Kambing Hitam yang Tersayang

Kambing Hitam yang Tersayang
Ilustrasi: Bobbym/favim.com

Sesak menikam jiwa rasanya
Ingin tidak merasa tapi mata membelanga
Menelusuri satu per satu peristiwa gila tapi berasa

Membuka mulut pun tak mampu
Seolah nikmat dan perih beradu merdu
Api padam tanpa peduli
Terserap asap hitam hingga perih

Sebelumnya merdu suara terdengar sampai ke hati
Janji-janji bak permata intan berlian yang jernih
Seakan semuanya akan berbuah emas putih
Kembali airmata mengalir menelisir,

Janji yang menggunung sudah menjadi debu berantai
Derita bagai setebal asap setelah padamnya sang raja emosi

Ketika diinterogasi, mereka menyalahkan api bukan berintrospeksi
Menuding sana-sini seolah membeli barang yang mereka ingini
Menyalahkan, kenapa kau hirup asap jika bisa lari?
Namun tragisnya, ia tutup dan kunci ruangan lalu pergi

Mana bayaran dari janjimu?
Mana tanggung jawab terhadap kekacauan yang karena kelalaianmu?
Atau kau takut?

Lantas kau pergi
Kau sebar pernyataan seolah lalai hanya untuk mereka yang lemah
Merasa benarkah kau?
Setelah semuanya terjadi, kau pandang hitam dan lusuh
Lalu kau menghina tempat itu
Kau pandang sinis ia

Sadarlah sang dermawan
Keagunganmu tak bisa menghapus peristiwa yang kau khianati
Kualitasmu tak lebih hanya seperti pisau tanpa dicinai
Dan kau sebut kami dengan kambing hitam kesayangan

___________________

*Klik di sini untuk membaca sajak-sajak lainnya.

    Raras Kusfajardini
    Latest posts by Raras Kusfajardini (see all)