Janganlah Terlalu Memaksakan Jokowi Berbahasa Inggris

Janganlah Terlalu Memaksakan Jokowi Berbahasa Inggris
Foto: Setkab

Seorang post-theist freethinker bernama Daemon punya usulan khusus untuk Presiden Jokowi, terutama bagi para pendukungnya. Ia mengharap agar mereka tidak terlalu memaksakan Jokowi untuk bisa, apalagi fasih, menggunakan bahasa Inggris di forum-forum internasional.

“Saya usulkan, janganlah terlalu memaksakan Jokowi untuk berbahasa Inggris. Pakailah penerjemah seperti Perdana Menteri Shinzo Abe,” kicaunya melalui akun Twitter @Mentimoen.

Hal tersebut sebagai respons atas artikel Presiden Fasih Berbahasa Inggris, Luhut Beberkan Bukti. Ia mengambil contoh PM Abe yang senantiasa berbahasa Jepang. Walau bisa berdialog dengan semua kepala negara lain secara personal, namun PM Abe selalu menggunakan bahasa ibunya.

Bukan tanpa alasan kenapa @Mentimoen menganjurkan hal demikian. Selain komunikasi akan lebih baik jika Jokowi berbahasa Indonesia dan diterjemahkan ke bahasa yang mudah dimengerti pendengar internasional, itu juga bisa jadi ajang memopulerkan Bahasa Indonesia di panggung dunia.

“Ajarkan dunia berbahasa Indonesia sedikit-sedikit. Ini bahasa eksotik kok. Menarik untuk dimengerti.”

Di zaman Soekarno, kisah selebtwit ini lebih lanjut, banyak lagu-lagu Indonesia yang cukup mendunia. Contohnya adalah lagu Rasa Sayange, Bengawan Solo, Butet, dan lain sebagainya.

“Pernah ketika ada keperluan di Cina, lewat taman-taman sono sering dijadikan tempat menari, mengaso, main catur, atau menyanyi oleh warga setempat. Saya mendengar lagu Butet dinyanyikan oleh seorang wanita setengah baya. Saya terdiam dan sangat terharu.”

Tetapi zaman kini, makin sedikit kebanggaan macam itu yang tersisa. Mungkin juga, kata @Mentimoen, karena serangan budaya Timur Tengah.

Oleh karena itu, ia mengimbau agar Presiden Jokowi, khususnya, gemar menggunakan Bahasa Indonesia di panggung internasional. Jokowi diharapkan bisa memopulerkan istilah-istilah sederdahana yang gampang diingat, seperti “Selamat Pagi”, “Selamat Malam”, “Sampai Jumpa”, Terima Kasih,” Selamat Jalan”, “Aku Cinta Kamu”, dan lain sejenisnya.

“Kita sudah tentu bagus belajar bahasa-bahasa lain, seperti Inggris, Mandarin, Spanyol. Tetapi jangan sampai bahasa sendiri terlupakan. Bahasa dan budaya lokal itu identitas. Jika identitas hilang, itu seperti daun kering jatuh dari pohon (lalu) terbang tidak tentu arah,” tekannya.