Kau Pamit

Kau Pamit
©Hipwee

Rinduku tak tersampaikan
Ternyata sudah ada yang menahan
Di antara senja ku coba mengihklaskan
Namun hati berontak tak karuan
Di balik senyummu kau menyapa

Bertanda untuk pamit, tak lagi ada
Sahutanku hanya tertawa
Karena ku anggap kau hanya bercanda
Sekejap kau mengulang pernyataan
Bahwa kita tak bisa lagi dipersatukan

Melalui hati dan pikiran
Sebab kita sudah tak lagi sejalan
Dan kau memutuskan untuk pergi
Bait-bait puisiku menghitam
Alujnan puisiku yang terlalu terikat

Menandakan ada kau di dalamnya pekat
Begitu sangat menjerat
Namun dengan gampangnya sekarang kau menyekat
Dengan gunting potong yang laknat
Lantas sopankah kau mengenalkan dia padaku secepat itu?

Pengorbanan

Mengucur deras keringat
Membasahi tubuh yang terikat
Membawa angan jauh entah kemana
Bagaikan pungguk merindukan bulan
Jiwa ini terpuruk dalam kesedihan

Pagi yang menjadi malam
Bulan yang menjadi tahun
Sekian lama telah menanti
Dirinya tak jua lepas

Andai aku sang ksatria
Aku pasti menyelamatkannya
Namun semua hanya mimpi
Dirinyalah yang harus berusaha
Untuk membawa pergi dari kegealapan

Rasaku Mati di Pelabuhan Rindu

Sajak ini ku tulis dengan mesra
Bersama sejuta doa terangkai dengan cinta
Tentang kerinduan abadi seorang hamba
Entah di mana kan ku sandarkan perahu rindu pada dirinya
Hati terdiam dan membisu

Terdiam dalam pelukan dingin malam tanpa dirimu
Terbenam rindu terkubur dalam sanubari
Rengkahan hati menjerit dalam malam
Saat malam mulai perlahan bentangkan layar kelam
Saat rindu perlahan hampiiri jiwa

Di mana batas waktu terputus dalam hening malam
Di mana perindu hanya terdiam dalam kebisuan
Aku terdiam dan menatap hari
Menunggu tanpa tujuan dan kepastian
Kapan kita kan bersua

Kembali bercumbu dalam tepian malam
Ada rindu tertanam dalam sanubari
Rindu tanpa tepid dan tanpa peraduan
Ku tanya rembulan mati
Ku tantang mentari bisu

Dan bintang hanya mengerling menja menggoda
Ketika ku tanya tentang rindu
Di mana kan kulabuhkan bahtera rindu ini
Jika tiada dermaga ku dapat

Laksana mayat aku terdiam dalam kebisuan
Nanti jika tiada waktu kan berulang
Maka aku hanya perindu yang menghina rindu
Tanpa tahu dermaga rindu sandaran jiwaku

Pengemis Doa

Tentang perih yang terlukis
Luka biru lebam yang terkikis
Atau tragedi kehidupan yang tragis
Memiluh hati penuh ratapan tangis

Ujian adalah saat Tuhan bentangkan penggaris
Berupa jalan yang tidak selalu simetris
Bahkan pula halangan yang membuat hati miris
Semua hanya teguran agar hati suci dari najis

Sejujurnya sifat manusia sangatlah egois
Meminta enak tanpa harus mengais
Tanpa menyadari segalanya telah tertulis
Sebagai takdir yang diwajibkn untuk menangis

Penat dalam Rindu

Riuh angin yang begemuruh
Menerobos kabut malam
Langkah yang semakin tak tahu arah
Bersenandung bersama harapan
Harapan yang selalu dipanjatkan
Namun hilang bersama angan
Rindu yang mengancam
Membayangkan dirimu
Seperti rumah yang kosong
Tak bepenghuni

Hitam Putih di Hati

Hitamkah kita?
Putihkah kita?
Ataukah kita kadang hitam, kadang putih
Katanya hati bisa menghitam orang
Katanya hati juga bisa memutihkan orang

Namun kita tahu, kita hitam dan putih
Tahu punya hati tapi tidak tahu buat apa
Tahu punya hati tapi tidak tahu warnanya
Orang bilang, hitam kulit yang penting putih hatinya
Orang bilang, putih kulit tapi hitam hatinya tiada berguna

Lalu, pilih yang mana kita? Hitam ataukah putih
Putih! Tentu itu jawaban kita semua
Dapat putih itulah yang sulit
Jika dapat hitam semoga hanya dikulit saja

Latest posts by Lalik Kongkar (see all)