Jeng Yah: Melawan Konstruksi Sosial-Kultural hingga Tragedi 65 yang Memilukan

Jeng Yah: Melawan Konstruksi Sosial-Kultural hingga Tragedi 65 yang Memilukan
©Detik

Beberapa hari lalu, saya menyaksikan serial Netflix yang berjudul “Gadis Kretek”. Serial yang diadaptasi dari novel dengan judul yang sama karya Ratih Kumala ini benar-benar menyayat batin saya.

Bahkan, saya rasa tidak berlebihan, serial tersebut berhasil membuat saya menangis tersedu-sedu. Seolah saya merasakan kesesakan batin atas berbagai masalah pelik dan kompleks yang dihadirkan serial tersebut, dari perjuangan seorang gadis yang ingin mendobrak konstruksi sosial-kultur, tragedi kemanusiaan 1965, hingga peliknya romansa percintaan.

Kesesakan batin yang saya rasakan, barangkali juga, tidak terlepas dari latar keilmuan saya sebagai pembelajar ilmu sejarah sekaligus peminat studi gender. Sehingga menyaksikan tayangan tersebut benar-benar membuat historical mindedness saya jalan, yakni sebuah kemampuan untuk melakukan penghayatan atas suatu peristiwa historis tertentu.

Meskipun serial tersebut diangkat dari sebuah novel, namun di dalamnya mengandung setting historis. Sehingga kisah dalam serial tersebut diambil dari sebuah novel bergenre fiksi-historis yang juga sarat akan kritik sosio-kultural.

Perempuan sebagai Agensi Perubahan

Salah satu faktor terjadinya ketidakadilan sosial adalah ketidakadilan gender, itulah ungkapan cendikiawan Mansour Fakih dalam “Analisis Gender dan Transformasi Sosial” (1996).

Ungkapan Fakih tersebut terefleksikan dengan baik oleh sosok Jeng Yah yang dalam serial tersebut dibintangi oleh Dian Sastrowardoyo. Jeng Yah dilukiskan sebagai seorang perempuan yang begitu mencintai kretek, dan mempunyai bakat yang luar biasa dalam mengembangkan usaha kretek tersebut.

Namun, potensi Jeng Yah terhambat oleh konstruksi gender yang tidak memberi kesempatan yang sama pada perempuan. Hal itu terlihat dalam pengolahan “saus” yang akan menentukan cita rasa dan atau aroma rokok hanya bisa dilakukan oleh laki-laki.

Konstruksi sosial-kultural yang berkembang bahwa kapasitas perempuan bukan di tempat pengolahan saus, namun di dapur. Dalam serial tersebut, hobi dan bakat Jeng Yah pun dianggap aneh oleh sebagian tokoh yang ditampilkan.

Baca juga:

Secara sederhana, istilah gender sendiri dipahami sebagai konstruksi sosial-kultural atas peran jenis kelamin tertentu. Misalnya, tugas perempuan adalah “kasur, dapur, dan sumur” bukanlah bawaan perempuan, melainkan hasil dari apa yang dikonstruksi oleh masyarakat dan budaya tertentu. Sementara yang bawaan perempuan adalah hal-hal yang alamiah-biologis, seperti menstruasi, mengandung, dan lain-lain yang jelas tidak bisa dialami oleh laki-laki.

Kembali melihat sosok Jeng Yah, tampak jelas konstruksi sosial-kultural menyoal gender benar-benar menghambat segala potensi, bakat, dan kreativitas Jeng Yah. Sehingga Jeng Yah tidak leluasa, bahkan mendapat tantangan, ketika ingin mengasah dan mengembangkan bakatnya dalam menyajikan “saus” rokok.

Namun, Jeng Yah digambarkan sebagai seorang perempuan yang pantang menyerah. Dengan cara sembunyi-sembunyi, dan atas bantuan tokoh yang bernama Soeraja, Jeng Yah terus melakukan usaha dengan melakukan berbagai uji coba untuk mengembangkan varian dari saus tersebut.

Dari berbagai usaha yang dilakukan oleh Jeng Yah itulah, meski terhambat dan atau dibatasi oleh relasi gender dalam struktur masyarakat, bisa dikatakan bahwa Jeng Yah adalah sosok agensi perubahan.

Dalam Gender in the Mirror: Cultural Imagery & Women Agency (2002) yang ditulis oleh Diana Tietjens Meyers, menyebut bahwa subordinasi yang dialami perempuan bukan hanya membatasi ruang gerak perempuan untuk mengembangkan daya emansipatorisnya, tetapi juga cenderung memandang perempuan bukan sebagai subjek. Sehingga sebagai sebuah entitas, perempuan terkungkung pada struktur sosial dan kultur yang jelas menghambat agensinya. Namun, meski dihadapkan pada kondisi yang demikian, perempuan tetap memiliki agensinya.

Dalam serial “Gadis Kretek” tersebut, tekad keras dan bakat Jeng Yah dalam mengembangkan “saus” pada akhirnya membuahkan hasil. Kerja samanya dengan Soeraja, yang juga kekasihnya membuahkan varian saus yang sangat nikmat, yang mampu melambungkan perusahaan kretek Idrus yang juga ayah dari Jeng Yah.

Namun sayangnya, peristiwa mencekam terjadi, yakni tragedi 1965, yang dalam serial tersebut berdampak pada hancurnya usaha kretek Idrus dan terbunuhnya Idrus di tangan aparat. Jeng Yah sendiri menjalani hukuman “pengasingan”.

Membaca Tragedi Kemanusiaan 1965 dari Kacamata Gadis Kretek

Lalu, mengapa dikatakan bahwa tragedi 1965 berdampak pada hancurnya usaha kretek Idrus dan Jeng Yah yang harus menjalani masa hukuman pengasingan tanpa proses peradilan? Di sinilah setting historis dari kisah tersebut.

Halaman selanjutnya >>>
Cusdiawan