Janji Politikus Desa

Janji Politikus Desa
Ilustrasi: IST

Saat beku, kata hati terinjak-injak. Rasanya kata kepercayaan pun akan lenyap akibat janji politikus desa yang tak tertunaikan.

Mungkin orang dewasa selalu menganggap bahwa anak-anak tak mengerti apa pun. Mereka hanya bisa mendengar, hanya bisa melihat, tapi tak pernah bisa memahami apa pun tindakan yang dilakukan orang tua.

Mereka seolah tak tahu bahwa kedewasaan seseorang tak diukur dari umur seseorang, tapi kedewasaan seseorang itu dilihat dari bagaimana ia mengambil tindakan dalam setiap masalah yang dihadapinya. Anak SD sekalipun bisa dikatakan dewasa jika ia punya pemikiran yang baik.

Semuanya berawal saat aku duduk di bangku MTs. Saat itu datang seorang tetangga yang mendata. Katanya, dia mendata untuk program perbaikan rumah.

Mendengar itu, nenekku yang sudah rentah begitu bahagia mendengar ucapan orang tersebut. Semuanya jelas terlihat dari raut wajahnya yang kuperhatikan. Aku yang melihatnya ikut tersenyum, padahal tak mengerti apa pun.

Saat telah duduk di bangku SMA, entahlah apa yang terjadi di masa lampau. Seutas senyum bahagia yang dulu kulihat, kini digantikan raut wajah suram tangisan tanpa air mata. Rasanya aku bisa merasakannya meski nenekku yang telah renta ini tak berucap apa pun. Rasanya aku mendengar isak tangisnya meski tak setetes air mata pun yang menetes di pipinya.

Raut kekecewaan terlihat begitu jelas. Kekecewaan terhadap kata harapan dengan janji politikus yang manis penuh senyum bak bunga mawar. Saat tetanggaku dulu berucap katanya dari pemerintahan desa, yang berucap janji manis insyaallah nenekku akan menerima bantuan pemerintah berupa perbaikan rumah, kini hanya tersisa kenangan manis berakhir kekecewaan.

Bagaimana tidak, janji politikus yang terucap dulu itu tak sesuai dengan realita kenyataan yang sedang dihadapi. Bantuan pemerintah setempat memang telah ada dan sedang dalam tahapan pelaksanaan, tapi nenekku yang menerima janji politikus itu hanya bisa menyaksikan semuanya namun tak bisa merasakan semuanya.

Katanya program bantuan pemerintah untuk nenekku berupa perbaikan rumah telah dicabut, dengan alasan rumah nenekku telah diperbaiki. Padahal pemerintah desa dengan jelas mengetahui bahwa rumah nenekku tak pernah diperbaiki. Bahwa yang terjadi sebenarnya adalah rumah nenekku yang tadinya berada di depan jalan raya kini digeser ke belakang karena alasan anak tertua nenekku membangun sebuah rumah yang kemudian disambungkan dengan rumah nenekku dikarenakan luas tanah yang tidak mencukupi jika diberi jarak yang cukup jauh.

Bahkan pihak pemerintahan setempat dengan jelas mengetahui bahwa Kartu Keluarga tak pernah kami satukan. Bahwa dapur nenekku dan dapur anak tertuanya tak berada pada tempat yang sama.

Tapi rasanya percuma menjelaskan semuanya. Mereka (pihak pemerintahan) dengan jelas telah menutup mata dan telinga mereka. Nenekku yang sudah rentah ini hanya bisa menelan ludah, berusaha mengikhlaskan semuanya, namun ketika sendiri, dengan lancar dia akan mengeluarkan protesnya kepada pemerintah setempat dengan kata-kata yang pedas bak ingin menerka mereka semua.

Aku yang hanya bisa menyaksikan semuanya, mulai sedikit mengerti permasalahan yang ada di depan mata. Mungkin kekecewaan yang dirasakan akan sedikit berkurang jika pemerintah setempat ingin mendengarkan keluh kesah yang dirasakan nenekku. Tapi tidak sama sekali, bahkan sekadar melihat pun mereka tak sudi.

Sedangkan terlihat dengan jelas para orang pemerintahan ini telah mengganti nama nenekku. Yang lebih menyakitkan dengan jelas kami menyaksikan bahwa pengganti nama nenekku dalam data tersebut adalah ibu dari orang yang datang mendata nenekku dulu.

Padahal dengan jelas data tersebut telah lama dikumpul. Bagaimana mungkin orang yang baru didata langsung datang bantuannya? Semuanya terlihat begitu jelas permainan politik yang mereka mainkan, berusaha menbodohi kami yang tak berdaya.

Entahlah, tapi kenyataan yang dihadapi membuatku membuka mata lebar-lebar, menelaah setiap sudut ruang pemerintahan yang ada di desaku, memperhatikan setiap permainan politik para politikus desa dengan seuntai senyum yang selalu ditebar namun sesungguhnya menyimpan niat terselebung yang tak baik.

Mungkin lewat kejadian ini baru kusadari bahwa pemerintahan mereka dijalankan berdasarkan asas kekeluargaan. Bayangkan saja dari seluruh aparat desa hampir semuanya merupakan keluarga kepala desa. Mulai dari sekretaris sampai satpam sekalipun, semuanya merupakan keluarga kepala desa.

Entahlah, tapi sekali lagi rasanya perih menghadapi semua kenyataan yang terasa mencabik tubuh. Rasanya seperti mati rasa melihat semua kenikmatan bantuan pemerintah, tapi kami hanya bisa melihat tanpa bisa mencicipinya.

Mungkin seperti inilah yang dirasakan orang-orang di luar sana, yang tak punya tempat tinggal. Mereka hanya bisa melihat kemewahan di sekeliling mereka, namun tak dapat menyentuhnya. Rasanya mungkin lebih baik dijajah oleh orang yang berasal dari negeri tetangga, daripada terjajah oleh pemerintah sendiri, memberikan janji semanis madu, yang menimbulkan kata harapan di dalam hati namun pada akhirnya tak juga ditempati.

Rasanya mungkin seperti terjajah tapi bukan lagi orang-orang yang berasal dari negeri tetangga, tapi rasanya dijajah oleh orang yang kita percayakan akan mendengarkan keluh kesah kita, tapi justru merekalah yang diam-diam hanya duduk tak berpangku tangan ingin menikmati kekuasaan yang mereka punya, tanpa pernah memikirkan mereka yang masih di bawah.

Kata kepercayaan kepada mereka orang pemerintahan rasanya tak kumiliki lagi. Untuk apa memberikam kata percaya kepada mereka yang hanya ingin duduk manis di singgasana mereka tanpa ingin menoleh kepada kami yang begitu berharap namun pada akhirnya hanya berbuah kekecewaan?

#LombaEsaiPolitik

*Nuranisa, Mahasiswa Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar) jurusan Pendidikan Matematika Angkatan 2017

___________________

Artikel Terkait:
    Latest posts by Peserta Lomba (see all)