Kalimat Tauhid Bukan Sekadar Simbol

Kalimat Tauhid Bukan Sekadar Simbol
©Pintaram

Saat ini kita melihat penggunaan kalimat Tauhid di topi. Memang, secara dalil syar’i, tidak ada pelarangannya. Karena memang tidak masuk dalam wilayah syariat murni.

Namun, jika mau belajar agama Islam lebih dalam, kita akan mengenal istilah “ikhtiyath”, yakni sikap kehati-hatian supaya tidak nabrak syariat atau adab.

Mari kita lihat praktiknya. Jika kalimat Tauhid kita letakkan di topi, tentu akan sangat rentan dengan tindakan kurang pas yang akan kita lakukan.

Misalnya topi jatuh, terinjak, atau kalau kena keringat akan jadi berbau tidak sedap. Belum lagi jika akan masuk toilet, bagaimana jika lupa melepasnya?

Belum lagi kita tidak tahu bagaimana cara pengguna topi ini menjaga kebersihan dan kesuciannya selalu. Inilah yang saya maksud dari bagian ‘ikhtiyath’ tersebut.

Kalimat Tauhid itu sangat suci, sangat sakral bagi umat Islam. Sebagaimana sakral dan sucinya mushaf Alquran.

Kita sangat menghormati bendera negara Saudi Arabia dan tidak pernah mempermasalahkan karena meyakini bahwa bendera adalah hal yang sakral dan kita tempatkan di posisi terhormat.

Itu saja. Kita sering menyayangkan ketika bendera tersebut orang satukan dengan bendera negara lain, disablonkan di bola. Kita sangat menyesalkan ketika orang menjahit benderanya, model kecantikan menggunakannya dengan gaya yang teramat seksi. Dan seterusnya… Dan seterusnya…

Baca juga:

Yang amat sangat membuat terbelalak ialah latar belakang munculnya ide topi bertuliskan kalimat tauhid tersebut. Salah satunya ialah sebagai simbol perlawanan karena seorang ustaz yang banyak orang kagumi mendapat penolakan untuk mengisi pengajian di mana-mana.

Bukan oleh kalangan orang lain, melainkan dari tubuh kaum muslimin sendiri. Dengan memakai simbol tauhid tersebut, tentu ada maksud yang hendak ia sampaikan.

Apalagi khod (font/model huruf) dan warna dasarnya ialah khod putih, warna dasar hitam, yang oleh organisasi HTI pernah mereka kumandangkan sebagai bendera perangnya Rasulullah (padahal khod jenis itu belum ada di zaman Rasulullah SAW).

Kita wajib mengkhawatirkan jika sikap ini justru mencocoki dari apa yang telah di-dhawuh-kan Sayyidina Ali Karromallahu Wajhah, “Kalimatul haq yuridul bathil” (Kalimat yang benar namun dipakai untuk hal yang tidak benar).

Maka, hendaklah kita jangan sampai terpengaruh untuk memakainya. Jangan sampai kita terjebak pada semangat beragama yang membara, namun tidak menyertakan ilmu agama yang cukup.

Tidak ada yang bisa merendahkan Islam. Yang membuat Islam kadang terkesan kurang indah adalah perilaku sebagian pemeluknya sendiri.

Baca juga:
Latest posts by Shuniyya Ruhama (see all)