Jokowi Kritik Para Penyinyir yang Asal Bunyi

Jokowi Kritik Para Penyinyir yang Asal Bunyi
Rapimnas II Perindo meneguhkan kembali dukungan partai untuk Presiden Jokowi jadi Capres 2019. Foto: SINDO/Eko Purwanto

Nalar PolitikPresiden RI Joko Widodo (Jokowi) akhirnya angkat bicara juga seiring maraknya penilaian orang-orang yang melulu terkesan negatif untuk dirinya. Ia mengkritik para penyinyir, yang hampir semuanya merupakan para oposisinya, lantaran tak mampu membedakan mana kritik dan mana nyinyiran.

“Tolong dibedakan kritik dengan mencela, kritik dengan mencemooh, itu beda. Kritik dengan nyinyir itu beda lagi. Kritik dengan memfitnah apalagi, beda. Kritik dengan menjelekkan itu juga beda,” pinta Jokowi saat beri sambutan dalam Rapimnas II Partai Perindo di Jakarta, Rabu (21/3/2018).

Sebab, menurut Jokowi, kritik bukan nyinyiran merupakan hal yang penting bagi kedewasaan negara Indonesia ke depan. Kritik harus bersinergi dengan arah pembangunan bangsa, sebagai nafas pembentukan kebijakan publik.

“Sekali lagi, kritik itu penting untuk memperbaiki kebijakan yang ada. Tidak saling hujat dan menebar ujaran kebencian,” tambahnya.

Jokowi juga menegaskan, pemerintah di bawah kepemimpinannya hari ini sama sekali tidak anti-kritik sebagaimana yang getol ditunjukkan para penyinyir. Bahwa jajarannya menerima kritik asalkan tidak melangggar etika kesopanan adat ketimuran.

“Perbedaan pendapat dan pilihan itu biasa. Sekali lagi, itu biasa. Kalau ada salah, silakan sampaikan dengan kritik, tapi harus junjung tinggi sopan santun dan adat ketimuran,” pintanya kembali.

Terkait maraknya kritikan untuk kepemimpinannya yang terkesan asal bunyi, Jokowi pun menghendaki bahwa kritikan-kritikan itu harus berbasis data yang akurat, bukan yang fiktif alias hoax. Dan juga, kritikan tidak boleh semakin memperlebar masalah yang ada.

“Kritik harus berbasis data, kritik itu tidak ‘asbun’, asal bunyi, tidak asal bicara. Kritik itu maksudnya untuk mencari solusi, mencari kebijakan yang lebih baik,” tegasnya.

Adapun media penyampai kritik, Jokowi mengingatkan bahwa dialog atau musyawarahlah yang merupakan jalan terbaik. Ya, bukan hanya dengan mengandalkan media sosial saja, yang kesannya hanya menampilkan keberanian si pengkritik di belakang layar.

“Berdialog merupakan cara terbaik untuk rakyat dan bangsa, yaitu dengan cara musyawarah,” pungkasnya.

___________________

Artikel Terkait: