

Meskipun lanskap politik selalu menyajikan ketidakmungkinan bagi aktor politik, tetapi kesadaran pemuda harus mampu melampaui sisi-sisi kemustahilan politik. Dengan begitu, skala perjuangan pemuda dalam arena politik tidak mudah terjerumus dalam kepentingan pragmatis yang dapat merusak citra politik. Tetapi mampu mendongkrak tatanan lama dalam politik yang selama ini dihuni oleh kelompok-kelompok yang mengatasnamakan dirinya ‘politisi’.

Tatanan lama harus dirubah, dan pilihan untuk berubah hanya datang dari kesadaran pemuda yang pikirannya berangkat dari sebuah keyakinan bahwa politik tidak melulu soal kekuasaan, tetapi yang paling mulia soal kemanusiaan.

Politik sebagai Jalan Pembebasan

Saya sependapat dengan Jean Hollands, “orang-orang yang mengatakan ‘saya tidak berpolitik’ berada dalam bahaya besar. Hanya yang paling kuat yang akan bertahan hidup; dan yang paling kuat adalah orang-orang yang mengerti politik kantornya.”

Mesti perlu diingat, kalimat Hollands menunjukan suatu cara pandang yang menempatkan politik sebagai satu bahaya besar bagi mereka yang apolitis. Hal ini sangat berkorelasi, mengingat segala keputusan dalam negara, baik yang menyangkut kehidupan kelompok maupun individual, semuanya ditentukan oleh keputusan politik.

Bahkan jika kita kembali kepada khazanah politik Yunani Kuno, deretan pemikir seperti Socrates, Plato, Aristoteles, dan yang lainnya selalu menegaskan secara eksplisit bahwa semua kehidupan manusia tidak bisa dilepas-pisahkan dari politik. Melalui jalan politik, setiap orang bebas berekspresi dan menentukan eksistensi.

Sejak Indonesia masih dijajah oleh kolonialisme dan imperialisme asing, sejak itu sebetulnya kita sudah ditindas oleh politik. Meskipun Sumpah Pemuda sudah mulai didengungkan pada waktu itu, namun tetap saja kita tidak mampu menggeser politik yang terus menghimpit kemanusiaan kita. Begitu pula di rezim Orde Lama dan Orde Baru, politik selalu menjadi kekuatan yang dapat membelenggu semua kebebasan.

Namun, seperti yang Karl Marx katakan, ‘kaum buruh suatu hari nanti akan bersatu melawan kapitalisme melalui jalan revolusi’. Dan ramalan Marx itu ada benarnya, di mana imperialisme dan kolonialisme akhirnya tumbang melalui jalan revolusi.

Baca juga:

Begitu pula tumbangnya Orde Lama dan Orde Baru atas desakan masyarakat yang sudah muak dengan rezim yang otoriter dan totaliter. Semua tumbang karena berkat kesadaran politik rakyat yang sudah dibangun dan dilandaskan pada kebebasan untuk hidup sebagaimana layaknya. Di sini kita dapat menyimpulkan, bahwa untuk menghancurkan tatanan lama, politik menjadi pilihan yang dapat dibenarkan.

Untuk itu, pemuda harus mampu mengembalikan kesadaran konstruktif dalam politik. Sejarah telah membuktikan, bahwa pembebasan hanya akan tercapai manakala kita terlibat dalam politik.

Hari ini kita lagi-lagi menemukan fakta menarik, di mana kekuatan pemuda (mahasiswa) kembali menyerukan suatu kebebasan. Menolak RUU KPK dan RKUHP merupakan bagian dari kesadaran politik pemuda yang dibangun untuk meneruskan cita-cita awal negeri Indonesia.

Aksi pemuda menunjukkan suatu gambaran yang secara luas dapat dipahami, bahwa pemuda merupakan representasi dari masyarakat yang selama ini termarginalkan oleh elite-elite negara. Untuk alasan tersebut, kehadiran pemuda merupakan suatu bentuk protes keras kepada petinggi negara yang sok merakyat tetapi sangat meraja.

Pemuda di tanah air melakukan aksi-aksi demonstrasi sebagai bentuk ketidakpercayaan publik (public distrust). Suatu sikap politik yang menunjukkan betapa pemuda harus mampu terlibat secara aktif dalam arena politik. Untuk itu, pemuda harus mampu meresapi tujuan dan makna politik. Sehingga pemuda tidak mudah terdepak dari tatanan politik yang ada.

Mengembalikan Semangat Pemuda

Geliat pemuda dalam berpolitik mulai menurun. Pesta demokrasi tahun 2014 dan 2019 menjadi saksi nyata, di mana pemuda nyaris kehilangan tempat dan eksistensi dalam panggung demokrasi.

Memang ini merupakan sebuah kemunduran (dekaden) pemuda dalam berpolitik yang harus diakui bahwa politik tanpa pemuda hanya akan menjadi sebuah percaturan yang biasa dan basa-basi. Kealpaan pemuda dari gelanggang politik menjadi sorotan yang tidak bisa disepelekan, mengingat politik membutuhkan napas baru serta pandangan-pandangan baru dari pemuda.

Tanpa menyadari hal demikian, sebetulnya politik hanya akan dipenuhi dengan berbagai macam racikan bumbu dari para politisi terdahulu yang sebetulnya pandangannya sudah usang. Pemuda harus kembali merebut semangat lewat politik. Hanya dengan itu, sajian kebijakan kepada masyarakat akan mendatangkan kemanfaatan.

Kemunculan anak-anak muda dalam perpolitikan Indonesia adalah sebuah keniscayaan jika kita ingin memperbaiki mutu persaingan politik. Mereka akan menjadi kekuatan “disruptif” yang memaksa kekuatan-kekuatan politik lama yang selama ini ada di “zona nyaman” (comfort zone) untuk berubah. (Andy Budiman; Opini Kompas, 20/08/19)

Ini merupakan suatu pesan yang ingin disampaikan kepada anak-anak muda untuk melihat, meleburkan diri, dan memperbaiki politik lama yang diisi oleh kelompok-kelompok lama yang tidak pernah menjangkar menuju perubahan. Hadirnya pemuda dalam gelanggang politik tidak hanya sebatas membawa ide-ide baru, tetapi juga membawa suatu perubahan bagi politik yang maju dan berkeadaban.

Patrisius Jenila
Latest posts by Patrisius Jenila (see all)