Kapitalisme Pendidikan

Kapitalisme Pendidikan
©Aartreya

Perlu manajemen yang baik, mengelolah pendidikan ini agar tidak mengarah ke sistem kapitalisme pendidikan yang berkepanjangan.

Setiap hari pendidikan selalu berjalan menuju perbaikan. Menampakkan kehebatan di depan umum atas prestasi yang diraih oleh sekolah, sebagai daya tarik untuk meraup keuntungan.

Begitu pun dengan sistem pendidikan saat ini. Apa yang dicita-citakan para leluhur kita, hari ini menjadi kacau balau. Seandainya kita mampu mendengar perihal yang gaib, maka kita akan mendengar tangisan para pendahulu yang memperjuangkan pendidikan dengan penuh perjuangan.

Demikianlah persoalan yang mendera pendidikan kita saat ini. Mulai dari gelar yang diberikan tanpa dasar dan urgensi yang begitu jelas, sampai rencana pemungutan pajak dari dunia pendidikan. Apakah negara yang kaya raya ini kehilangan sumber pencaharian untuk pemasukan kas negara.

Sistem kapitalisme yang dipraktikkan negara kita makin mendera masyarakat kalangan bawah. Mulai biaya pendidikan yang tinggi, banyaknya syarat administrasi yang membebani membuat pendidikan ini tidak maju-maju.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Paulo Freire sistem pendidikan yang dimasuki oleh politik akan menghasilkan pendidikan yang hanya mengokokohkan keberadaan kaum elite. Hal ini demikian yang terjadi saat ini. Bahkan lembaga  pendidikan seakan tidak lagi memiliki marwah sebagai tempat proses memanusiakan manusia.

Urgensi PPN Pendidikan

Hemat penuli,s tidak ada urgensi untuk jasa pendidikan dikenakan pajak. Masih banyak sektor lain yang bisa dikenai pajak pertambahan nilai.

Pendidikan seharusnya jangan dikomersialiasi mengarah ke kepentingan yang mengatasnamakan rakyat. Sebab pendidikan hari ini, baik sebelum rencana akan dikenakan PPN, pendidikan kita sudah mahal dan sulit dijangkau oleh masyarakat kelas menengah ke bawah. Apalagi jika sudah dikenakan pajak. Akan semakin mahal biaya pendidikan kita.

Anggota DPR RI Himmatul Aliyah mengkritik kebijakan tersebut. Sebab pendidikan merupakan tanggung jawab pemerintah dan menajmin warganya untuk mendapatkan pendidikan. Tentunya ini sangat tidak masuk akal. Seakan-akan pemerintah ingin melepas tanggung jawab terhadap pendidikan seluruh warga negara.

Kapitalisme pendidikan telah meruntuhkan semua cita-cita luhur pendidikan kita. Bahkan pemangku kebijakan tidak lagi memikirkan bagaimana pendidikan kita dapat dijangkau dan dirasakan semua kalangan. Apalagi di zaman covid seperti ini. Banyaknya siswa yang putus sekolah akibat pandemi sehingga siswa harus membantu mencari uang untuk keperluan ekonomi.

Apalagi jika pajak ini diberlakukan, maka akan lebih banyak menghasilkan pengangguran, yang tidak bisa lagi membayar biaya sekolah. Maka perlu manajemen yang baik, mengelolah pendidikan ini agar tidak mengarah ke sistem kapitalisme pendidikan yang berkepanjangan.

Pendidikan yang Membebaskan

Sejatinya pendidikan harus diarahkan kepada perbaikan pola pikir dari masyarakatnya. Sebab tujuan utama pendidikan kita ialah untuk mencerdaskan kehidupan umum (masyarakat).

Pendidikan yang membebaskan ialah tidak lagi memberatkan masyarakat dalam mengakses dunia pendidikan. Membelenggu kesadaran masyarakat dengan membuat sistem yang begitu rumit.

Seharusnya pemerintah jangan mengambil pajak dari lembaga pendidikan, malahan justru sebaliknya memudahkan dalam mendapatkan akses beasiswa untuk seluruh elemen masyarakat. Hal demikian semakin menunjukkan bahwa selama ini pendidikan tidak pernah berpihak kepada kaum yang termarjinalkan, justru sebaliknya dengan memiliki finansial, maka sangat mudah untuk mendapatkan pendidikan yang layak.

Dunia pendidikan kita harus mendapatkan pertolongan secepat mungkin, sebelum penyakit tersebut menggerogoti seluruh lapisan pendidikan. Walaupun sebenarnya saat ini telah dimasuki sistem yang membuat pendidikan itu dijadikan sebagai lahan politik dan mendapatkan keuntungan.

Realitas yang terjadi, setiap momen politik kepala sekolah sibuk mencari jaringan untuk mengokohkan kedudukannya. Bahkan tak jarang memberi mahar agar kedudukannya tetap berada di tangannya. Inilah kemudian yang merusak dunia pendidikan kita.

Maka dari itu, kesadaran siswa dan pemerhati pendidikan harus benar-benar terpatri agar kiranya pendidikan kita tidak lagi berorientasi kepada kapital dan tempat mencari keuntungan di dalamnya. Pendidikan seharusnya menjadi humanis, bukan malah sebaliknya menjadi dehumanisasi.

Asman