Janji

Janji
©Blogspot

Di samping aku harus menepati janji, aku harus menjaga keseimbangan persahabatan antar-keluarga ini.

Tepat di bawah lembayung sore di atas rel kereta, tempat biasa kita berempat berkumpul, tiba-tiba Viola berbicara kepadaku bahwa hari ulang tahunnya tinggal beberapa hari lagi.

Selama perjalanan pulang pikiranku masih berjibaku memikirkan apa yang harus kuberi di hari ulang tahunnya, apakah harus buku-buku kesukaannya atau cokelat biasa layaknya teman-teman. Namun setelah sampai di depan rumahku, pikiranku sejenak terdiam, dan apa yang baru saja kulihat dan dengar adalah akar dari semuanya.

Kisahku dimulai dari pertama kalinya aku bertemu Viola. Dia gadis pendiam namun agak sedikit anggun. Sekilas dia akan terlihat garang, namun setelah kukenal perlahan ternyata dia gadis penyayang binatang, suka bergurau, dan lebih parahnya dia maniak buku.

Dia tak bisa hidup tanpa buku. Setiap hari dia bisa 5 sampai 10 buku yang dilahapnya habis. Sayangnya dia tak pernah punya banyak teman. Barangkali temannya adalah semua buku yang dia punya dalam perpustakaan pribadinya.

Awalnya aku segan, gegara auranya yang pendiam dan penuh karisma. Bahkan berkali-kali teman yang lain mencoba menngakrabinya, akhir usaha mereka hanya akan dipandang sinis olehnya. Untungnya dia punya sahabat sejati yang dipertemukan oleh masing-masing orang tua kita.

Di hari pertama masuk sekolah kita sudah dikasih tahu oleh masing-masing orang tua kita. “Nanti kau akan berteman dengan anaknya teman ibu ya,” ujar masing-masing ibu kita.

Entah apa yang telah terjadi di antara mereka, pada intinya mereka punya hubungan erat antara satu keluarga dengan yang lain.

Kami berempat dua laki-laki, dan sisanya perempuan. Umur kami relatif sama. Buktinya dari awal SMP kita sudah satu kelas.

Perkenalkan namaku Alex, dia Kevin dan Nia serta Viola. Kami sudah seperti satu keluarga. Suktinya setiap keluarga yang mengadakan acara, pasti masing-masing dari keluarga akan diundang, dan di situlah momen tebaik dari empat keluarga berkumpul yang tak punya ikatan darah, namun begitu erat layaknya saudara kandung.

Kedua orang tua kita bertemu di masa perkuliahan dulu, yang akhirnya mereka terus menjalin hubungan sampai berujung pernikahan, dan sampai pada akhirnya juga mereka punya anak dan mempertemukan kita yaitu anak-anaknya.

Halaman selanjutnya >>>

    Latest posts by Ahmad Reza Wibowo (see all)