Kami Butuh Motivator yang Menggerakkan

Kami Butuh Motivator yang Menggerakkan
Bung Karno (Ilustrasi: imgsoup.com)

Jika kalian ingin menjadi pemimpin besar, menulislah seperti wartawan dan bicaralah seperti motivator, orator. ~ HOS Cokroaminoto

Satu masa, kata-katanya menjadi nyata saat salah satu anak muridnya bernama Soekarno mengguncang antero jagad negeri dan dunia sebagai Presiden pertama Republik ini. Setiap kata yang keluar dari mulut bung Karno, baik saat rapat, debat sampai berpidato, kesemuanya dapat membakar semangat audiensnya.

Selain dikenal dengan proklamator kemerdekaaan, penyambung lidah rakyat, dan punya beberapa istri—yang terakhir ini jangan dianggap serius, ia juga dikenal sebagai orator ulung. Ia pembicara yang punya reputasi kepandaian berpidato dalam jangka waktu lama di mana kata-katanya ditujukan kepada orang banyak, umum dengan tujuan memotivasi orang untuk bertindak, menceritakan cerita, dan transmisi informasi.

Konon, di gedung PBB, saat membacakan konsep Pancasila sebagai dasar negara Indonesia, Soekarno, dengan gaya bicara khas dan semangat yang menggelora, mampu menghipnotis siapa saja yang jadi lawan bicaranya. Ia pun mampu membuat beberapa perwakilan dari beberapa negara yang hadir berdecak kagum.

Tak bisa dipungkiri, peran HOS Cokroaminoto dalam membentuk kepribadian bung Karno sangat penting. Dalam satu kesempatan, bung Karno pernah bilang bahwa HOS Cokroaminoto adalah salah satu orang yang paling penting dalam perjalanan hidupnya.

Baik dari perilaku, gaya bahasa maupun pemikiran, Soekarno banyak terilhami dari sosok Guru Bangsa satu ini. Juga, sebab ucapan gurunya itulah yang membuat Soekarno muda dan beberapa kawannya yang menjadi murid sang guru terbius.

Pernah dikisahkan waktu berada di rumah sang guru—yang kemudian dijadikan kamar indekos murid-muridnya, Soekarno setiap malam teriak-teriak belajar pidato hingga membuat kawan-kawannya terbangun dan menertawakannya. Sebuah proses kesuksesan yang tidak dinyana.

Kita, kalau buka arsip-arsip nasional tentang bung Karno—terutama pidato-pidatonya—akan sangat tergugah dengan nada, intonasi, dan gaya khas pembawaannya ketika berpidato. Kalau istilah bekennya, bikin baper.

Sangat khas, ulung, dan mampu menyampaikan pesan yang terkandung dengan jelas. Pesan yang disampaikan kepada audiens sesuai dengan fakta dan realita yang ada. Tentu saudara-saudara masih ingat pesan-pesannya tentang pentingnya swasembada pangan, harga diri bangsa, dan rasionalnya sikap bung Karno terhadap negara-negara ketiga.

Sungguh, saya yang lahir di akhir abad 20-an saja trenyuh dan kepalang kagum dengan pidato-pidato bung Karno. Ciri khas pembawaan kata-kata, sampai semangatnya. Orang yang tepat untuk menyampaikan motivasi. Tepat kalau banyak orang menyebutnya orator ulung.

Bukan seperti  di acara TV-TV yang menghadirkan motivator abal-abal, ahli ghibah, dan ahli-ahli ketidakjelasan yang lainlah pokoknya. Gak perlu saya sebutin. Capek nulisnya! Yang realitasnya cuma ngomong doang dan banyak tipu-tipu. Kenapa disebut tipu-tipu? Ya, loe-loe pada bisa lihat sendirilah. Punya TV, kan?

Masih hangat di benak kita, saudara-saudara, acara di stasiun televisi swasta, yang digawangi motivator “ithu” seperti hilang bak ditelan sinetron-sinetron telenovela impor dari negeri tetangga. Yang saat acaranya masih ada, sempat booming karena kelihaian sang motivator memberi motivasi, jawaban-jawaban cerdas kepada setiap penanya, tapi tidak bisa memotivasi diri sendiri untuk membina rumah tangga harmonis, bersahaja dan ithu….

Belum lagi seorang ahli agama yang dihadirkan di stasiun televisi swasta—sama—yang membuat umat heran dan kelimpungan karena ketidakjelasan materi yang ditulis dan menjadi buah bibir di beberapa linimasa. Duh, ampun.

Kalau boleh urun rembug, semua acara yang bercorak dan bernuansa motivasi, kiat-kiat, maupun ceramah haruslah digawangi dan dipandu orang yang ahli di bidangnya, punya sanad keilmuan yang jelas, dan mampu tampil sesuai dengan alasan untuk apa acara televisi tersebut ditayangkan.

Saya sendiri sebagai manusia Indonesia penikmat acara televisi bermotif motivasi dan ceramah sangat kehausan—belaian—informasi yang jelas dan siraman-siraman rohani yang menyejukkan. Dan sangat masygul ketika acara bernuansa motivasi yang saya tonton justru membuat persoalan-persoalan hidup makin menjadi-jadi, gak karuan.

Kalau memang tak kunjung ada acara televisi yang bisa memberikan ide, inovasi, maupun pencerahan, mbok ya jangan diperparah dengan tayangan telenovela kelas teri, dan acara bincang-bincang ghibah juga dong ya. Plis, jangan biarkan kami-kami yang banyak persoalan ini terlalu lama jatuh dalam pelbagai persoalan hidup dan tak bisa bangkit lagi…..

Kami butuh motivasi. Kami butuh orator sejati!

___________________

Artikel Terkait:

    Ilyas Nashuha

    Mahasiswa Ilmu Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

    Latest posts by Ilyas Nashuha (see all)