Kebencian Aceh terhadap Orientalis Belanda Snouck Hurgronje

Kebencian Aceh terhadap Orientalis Belanda Snouck Hurgronje
┬ęTribun

Kebencian Aceh terhadap Orientalis Belanda Snouck Hurgronje Dilihat dari Teori-Teori Sejarah Spekukatif Deteministik

Kajian tentang filsafat sejarah sering kali dipahami sebagai sesuatu yang rumit atau abstrak. Karena bukan lagi bicara sejarah sebagai narasi atau deskripsi, tetapi lebih mengarah pada dimensi nalar argumentasi tentang dunia kesejarahan.

Objek materi filsafat pada umumnya dominan pada abstraksi-abstraksi gagasan dan argumentasi-argumentasi nalar rasional dalam menggambarkan tentang entitas dan realitas. Dengan demikian, filsafat sejarah selalu berkait dengan pemikiran yang mendalam tentang entitas dan realitas masa lalu, baik tentang dunia masa lalu sebagai sebuah realitas maupun tentang tulisan masa lalu sebagai entitas atau sebaliknya, yang di dalamnya membahas pergulatan, dinamika antara manusia dalam ruang dan waktunya.

Dalam disiplin ilmu sejarah tidak hanya mempelajari masalah metode dan metodetologi. Lebih daripada itu, teori yang dihasilkan dari pemikiran-pemikiran seseorang yang kemudian diterima oleh masyarakat dengan catatan tidak semua teori diterima di ruang lingkup masyarakat.

Pandangan mengenai teori dan aliran pemikiran sejarah cukup variatif memiliki argumentasi dan tingkat rasionalitas masing-masing. Salah satunya teori yang diterima di masyarakat yaitu teori deteministik.

Teori tersebut mendefinisikan suatu paham yang mengatakan tidak ada sesuatu yang terjadi yang berdasarkan kebebasan berkehendak atau kebebasan memilih atau kebetulan. Segala sesuatu yang terjadi itu berdasarkan pada sebab atau penyebabnya.

Begitu pula kebencian yang diberikan masyarakat Aceh masa lalu terhadap Snouck Hurgronje. Penyebabnya, karena untuk penelitiannya dengan mempelajari Islam, Snouck memata-matai Aceh di mana nanti hasilnya akan dijadikan sebagai peletak dasar kebijakan mengenai Islam oleh kolonial.

Metode

Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode kualitatif. Metode ini sebagai suatu proses yang tidak pernah berhenti, proses pencarian dan penangkapan makna yang diberikan oleh suatu realitas dan fenomena sosial.

Baca juga:

Penulis juga menggunakan studi kepustakaan (Library Research) dengan mengumpulkan buku-buku, artikel ilmiah, artikel jurnal yang membahas fenomena yang terkait dengan tema dan judul yang penulis ambil. Sumber atau data yang ditemukan penulis kemudian dianalisis untuk mencapai daripada tujuan penulisan atau penelitian ini. Teori yang digunakan adalah teori sejarah spekulatif deterministik.

Hasil dan Pembahasan

Nama Snouck Hurgronje sangat dikenal di Nusantara, terutama wilayah Aceh dan Jawa. Snouck merupakan seorang Orientalis Belanda. Bernama lengkap Christian Snouck Hurgronje lahir pada 8 Februari 1857 di Tholen, Ousterhout, Belanda.

Riwayat pendidikan Snouck dimulai bersekolah di Hogere Berger School (HBS) dan setelah itu melanjutkan pelajarannya di Sekolah Tinggi Leiden Jurusan Teologi, Sastra Arab dan agama Islam. Pada 1880, Snouck Hurgronje mendapatkan promosi doktor dengan judul disertasi Het Mekkaansche Feest, hingga Snouck dianggap sebagai ahli tentang Islam.[1]

Ketertarikan Snouck untuk mempelajari pranata Islam di Aceh dimulai dari niat utamanya untuk lebih mengenal kehidupan sehari-hari orang-orang Makkah. Snouck sendiri di tahun 1884-1885 memijakkan kakinya di tanah Hijaz. Takdir menemukan antara Snouck dengan Habib Muhammad azh Zhahir (seorang keturunan Arab yang pernah menjadi wakil pemerintahan Aceh)[2] mampu mengubah mintanya yang berawal tertarik pada Makkah menjadi pada pranata Islam di Indonesia khususnya Aceh.

Hal pertama yang dilakukannya sebagai upaya ketertarikannya yaitu dengan masuknya Snouck beragama Islam serta berganti nama menjadi Abdul Ghaffar. Di samping itu, semenjak di perguruan tinggi, Snouck rupanya telah memperhatikan perang Aceh.

Snouck melihat kekeliruan politik Aceh yang dilaksanakan oleh pemerintah Kolonial Belanda hingga Aceh belum dapat dikalahkan. Oleh karena itu, Snouck ingin memperdalam pengetahuan mengenai Islam dan mempelajari Aceh lebih mendalam. [3]

Karya-karya ilmiah Snouck terbagi ke dalam dua jenis, yaitu karya dalam bentuk buku dan dalam bentuk makalah-makalah kecil. Karya yang mendunianya dengan tulisan tentang kota Makkah, terdiri dari dua bagian. Bagian pertama terbit di kota Den Haag tahun 1888 dan bagian kedua terbit tahun 1889.

Snouck menulis mengenai suku Gayo[4], di mana beliau juga mempelajari Bahasa Gayo dalam karyanya yang bertajuk Tanah Gayo Dan Penduduknya (Het Gajoland En Zjine Bewoners) diterbitkan Indonesian-Netherland Cooperation In Islamic Studies (INIS) pada 1996.

Halaman selanjutnya >>>
Nadiatul Ulum
Latest posts by Nadiatul Ulum (see all)