Ke Mana Komitmen Pak Anies?

Ke Mana Komitmen Pak Anies?
©Kronologi

Ke mana komitmen Pak Anies?

Nalar Warga – Dalam 2 bulan terakhir, Jakarta sudah 5 kali kebanjiran, yaitu pada 1 Januari, 24 Januari, 8 Februari, 23 Februari, dan 25 Februari. Banjir demi banjir di 2020 ini tercatat makin parah dan intens.

Empat hari yang lalu kita mendengar tidak hanya aset pribadi warga, tetapi juga aset negara untuk pelayanan kesehatan yang terdampak oleh banjir. RSCM dalam keterangan resminya mencatat bahwa ruang Radiologi dan Radioterapi terendam banjir beserta peralatannya.

Kemarin lusa banjir lagi. Banjir hari itu tidak hanya lebih parah, tetapi juga telah memakan korban jiwa di mana seorang pengendara motor jatuh ke dalam lubang yang tidak tampak oleh genangan air di Jalan Majapahit.

Apa yang salah?

Curah hujan memang tinggi, tetapi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dengan segala kelengkapannya, pendanaan, dan otoritasnya yang diberikan oleh publik telah gagal dalam mengupayakan mitigasi bencana, terutama mengenai banjir. Contoh kegagalan tersebut adalah naturalisasi sungai.

Konsep naturalisasi sungai ditujukan untuk mengatasi banjir melalui sejumlah kegiatan, seperti perbaikan kondisi Aliran Sungai, peningkatan kondisi waduk ataupun embung penahan air, dan penyediaan Ruang Terbuka Hijau.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMD) DKI Jakarta 2017-2022 menargetkan normalisasi dan/atau naturalisasi sungai dilakukan selama lima tahun anggaran di 13 Aliran Sungai.

Fakta hari ini menunjukkan bahwa program yang digadang-gadang menjadi unggulan tak tampak kemajuan sama sekali dari pelaksanaannya. Bahkan payung hukumnya baru terbit tahun 2019, meski Pak Anies Baswedan diangkat menjadi Gubernur tahun 2017. Ya, ngapain aja selama dua tahun?

Implikasinya adalah normalisasi dihentikan, naturalisasi tak juga dimulai. Kegiatan pengerukan sungai juga relatif tak intens dilakukan dalam masa tersebut. Definisi konsep dalam Pergub tersebut sangat mirip dengan substansi dalam Pergub yang terbit pada 1999, “Normalisasi”.

Ke mana komitmen Pak Anies?

Baca juga:

Pak Anies justru ngotot ingin mempertahankan anggaran Event Formula E yang secara keseluruhan menelan uang rakyat sebanyak 1,6 triliun rupiah di tengah-tengah pemotongan anggaran pengendalian banjir sebesar 59 persen (Rp500 miliar).

Biaya Formula E tersebut dapat dipakai untuk mendanai:

  1. KJP Plus untuk 533 ribu siswa SD setiap bulan selama setahun penuh.
  2. Pembangunan 2 bendungan baru.
  3. Pembangunan setidaknya 250 rumah pompa.
  4. Pembangunan 640 RPTRA.
  5. Pembangunan minimal 16 Puskesmas tingkat 1.

Kesimpulan: Pak Anies tidak kompeten/tidak becus dalam menjawab tantangan tugasnya sebagai Gubernur DKI Jakarta. Bahkan dalam menentukan prioritas saja, beliau gagal mengidentifikasi apa yang dibutuhkan oleh warga DKI, bukan yang dibutuhkan oleh agenda politik pribadinya.

*Dedek Prayudi

Warganet
Latest posts by Warganet (see all)