Kapitalisme sebagai Kendaraan untuk Lolos dari Perbudakan

Kapitalisme sebagai Kendaraan untuk Lolos dari Perbudakan
©Foreign Affairs

Hukum yang universal tersebut membawa pengharapan tersendiri pada praktik kapitalisme sebagai kendaraan untuk lolos dari perbudakan.

Akhir-akhir ini media sosial digemparkan oleh sebuah kasus korupsi pada salah satu tubuh BUMN, yaitu PT. Asabri. Kasus korupsi tersebut ditafsirkan mencapai Rp23,7 triliun dan ungkap jaksa agung, ST Bahrudin, merupakan kasus skandal korupsi yang terbesar di Indonesia.

Adapun beberapa nama yang telah penyidik kejaksaan agung tetapkan sebagai TPPU (Tindak Pidana Pencucian Uang), yakni Benny Tjoko Saputro dan Heru Hidayat. Sementara ada 9 tersangka lainnya yang ditetapkan sebagai tersangka dalam dugaan korupsi PT. Asabri.

Kasus tersebut menarik perhatian publik terutama penulis yang sedang mendalami tesis perkembangan kapitalisme oleh Max Weber. Karena tersangka-tersangka tersebut merupakan pengusaha-pengusaha kelas atas dan ternama di daerahnya masing-masing. Seperti Benny Tjoko Saputro yang mana adalah pemilik usaha hotel Maestro dan Matahari mall di Pontianak sulit untuk tidak mengaitkan hal tersebut dengan praktik kapitalisme di negara kita.

Alih-alih memaki praktik kapitalisme yang ada di negara kita, penulis malah terkagum-kagum dengan dengan praktik kapitalisme tersebut. Sebab dari kasus tersebut membangun sebuah asumsi bahwasanya kapitalisme berperan penting dalam penegakan hukum yang universal di negara kita. Semua orang dipandang dan diperlakukan sama oleh hukum, tidak terkait dengan kekayaan maupun status yang dimiliki oleh pelanggarnya.

Fokus penulis terhadap hukum yang universal tersebut membawa pengharapan tersendiri pada praktik kapitalisme sebagai kendaraan untuk lolos dari perbudakan. Bagaimana hal tersebut dapat terjadi? Bukankah kapitalisme malah membuat jurang antarkelas yang memperbanyak perbudakan?

Hal tersebut benar, jika kita meletakkan pikiran kita berdasarkan materialisme historis ala Marx. Namun kita akan mendapatkan pandangan yang sama sekali berbeda ketika kita meletakkan pikiran kita berdasarkan tindakan sosial ala Max Weber. Dalam pandangan Weber mengenai praktik kapitalisme, penulis malah melihat kasus tersebut sebagai pengharapan untuk lolos dari perbudakan dengan menggunakan kapitalisme sebagai kendaraan.

Kapitalisme sebagai Kendaraan

Kapitalisme secara etimologi berasal dari kata Caput (Latin) yang berarti kepala. Awalnya, kata caput tersebut digunakan oleh masyarakat Romawi untuk menghitung kepala hewan ternak yang mereka miliki. Dengan jumlah kepala hewan yang dihitung tersebut, maka akan didapatkan sebuah informasi tentang kondisi materil yang dimiliki oleh pemiliknya.

Kapitalisme menurut pandangan Marx adalah mode produksi yang didasarkan pada kepemilikan pribadi. Marx menganggap bahwa kepemilikan pribadi sebagai sebuah masalah yang membuat jurang antarkelas (yang miskin dan yang kaya), sehingga menimbulkan berbagai konflik-konflik sosial.

Sedangkan menurut pandangan Weber, kapitalisme merupakan sebuah keadaan di mana terjadinya perubahan sosial dari masyarakat agraris tradisional dengan mekanisme kerja sederhana menuju masyarakat kapitalis dengan mekanisme produksi yang memiliki tingkat efisiensi lebih tinggi daripada masyarakat agraris tradisional.

Weber menjelaskan bahwa perubahan sosial dari masyarakat agraris tradisional menuju masyarakat kapitalis memengaruhi mobilitas tenaga kerja dari masing-masing individu. Pada masyarakat agraris tradisional sama sekali tidak terjadi mobilitas tenaga kerja. Karena sekali individu menjadi budak/hamba, maka sampai mati, bahkan sampai keturunan anak cucunya pun tetap menjadi budak/hamba.

Berbeda halnya dengan masyarakat kapitalis yang mana sudah terjadi mobilitas tenaga kerja, sebab tenaga kerja bebas bergerak menanggapi permintaan dan penawaran dari berbagai perusahaan yang ada di berbagai wilayah yang berbeda. Setiap individu bebas ingin menjadi apa saja, karena tidak terikat oleh sistem perbudakan seperti yang terjadi pada masyarakat agraris tradisional.

Berangkat dari pandangan Weber tersebut, maka penulis berasumsi bahwasanya praktik kapitalisme tersebut dapat menjadi sebuah kendaraan yang membawa masyarakat lolos dari perbudakan. Kendaraan menurut KBBI adalah sesuatu yang digunakan atau dinaiki, yang mana menurut penulis digunakan atau dinaiki untuk berpindah/bepergian dari satu tempat ke tempat yang lain.

Oleh sebab itu, maksud dari kapitalisme sebagai kendaraan ialah ibarat kendaraan lainnya (motor, mobil, becak, dsb), kapitalisme dapat membawa kita dari suatu tempat (perbudakan) ke tempat lain (kebebasan). Lalu, bagaimana kapitalisme tersebut dapat berkembang sampai sekarang? Apa kaitannya dengan kasus skandal korupsi yang terjadi pada PT. Asabri? Hal tersebut akan dijelaskan lebih dalam pada poin berikutnya.

Tesis Perkembangan Kapitalisme Max Weber

Dalam The Protestant Ethic and The Spirit of Capitalism, Weber menyatakan bahwa ketelitian yang khusus, perhitungan dan kerja keras dari Bisnis Barat didorong oleh perkembangan etika Protestan yang muncul pada abad ke-16 dan digerakkan oleh doktrin Calvinisme, yaitu doktrin tentang takdir.

Pemahaman tentang takdir tersebut menuntut kepercayaan bahwa Tuhan telah memutuskan keselamatan dan kecelakaan.Selain itu, doktrin tersebut juga menegaskan bahwa tidak seorang pun yang dapat mengetahui apakah ia terpilih (selamat) atau tidak (celaka).

Maka dari itu, menurut Weber, muncullah sebuah kepanikan tentang keselamatan. Cara menenangkan kepanikan tersebut adalah orang harus berpikir bahwa seseorang tidak akan berhasil tanpa diberkahi Tuhan. Oleh karena itu, keberhasilan adalah tanda keterpilihan.

Untuk mencapai keberhasilan tersebut, seseorang harus melakukan aktivitas kehidupan. Aspek dari aktivitas kehidupan tersebut termasuk aktivitas ekonomi dan politik, yang dilandasi oleh disiplin dan bersahaja, serta menjauhi kehidupan boros dan bersenang-senang, yang didorong oleh ajaran agama.

Menurut Weber, etika kerja dari Calvinisme yang berkombinasi dengan kapitalisme membawa masyarakat pada perkembangan kapitalisme modern. Jadi, doktrin Calvinisme tentang takdir memberikan dorongan psikologis bagi rasionalisasi dan sebagai perangsang kuat dalam pertumbuhan ekonomi kapitalis dalam tahap-tahap pembentukannya.

Hubungan antara semangat kapitalisme dan etika Protestan tersebut memiliki kaitan konsistensi yang logis dan memberikan pengaruh motivasional yang bersifat mendukung secara timbal balik. Oleh karena itu, menurut Weber, hubungan semacam itu dinamakan elective affinity, yang mengantarkan kapitalisme untuk mentransformasi diri dalam bentuk modern, yang bercirikan; tata buku/akutansi rasional, hukum rasional, teknik rasional (mekanisasi), dan massa buruh menerima upah di pasar bebas karena mereka perlu untuk memperoleh penghasilan.

Teori Perubahan Sosial

Berangkat dari tesis perkembangan kapitalisme Max Weber seperti yang telah dijelaskan di atas, maka ia mengemukakan sebuah teori tentang perubahan sosial dalam masyarakat yang mana di dalamnya terdapat dikotomis dalam perkembangan masyarakat yang didasarkan pada 6 dimensi, yaitu Bentuk Kepemilikan, Mekanisme, Tenaga Kerja, Pasar, Hukum Yang Berlaku, dan Motivasi Utama.

Dikotomis dalam perkembangan masyarakat yang dikemukakan oleh Weber tersebut dapat kita pergunakan untuk melihat hubungan logis antara kasus korupsi PT. Asabri dengan gagasan tentang kapitalisme sebagai kendaraan untuk lolos dari perbudakan.

a. Bentuk Kepemilikan

Pada masyarakat agraris tradisional, kepemilikan diwariskan secara turun-temurun, sedangkan pada masyarakat kapitalis, kepemilikan terhadap alat-alat produksi bersifat pribadi. Artinya, terdapat dua buah perbedaan, yaitu pada masyarakat agraris tradisional kepemilikan ditentukan dan dikontrol oleh tradisi turun-temurun, sedangkan pada masyarakat kapitalis kepemilikan ditentukan dan dikontrol oleh sebuah mekanisme pasar, yaitu mekanisme kepemilikan melalui pertukaran berdasarkan hukum permintaan dan penawaran.

b. Mekanisme

Sistem produksi pada masyarakat agraris tradisional relatif lebih sederhana, karena dilandasi oleh peralatan manual. Sedangkan pada masyarakat kapitalis, mekanisme pekerjaan lebih efektif karena adanya penemuan alat-alat produksi dengan teknologi baru, yang membuat proses produksi jauh lebih efisien daripada sebelumnya.

c. Tenaga Kerja

Pada masyarakat agraris tradisional tidak terjadi mobilitas tenaga kerja. Oleh sebab itu, seperti yang dijelaskan sebelumnya, sekali menjadi budak/hamba, maka sampai mati bahkan sampai keturunan anak cucu seorang individu akan tetap menjadi budak/hamba.

Sedangkan pada masyarakat kapitalis, mobilitas tenaga kerja sangat mengalir, karena bentuk kepemilikan yang ditentukan dan dikontrol oleh pasar menyebabkan timbulnya banyak perusahaan, sehingga setiap individu dapat bebas bergerak menggunakan tenaga kerjanya menanggapi permintaan dan penawaran dari perusahaan yang berbeda. Oleh sebab itu, setiap individu dalam masyarakat kapitalis dapat bebas memilih jalan hidupnya serta tidak terikat seperti pada masyarakat agraris tradisional (sekali menjadi budak, maka sampai anak cucu tetap menjadi budak).

d. Pasar

Pada masyarakat agraris tradisional, pasar belum berkembang. Keberadaannya hanya dilihat sebagai bagian dari tradisi. Misalnya, keberadaan pasar hanya dibutuhkan karena keperluan adanya suatu ritual keagamaan dan politik. Pasar dihambat perkembangannya, karena adanya keterbatasan kepemilikan yang mengakibatkan terjadinya monopoli kelas.

Sedangkan pada masyarakat kapitalis, pasar mengatur dirinya sendiri melalui hukum permintaan dan penawaran. Dengan demikian, apa dan bagaimana tentang produksi dan konsumsi diatur oleh pasar. Produksi bukan diatur oleh tradisi, melainkan untuk massa dan mendapat keuntungan melaluinya.

e. Hukum yang berlaku

Penerapan hukum yang berlaku pada masyarakat agraris tradisional bersifat khusus. Artinya, hukum diterapkan berbeda untuk kelompok sosial yang berbeda. Sedangkan pada masyarakat kapitalis, hukum bersifat universal, artinya semua orang sama dimata hukum.

f. Motivasi Utama

Motivasi utama dari masyarakat tradisional adalah suatu pemuasan terhadap kebutuhan sehari-hari, sebaliknya pada masyarakat kapitalis orang dimotivasi oleh kehausan untuk memperoleh keuntungan yang maksimal.

Hubungan logis antara kasus korupsi PT. Asabri dengan gagasan kapitalisme sebagai kendaraan untuk lolos dari perbudakan dapat kita lihat pada dimensi hukum yang berlaku di masyarakat kapitalis. Hukum yang tidak pandang bulu/universal tersebut dapat menyebabkan siapa saja yang bersalah di mata hukum (tidak pandang harta, kelas, dsb) dapat diproses secara hukum.

Oleh sebab itu, semua orang mendapatkan kesempatan yang sama dalam hukum yang berlaku di masyarakat kapitalis. Dalam arti, tidak ada kata kebal hukum karena alasan kelas sosial sehingga perbudakan dapat dihapuskan dari prinsip hukum yang berlaku pada masyarakat kapitalis.

Praktik masyarakat kapitalis membawa keuntungan bagi setiap individu dari segi kesempatan, oleh sebab itu tidak ada lagi tradisi jika terlahir sebagai budak, maka sampai mati atau sampai keturunan anak cucu tetap menjadi budak. Sebaliknya, setiap individu dengan bebas dapat menentukan nasibnya ingin jadi seperti apa mereka. Apakah ingin menjadi seperti Jack Ma seorang kaya yang berasal dari keluarga miskin di negri China, atau terjerat kasus hukum seperti para pengusaha-pengusaha kaya dalam kasus korupsi PT. Asabri.

Kesimpulan

Dari pandangan dan pemikiran ketat Max Weber terhadap kapitalisme, maka kita dapat menarik sebuah kesimpulan bahwa tidak selamanya praktik kapitalisme dapat dipandang sebagai penghambat dan pemicu konflik-konflik sosial seperti yang dikatakan oleh Marx dan para pengikutnya. Sebaliknya, kapitalisme dapat dijadikan sebagai sebuah kendaraan untuk mengubah nasib setiap individu menuju kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya. Oleh sebab itu, kasus korupsi PT. Asabri menjadi sebuah pelajaran bagi kita semua, bahwa tidak ada lagi yang mana budak dan yang mana majika, setiap orang diperlakukan sama dalam praktik hukum kapitalisme.

Demikian penjelasan singkat penulis terhadap gagasan “kapitalisme sebagai kendaraan untuk lolos dari perbudakan”. Penulis menyadari bahwa tulisan ini masih jauh dari kata sempurna, oleh sebab itu dibutuhkan kritik maupun diskusi dari setiap individu yang membacanya, namun dengan gagasan yang terbilang masih sangat sederhana ini.

Penulis dapat menemukan kepercayaan diri karena dapat menerima gagasan tentang praktik kapitalisme Max Weber yang pada awalnya terbilang agak sulit untuk dipahami seorang awam seperti penulis sendiri. Oleh sebab itu, pemahaman gagasan biarlah menjadi kenikmatan intelektual tersendiri bagi penulis dan setiap pembaca yang menyetujui gagasan dari tulisan ini.

Akhir kata, penulis akan menutup dengan sebuah pesan; “Jika Karl Marx menganggap bahwa kita harus mengubah dunia, maka Max Weber menganggap bahwa kita harus mengubah individu. Mengubah dunia adalah utopis, sedangkan mengubah individu adalah rasional.”

Kepustakaan

Merdeka, Kronologi terkuaknya kasus korupsi asabri terbesar sepanjang sejarah Indonesia.

Damsar. 2015. Pengantar Teori Sosiologi. Jakarta: Kencana

Butler, Eamonn. 2019. Kapitalisme: Modal, Kepemiliikan, dan Pasar yang Menciptakan Kesejahteraan Dunia. Jakarta: Suara Kebebasan