Karantina NU Scholarship Batch 1

Karantina NU Scholarship Batch 1
©Dok. Pribadi

Karantina NU Scholarship Batch 1

Setelah lama digadang-gadang, akhirnya, aku dan teman-teman yang terpilih sebagai peserta pendampingan beasiswa Nahdlatul Ulama Scholarship (NUS) Batch 1 akan menjalani karantina selama sebulan. Kami yang berjumlah dua puluh orang ini berasal dari beberapa wilayah di Indonesia yang merupakan calon-calon mahasiswa S2 dan S3 pencari beasiswa di luar negeri yang mendapatkan fasilitas dari NU untuk kursus dan tes International English Language Testing System (IELTS).

Aku diantara percaya dan tidak percaya dengan karantina yang akan diselenggarakan dalam waktu dekat ini yang akan berlangsung selama sebulan. Sebulan bukanlah waktu yang singkat, mulai dari tanggal dua puluh (24) Juni sampai dengan dua tiga (23) Juli, 2024 ini.

Setelah pengumuman karantina itu, di grup Whats App (WA) Pendampingan NU Scholarship penuh dengan pesan-pesan yang menanyakan A-Z tentang karantina. Mulai dari aktivitas-aktivitas apa yang akan dilakukan, persiapan yang harus dibawa, aturan-aturanya, narasumber dan materi, juga “apa saja yang dicover” apalagi beberapa teman-teman perempuanku ada yang masih memberikan ASI Eksklusif kepada anak-anak mereka yang masih bayi.

Alhamdulillah, sebelum zoom dan sesudah zoom rapat koordinasi persiapan karantina, NU Scholarship dibawah Lakpesdam PBNU menjawab semua pertanyaan peserta, dan memberikan jadwal kegiatan serta akomodasi dan fasilitas-fasilitas untuk peserta. Seperti penggantian tiket pesawat, kapal, kereta api, mobil dan lain sebagainya, kemudian penyediaan makanan selama karantina berlangsung, penginapan, dan lain-lain.

Kami akan menginap di pondok pesantren Al Hikam, Depok, pondok pesantren ini adalah pondok yang didirikan oleh KH. Hasyim Muzadi di area itu terdapat masjid besar Al Hikam pesantren putra, putri, perpustakaan, kampus Sekolah Tinggi Kulliyatul Quran Al Hikam (STKQ), Al Hikam Mart, dan lain sebagainya.

Beberapa teman yang pernah mondok selama hidupnya pasti tidak akan asing. Namun, bagiku aku yang belum pernah merasakan belajar dan tinggal di pondok akhirnya akan mondok, benar karantina rasa mondok. Aku pun prepare dengan packing-packing barang-barangku untuk digunakan selama sebulan, walau nanti ada laundry ataupun bisa beli kekurangannya tetap aja aku tidak bisa berpikir praktis mengingat waktu sebulan untuk belajar ini.

Aku juga dibantu adikku Ammoz, untuk mempersiapkan segala sesuatunya sebelum berangkat. Maaf, saat itu aku sibuk dengan tugas lain menerima tamu atau peziarah yang berziarah di rumah kakekku (Imam Lapeo) sesudah lebaran Idul Adha.

Baca juga:

Ammoz pun “bekerja”mulai dari memprint berkas-berkas yang akan aku bawa, membelikan tiket pesawat pada aplikasi karena aku adalah peserta yang berasal dari Sulawesi Barat, menelpon mobil sewa ke Makassar, menyiapkan beberapa potong pakaian sopan dan resmi untuk dipakai berkarantina melihat beberapa materi akan diantarkan langsung oleh beberapa tokoh-tokoh NU yang hebat seperti Gus Ulil Absar. Atau baju putih atau gamis putih buat perempuan sebagai dress code di acara pembukaan yang akan dibuka langsung oleh pak Direktur NUS, Muhammad Syauqillah, PhD.

Lupakan soal pakaian, namun ilmu dan pengetahuan yang akan kami peserta karantina dapatkan nanti adalah hal yang paling membuat excited terutama materi-materi keren tentang Ke-NU-an atau Ke-Aswaja-an oleh kiai-kiai NU, kemudian kami juga akan bertemu dengan tim teaching Lakpesdam yang mengajarkan bagaimana pembuatan CV dan Esai keluar negeri oleh orang-orang yang mumpuni di bidangnya, belum lagi ada kelas bahasa yang akan dimentoring oleh fasilitator-fasilitator yang keren.

Pembukaan Karantina Hari Pertama

Aku akan naik pesawat di Makassar. Aku pun berangkat dari desa Lapeo, kabupaten Polewali Mandar, provinsi Sulawesi Barat ke ibukota Makassar, Sulawesi Selatan. Walaupun sebenarnya, di Mamuju, ibukota provinsi Sulawesi Barat tersedia juga bandara namun aku lebih memilih ke bandara Hasanuddin Makassar agar tidak dua kali melakukan penerbangan yaitu Mamuju – Makassar, Makassar – Jakarta.

Perjalanan dari kabupaten Polewali Mandar ke Makassar menempuh jarak delapan jam (8) jam. Hari Sabtu sore, aku berangkat dari Polewali Mandar jam tiga (3) tiba di Makassar sekitar  jam dua belas (12) malam karena singgah makan dan isi bensin. Paginya jam sepuluh (10) aku menuju ke bandara karena pesawat berangkat jam 13.00 siang perjalanan akan ditempuh selama dua (2) jam. Aku tiba di Jakarta sekitar jam 14.00 siang, Jakarta lebih cepat sejam dari Makassar.

Di bandara Soekarno Hatta, aku janjian dengan mas Jajang yang berasal dari Sumatera Selatan untuk barengan ke Pondok Al Hikam di Depok. Ini adalah pertemuan pertama kami, selama ini kami biasa bertemu di Zoom NUS dan LBUI Depok karena kami sama-sama mendapatkan kursus online IELTS. Kami kursus secara online karena di tempat kami tidak ada program untuk kursusan tersebut.

Mas Amik yang berasal dari Rembang sebagai ketua kami di NUS sudah banyak woro-woro di grup WA karena menunggu kedatangan teman-teman dan memberikan arahan untuk teman-teman yang akan datang. Akhirnya, aku bertemu dengan mas Jajang, kami pun segera memesan Grab untuk ke lokasi tujuan.

Tiba di pondok pesantren Al Hikam, kami saling berkenalan dengan teman-teman yang baru saja bertemu. Aku sekamar dengan mbak Jihan dari pulau Kangean Madura, Jawa Timur. Aku pun pergi mencari makan dengannya, aku makan soto Depok bukan soto Lamongan atau soto apa. Kemudian teman-teman yang lain menyusul ada mbak Fina dan keluarga, mbak Pretty, mbak Anif, mas Amik, mas Jajang dan lain-lain.

Hari pertama, sebelum menuju kelas yang berlokasi di bawah masjid. Kami mendapatkan makanan berupa sarapan pagi nasi putih dan lauk ayam-telur. Pembukaan karantina hari pertama  dengan pak Direktur dan ketua yayasan Al Hikam bapak kiai prof. Arif Zamhari , M. Ag., PhD. Beliau  menyambut kami di pondok pesantrennya.

Halaman selanjutnya >>>
Zuhriah
Latest posts by Zuhriah (see all)