Kacung Oligarki

Kacung Oligarki
©Reuters

Kacung oligarki kembali berulah. Tidak cukup di tragedi 1998, kekerasan dan penculikan lagi-lagi tercatat pada 24 September 2019.

“Aahhhhh aahhhhh aahhhhh,
Ampun, ampun, ampun, sudahi pukulannya, pak.”
Teriakan minta ampun memenuhi mulutkku,
Sedang pak polisi terus memukuliku.

Pukulan itu terus mengarah ke seluruh tubuhku,
Mulai dari kepalang tangan, tendangan kaki yang beralas baja.
Tidak cukup itu,
Mereka menambah tongkat menghantam punggungku yang sudah lebam.

Mereka perkasa dalam memukul,
Mungkin sudah ahli soal memukuli.
Itu yang saya rasakan.

“Anjing, jancukkkkkk, di mana kemanusiaanmu,”
Kata itu tak bisa terucap dengan jelas lagi.
Dalam kerumunan pak polisi yang mengeroyok.

Mereka pak polisi bagai segerombolan binatang buas,
Menculik mangsa yang terpisah dengan gerombolannya, dengan kekerasan.
Satu per satu kami ditangkapi.
Kami tidak diayomi lagi,
Kami seperti musuh.

Dan koruptor tertawa terbahak-bahak, dan berkata.
“Bunuh saja mereka, mereka perusuh negara.
Mereka makanan yang cocok untukmu.”

Sedang tubuh tak lagi utuh,
Tengkorak kepala retak dan tangan sudah patah.

Tak cukup itu,
Mereka membuang kami dan membiarkannya terkapar di jalanan.
Bagai sisa makanan sang pemangsa tinggal tulang,
Ditinggalkan begitu saja.
“Begitulah sang pemangsa”

Kamanusiaan seperti apa yang kau miliki?
Hati seperti apa yang kau miliki?
Pertanyaan itu yang muncul dalam ketidakberdayaanku.
Sehingga dengan teganya kau melakukan kekerasan,
Yang begitu parah di tubuh kami.

Kami bukan musuh,
Yang harus kau bunuh.
Kami bukan koruptor,
Yang pantas kau arak dengan kekerasan.

Tak ada ampun buat kami di mata pak polisi,
Yang melakukan demonstrasi.
Kami tidak dianggap manusia apalagi rakyatnya,
Yang harus diayomi.
Membinasakan adalah jalan yang harus mereka tempuh,
Sebab mereka kacung oligarki.

Iqbal Maulana
Latest posts by Iqbal Maulana (see all)