Juara Bersama, AHY: Antitesis Model Kepemimpin One Man Show

Juara Bersama, AHY: Antitesis Model Kepemimpin One Man Show
©AHY/Twitter

Nalar Politik – Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menawarkan konsep “Juara Bersama”.

Terekam melalui artikelnya hari ini berjudul Komitmen “Juara Bersama”, AHY menilai konsep tersebut sebagai antitesis atas model kepemimpinan One Man Show.

“Komitmen Juara Bersama ini adalah antitesis dari model kepemimpinan One Man Show. Wujud nyatanya adalah super team, bukan superman,” tulis AHY di harian Fajar, Kamis, 17 Februari 2022.

Konsep tersebut sekaligus menjadi jawaban AHY atas pertanyaan salah satu mahasiswa UNM, Ainul. Mahasiswa asal Polman ini mengajukan pertanyaan soal disparitas kualitas pendidikan dan kondisi pembangunan ekonomi di Indonesia secara umum.

“Sehebat apa pun pemimpin dan strategi pembangunannya, jika tidak terimbangi kualitas SDM yang memadai, laju gerak perubahan akan lambat, atau kembali ke nol,” jelas AHY.

Sebaliknya, jika kualitas SDM-nya unggul, transformasi dan perbaikan nasib bangsa akan makin tumbuh dan berkembang.

“Ke depan, semoga komitmen Juara Bersama ini bisa menjadi semangat dan karakter bangsa Indonesia, yang diawali dan dijiwai oleh generasi mudahnya,” harap AHY.

“Dengan semangat dan karakter Juara Bersama, insya Allah kita bisa unggul dan maju bersama,” pungkasnya.

Baca juga:

Sebelumnya, Mahasiswa Doktoral PSDM Universitas Airlangga, Surabaya itu mengingatkan bahwa tantangan rakyat Indonesia dalam berbangsa dan bernegara hari ini dan ke depan sungguh luar biasa.

Di samping hidup di era penuh gejolak, tidak pasti, dan kompleks, ketidakjelasan informasi pun membuat individu warga tidak mungkin bisa berjuang sendirian.

“Paradoksnya, gap identitas dan polarisasi makin meruncing,” terang AHY.

Untuk menghadapi itu, termasuk upaya mewujudkan Visi Indonesia Emas 2045, AHY menyebut pembangunan SDM merupakan kunci utama.

“Jika mampu menciptakan SDM unggul, negara akan mampu menjadi trendsetter,” tegasnya.

Tanpa itu, lanjut AHY, sebuah bangsa hanya akan menjadi pengekor (follower) saja jika pembangunan fisik jadi keutamaan namun pembangunan manusianya terlupakan.

“Jika bangsa kita menjadi follower, artinya kita bangsa yang kalah,” kata AHY.

Ia kemudian mengutip Amartya Sen (1999), peraih Nobel di bidang ekonomi, untuk memperkuat tesisnya.

“Jika pembangunan fisik suatu negara tidak kita dasarkan pada pengembangan SDM-nya, maka laksana membangun istana pasir di tepi pantai. Rapuh dan mudah roboh,” pungkasnya.

Baca juga: