Jilbab dan Merayakan Otoritas Tubuh Perempuan

Jilbab dan Merayakan Otoritas Tubuh Perempuan
Irnawati

Alhamdulillah, kamu sudah dapat hidayah. Barangkali seperti ini ungkapan yang akan tertuju kepada mereka yang baru saja memutuskan berjilbab; membuat otoritas pada tubuh perempuan.

Dengan berjilbab, seakan-akan tingkat keimanan seseorang menjadi meningkat, ia tampak lebih religius karena ketaatannya. Namun kemudian, apa yang terjadi ketika perempuan melepas jilbabnya?

Saya bukan moralis misoginis nyinyiris. Jadi, persoalan jilbab terkait dengan moral, hidayah, iman, agama, ketataan atau bentuk kesalehan lainnya bukan ranah yang ingin saya komentari. Persoalan hidayah, keimanan, ketakwaan, dan kesalehan tidak ada hubungannya dengan sehelai kain penutup kepala bernama jilbab.

Yang saya tahu, pakaian itu tidak beragama. Manusialah yang membuat pakaian tersebut menjadi beragama.

Melihat bagaimana artis Rina Nose menjadi bulan-bulanan netizen karena keputusannya melepas jilbab adalah contoh bagaimana, dalam praktik sosial, perempuan terus tertuntut dan tertekan untuk menunjukkan ruang kesalehan dan ketaatan melalui tubuhnya. Akun Instagram Rina Nose langsung banjir komentar negatif bernada penghakiman karena keputusannya melepas jilbab yang selama ini banyak orang anggap sebagai simbol ketaatan agama.

Belakangan, artis yang berprofesi sebagai komedian sekaligus presenter ini juga santer menuai isu telah berpindah agama. Tentu tak masalah, sebab urusan agama adalah ranah privasi Rina yang tidak perlu kita campuri.

Apa pun itu, mau menjadi penyembah batu sekalipun, seharusnya masyarakat bersikap bijak dan cerdas bahwa memilih keyakinan adalah hak asasi seseorang yang undang-undang lindungi. Jadi, tidak perlu menjadi kawanan zombie yang nyinyir perihal agama yang Rina Nose anut.

Rina bukanlah artis pertama yang memberanikan diri membuka jilbab. Dan dia bukanlah satu-satunya artis yang pernah orang hujat terkait keputusannya tersebut. Beberapa artis yang lebih dahulu membuka jilbabnya, antara lain Dewi Hughes, Trie Utami, dan belakangan artis Marshanda juga tak luput dari hujatan netizen terkait keputusan mereka melepas jilbab.

Baca juga:

Saya tidak begitu kaget dengan kejadian seperti ini. Hanya saja, rasanya sangat sumpek membaca komentar bernada hujatan dan penghakiman atas keputusan Rina. Netizen mendadak menjadi barisan polisi moral yang siap melakukan perundungan terhadap tubuh perempuan yang tak lagi berbalut jilbab.

Atas perundungan tersebut, maka pengobjekan tubuh perempuan terbagi pada segregasi perempuan “berjilbab” dan perempuan “tidak berjilbab”. Perempuan berjilbab orang pandang lebih religius dan taat agama, sedangkan perempuan yang tidak berjilbab akan selalu orang pertanyakan tingkat keimanannya.

Terlebih bagi mereka yang membuka jilbabnya, mereka akan “ternistakan” karena orang anggap mempermainkan simbol agama dan mengumbar aurat.

Perundungan terhadap perempuan yang memutuskan untuk membuka jilbabnya sama saja menyudutkan perempuan muslim lain yang tidak berjilbab. Karena penghormatan terhadap pilihan-pilihan rasional perempuan terhadap otoritas tubuhnya sendiri sama sekali tidak diakui. Tak jarang, satu perempuan akan menyerang perempuan lainnya sebagai bentuk penghakiman atas keputusannya melepas jilbab.

Mereka yang mem-bully Rina Nose adalah mereka yang selalu menggunakan dalih agama untuk membenarkan tindakan bullying yang mereka lakukan. Seperti yang banyak orang amini bahwa jilbab adalah perintah agama (Islam). Titik.

Membicarakan jilbab di luar konteks itu, maka bersiaplah diri Anda akan menjadi public enemy. Anda akan ikut terhujat dan tertuduh sebagai orang yang tak paham agama, menentang syariat, dan tak paham Islam. Camkan itu!

Masyarakat hipokrit yang tengah mengelu-elukan moralitas dan agama sedang menyibukkan kita. Jurang intoleransi kian melebar karena sentimen agama yang mereka sulut di sana-sini. Pilihan untuk melepas jilbab sebagai wujud hak perempuan dalam kebebasan berpakaian juga tak luput dari kritikan yang selalu mereka kaitkan dengan identitas keberagamaan.

Padahal, jika mau menyingkap sejarah, tradisi jilbab bukanlah monopoli Islam saja karena jilbab dapat kita jumpai pada ritual agama lain yang sudah mempraktikkan jilbab terlebih dahulu sebelum Islam lahir (baca: Yahudi dan Kristen). Tapi, entah kenapa urusan selembar kain bernama jilbab ini selalu menjadi bahan keributan dan menjadi kontroversi di negara ini.

Halaman selanjutnya >>>
    Latest posts by N. Irnawati (see all)