Jejak Kaki dan Tapak Tangan Jokowi Sudah Membekas

Jejak Kaki dan Tapak Tangan Jokowi Sudah Membekas
Presiden RI Joko Widodo

Jejak kaki dan tapak tangan Jokowi akan terus membekas dalam hati Anda dan saya. Karena jejak itu sudah ditancapkan selama tiga tahun hingga detik tulisan ini ditulis.

Nalar WargaJokowi terus diserang dan disudutkan. Ia dianggap presiden yang gagal, dan dengan demikian, tidak layak lagi memimpin Indonesia. Jokowi diserang dari kiri-kanan, muka-belakang, seolah tak ada ruang sedikitpun bagi pembelaan diri.

Tetapi, sesungguhnya presiden kita ini memang tak perlu ruang untuk membela diri. Ia sudah berjalan di altar yang tepat. Orang-orang yang terus menyerang dirinyalah yang harus sadar dan “kembali ke jalan yang benar”.

Mereka lupa bahwa fakta kebenaran dan data statistiklah yang akan menampilkan kenyataan yang sebenar-benarnya, bukan dari omong kosong yang mereka sebarkan.

Tak puas dengan upaya-upaya menjatuhkan Jokowi, baik yang vulgar maupun halus terselubung, orang-orang ‘gila kekuasaan’ ini tak malu memakai cara-cara tak terpuji lainnya demi satu tujuan: Jokowi tak terpilih lagi.

Lantas isu dan propaganda apa yang dapat memengaruhi warga biasa secara masif? Apa lagi kalau bukan SARA. Tante SARA masih laris manis dijual.

Mulai dari penyebaran berita hoax hingga beragam fitnah terus saja ditiup ke dunia jagad maya. Fitnahan isu PKI, tukang ngibul, dagang kaos sablonan, sampai kepada penjualan aset negara adalah senjata yang terus dipakai hari ini untuk melemahkan posisi Jokowi.

Padahal banyak keberhasilan Jokowi yang sangat nyata, yang oleh mereka semua dianggap sama sekali tidak ada. Sebuah sikap yang menurut saya (maaf) sangat egois dan super tolol bin blekok!

Mereka lebih mengagungkan Soeharto yang membawa uang negara sekitar AS$15-35 miliar, atau SBY yang tidak bisa apa-apa selain cukup prihatin dan buat album, terlebih tidak ada yang tahu setiap potongan dana bantuan sosial yang masuk dari luar dan dalam negeri untuk bencana alam dijaman pemerintahan SBY, sampai-sampai SBY memiliki YAYASAN.

Jokowi membangun bandara, pembangkit listrik 35.000 MW, menyeriusi pemberantasan narkoba, pemberantasan illegal fishing, pemberantasan mafia minyak dan mafia-mafia lainnya, mempercepat pembangunan tol laut, MRT & LRT, waduk, jembatan, dan berbagai jalan tol di daerah-daerah. Itu yang kasat mata.

Namun, rupanya masih banyak orang buta matanya. Buta hatinya juga. Mereka lebih sibuk percaya bualan kaum yang mengaku-ngaku pemilik tunggal kunci surga. Terpukau pada sensasi, tetapi abai menikmati esensi sebuah jejak.

Ketika Jokowi menjadi presiden, Anda tentu mafhum bahwa ekonomi Indonesia sesungguhnya sudah berada di jurang kebangkrutan. Banyak yang menyebutnya keadaan yang sudah insolvent.

Sejak tahun 2012, total penerimaan negara dikurangi belanja sudah defisit. Selama itu, presiden sebelumnya hanya melakukan ‘tindakan pengamanan’ dengan gali lobang tutup lobang melalui permainan anggaran, agar supaya utang lebih dulu dibayar biar tatkala tutup buku kinclong tampilannya.

Pada tahun 2014, mau tidak mau, pasar akhirnya jadi tahu juga bahwa rupanya fundamental ekonomi Indonesia begitu lemah. Ibarat durian, disimpan bagaimanapun, pasti baunya tercium. Apalagi durian yang disimpan di tengah-tengah pasar.

APBN kita pun dinilai tidak kredibel. Apalagi dalam APBN perubahan 2014, defisit primer sudah menjadi sekitar Rp 111 triliun.

Masalah yang turun-temurun terjadi adalah bahwa pemerintahan kita itu sangat pintar dalam menjalankan “politik ngutang”. Hebat banget. Tetapi, amat tidak pintar dalam mengelola utang. Pintar dalam menampung utang, namun bodoh dalam membelanjakan utang. Akibatnya, bukannya surplus, malah minus berkelanjutan.

Namun, tidak demikian dengan Jokowi. Presiden kita ini sangat percaya pada penyelesaian persoalan yang melilit dan membenahi langsung dari akar-akarnya. Ia tidak sekadar gali lobang tutup lobang biar terlihat ‘bagus’. Tidak seperti itu.

Lalu bagaimana? Caranya adalah dengan tidak melanjutkan belanja yang tidat tepat sasaran. Utang tetap perlu.

Negara sekaya Amerika, Jepang, China, Arab Saudi saja masih tetap berutang dengan nilai yang fantastis bombastis dilematis tis tis. Tetapi, yang dipertegas adalah untuk apa utang itu digunakan.

Utang harus benar-benar dipakai untuk sesuatu yang tepat sasaran. Misalnya, pembangunan infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan masyarakat. Itulah yang dilakukan Jokowi.

Hal lain yang dilakukan Jokowi adalah menghapus ketergantungan pada subsidi. Ketika Jokowi tega menghapus subsidi BBM tempo hari, itu bukanlah karena dia tidak mencintai rakyatnya. Sama sekali bukan itu. Penghapusan subsidi adalah satu-satunya cara agar negara ini tetap jalan dalam keadaan terhormat.

Obama saat itu pernah memberikan apresiasi dan pujian kepada Pemerintah Indonesia. Kenapa dipuji? Ya jelaslah, jurus memangkas subsidi BBM adalah sebuah langkah berani, tetapi tidak populis. Apalagi ketika pilpres sudah semakin mendekat, banyak yang tentu akan menghujat kebijakan itu dan bisa jadi tidak memilih Jokowi lagi.

Tetapi, ini langkah luar biasa yang harus diambil Jokowi. Sebab masalah subsidi BBM bakalan terus membebani anggaran negara hingga ratusan triliun rupiah.

Dengan memangkas subsidi, pemerintah bisa mengalihkan dana tersebut untuk membangun infrastruktur. Dari sisi infrakstruktur, Jokowi juga serius memeratakan pembangunan infrastrukturnya untuk tidak hanya terpusat di Pulau Jawa. Hari ini, pembangunan infrastruktur sudah begitu merata di seluruh Indonesia.

Jokowi juga telah melakukan reformasi APBN yang sangat bijak, meskipun gaungnya bagaikan petir di siang bolong. Dunia usaha dan para elite politik terkejut. Kenapa? Oleh karena kebijakan ekonomi harus bertumpu kepada pendapatan real yang tidak didistorsi.

Sekarang, Anda lihat, dalam tiga tahun kepemimpinan Jokowi, APBN kita akhirnya dinilai kredibel oleh institut-institut keuangan. Hukum alamnya jelas dan sangat sederhana: ketika APBN sehat, maka pasar akan bereaksi positif.

Pujian Pihak Luar

Bukan hanya Obama yang pernah memuji apa yang telah dilakukan pemerintahan Jokowi. Banyak pihak luar memuji Indonesia. Sementara dari dalam, banyak hujatan dan fitnahan yang justru terus bermunculan.

Director of Global Indicators Group Bank Dunia, Augusto Lopez Claros, memuji upaya serius pemerintah Indonesia memperbaiki kemudahan berusaha, terutama yang ditujukan untuk usaha kecil menengah. Anda bisa cari tauh melalui Google bahwa indeks kemudahan berbisnis di Indonesia pun meningkat cukup signifikan. Ini salah satu tanda bagus investor luar melirik Indonesia untuk berinvestasi.

Lalu, apresiasi lain datang dari World Bank (Bank Dunia). Bank Dunia menilai bahwa paket kebijakan ekonomi pemerintah Jokowi merupakan kunci bagi Indonesia untuk dapat keluar dari krisis ekonomi global.

Akibat adanya paket kebijakan ekonomi ini, Indonesia mampu mempertahankan pertumbuhan ekonominya secara stabil hingga hari ini. Meskipun dari dalam bermunculan berita hoax bahwa pemerintah Indonesia sementara menjual aset karena akan mengalami kebangkrutan.

Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Christine Lagarde juga tak mau kalah dalam memberikan pujian atas berbagai kebijakan ekonomi yang diterapkan serta dijalankan Jokowi. Christine menilai Indonesia memiliki ketahanan ekonomi yang tangguh.

Ekonomi Indonesia masih mampu tumbuh di tengah perekonomian global yang tengah lesu. Fondasi ekonomi Indonesia sangat bagus. Inilah salah satu modal dasar bagi perekonomian Indonesia ke depan. Sebuah kondisi yang sama sekali nggak terlihat oleh orang-orang yang buta mata dan hatinya.

Masih ada yang lain? Banyak! Oleh media top Inggris, The Telegraph, Indonesia juga telah ditetapkan sebagai salah satu dari 20 negara dengan pertumbuhan paling cepat di sektor pariwisata. Dikatakan mereka bahwa pertumbuhan pariwisata Indonesia dalam kurun waktu Januari-Agustus 2017 telah mencapai 25,68 persen. Sedangkan industri sejenis di kawasan ASEAN hanya tumbuh 7 persen. Sementara itu, untuk ukuran dunia, hanyalah berkembang sebesar 6 persen. Jauh.

Maka, bila dibandingkan dengan negara-negara seperti Malaysia, Singapura dan Thailand, jelas banget bahwa Indonesia jauh lebih unggul dalam hal turisme atau pariwisata. Tourism Branding ‘Wonderful Indonesia’ dan Paket Destinasi dengan berbagai penghargaan internasional yang sudah diraih Indonesia adalah juga fakta betapa bangsa ini semakin diperhitungkan di tingkat dunia.

Indeks Daya Saing Pariwisata Indonesia menurut World Economy Forum (WEF) menunjukkan perkembangan sangat bagus. Peringkat Indonesia naik 10 poin dari 50 pada tahun 2015 menjadi 42 pada tahun 2016, dan naik lagi pada tahun 2017.

World Bank mencatat, hanya dengan investasi di industri pariwisata sebesar US$1 juta mampu menyumbang 170% dari PDB. Ini merupakan dampak ikutan tertinggi suatu industri kepada negaranya. Ini dikarenakan industri pariwisata mampu menggerakkan usaha kecil menengah, seperti misalnya kuliner, cendera mata, transportasi, dan lainnya. Multiplier effect.

Kemudian, S&P Global Ratings mencatat nama Indonesia sebagai negara layak investasi dengan kata kunci ‘stabil’. Di samping itu, menurut survei Ease of Doing Business (EODB) 2017 yang dilakukan World Bank-International Finance Corporation (World Bank-IFC), Indonesia menduduki peringkat 91 dari 190 negara, naik 15 peringkat dari posisi 106 di tahun 2016.

Dalam masa pemerintahan Jokowi, juga nampak adanya tren investasi di luar Pulau Jawa. Dengan kata lain juga, hal ini menunjukkan mulai bekerjanya skema membangun Indonesia dari pinggiran yang digagas Jokowi.

Jadi, janganlah kita sinis terhadap kebijakan mulia Jokowi membangun dari pinggiran, termasuk pembangunan jalan tol di daerah-daerah yang sangat diupayakan pemerintahan Jokowi dengan amat serius.

Perhatian Jokowi pada Ekonomi Kreatif

Penumbuhkembangan industri dan ekonomi kreatif juga adalah keniscayaan menurut kaca mata Jokowi. Maka itu, ia sangat menaruh perhatian untuk, misalnya, ambil contoh pada bisnis startup. Google, Microsoft, Facebook, Twitter, dan lainnya didekati Jokowi. Pemain-pemain lokal dirangkul dan disemangati secara total.

Perusahaan startup di era milenial adalah primadona. Hari ini, bila Anda ingin cepat kaya, maka bisnis ini perlu segera dilirik.

Di Indonesia, bermunculan banyak anak-anak muda dengan bisnis startup. Misalnya, ada online travel agent yang katanya berpotensi menjadi the first startup unicorn di Indonesia dengan valuasi 1 miliar USD. Ada juga stratup di bisnis kuliner yang mempertemukan antara pembeli penjual dan dapur pemasak.

Tentu masih banyak lagi yang akan terus bermunculan. Ini kesempatan. Inilah ‘market’ yang nyata-nyata dapat dikembangkan. Jokowi berpikiran jauh ke depan. Ia melihat apa yang belum dilihat banyak orang.

Mark Zuckerberg mengembangkan Fecebook saat belum genap 20 tahun. Henry Ford memulai Ford Motor di usianya yang baru 39 tahun. Colonel Sanders membuka gerai KFC pertama di umur 65 tahun. Intinya adalah bahwa orang akan mengingat karya Anda, bukan usia Anda. Maka, di mana-mana Jokowi selalu mengajak para anak muda yang punya talenta dan kecerdasan di bidang IT untuk menekuni dan serius mengembangkan bisnis startup.

Jokowi berulang kali mengatakan bahwa saat ini dunia sudah memasuki era keterbukaan dan persaingan. Semua negara sedang berlomba melahirkan berbagai inovasi di sektor teknologi digital.

“Tidak bisa ditolak. Kalau menutup diri, akan hilang daya saing,” kata Jokowi pada suatu kesempatan.

Bahkan, dari 13 perusahaan teratas di level dunia, maka akan Anda dapati ada 8 di antaranya yang bergerak di sektor teknologi digital.

Jokowi pun telah meminta kepada para menteri dan seluruh jajarannya untuk tidak mempersulit gerak pelaku e-commerce. “Startup jangan dicekik regulasi berlebihan.”

Ketika kita sudah punya Presiden seperti ini, kenapa kita kurang bersyukur? Hari ini, masih banyak yang berusaha menjatuhkan Jokowi dengan berbagai cara. Mereka berenang di air keruh dan berkubang dalam lumpur nista penyebar fitnah dan hoax hanya supaya Jokowi tidak terpilih lagi.

Padahal, ketika orang masih sibuk menghina dan menyebar fitnah serta hoax, Jokowi telah bekerja sangat keras dan cepat demi memulihkan negeri ini yang sudah belasan atau bahkan puluhan tahun dirampok secara massal.

Jejak kaki dan tapak tangan Jokowi akan terus membekas dalam hati Anda dan saya. Karena jejak kaki dan tapak tangan Jokowi itu sudah ditancapkan selama tiga tahun hingga detik tulisan ini ditulis. Mari kita lanjutkan untuk 2 periode.

*Afriyanto Arifin

___________________

Artikel Terkait: