Keberanian Mengeroyok Itu Bukan Keberanian

Keberanian Mengeroyok Itu Bukan Keberanian
©CNN Indonesia

Nalar Warga – Apa ya perasaan para pengeroyok bung Ade Armando atau siapa pun yang pernah mengeroyok seseorang yang tak berdaya? Merasa gagah? Masa sih? Merasa suci? Yang bener?

Saat pengeroyok-pengeroyok itu pulang ke rumah masing-masing, kira-kira apa yang akan mereka ceritakan ke keluarga dan tetangga? Bahwa mereka bangga ikut mengeroyok atau membual bahwa mereka berusaha menyelamatkan korban?

Bukankah kedua versi ini sama-sama bullshit? Coba kasih saya bocoran.

Tiap orang punya ukuran-ukuran berbeda. Saya punya ukuran sendiri, dan saya pastikan saya gak nyaman jika diri harus diukur dalam ukuran pengeroyok. Tapi siapa tahu ada orang-orang yang merasa ukuran bajunya sebagai pengeroyok itu membuatnya nyaman. Ceritain dong.

Saat di penjara Salemba dan Cipinang, saya jumpa orang-orang yang dipidana karena membunuh. Ada yang sendirian membunuh dan ada yang keroyokan membunuh. Saat kuajak ngobrol, si pembunuh sendirian bercerita tanpa rasa malu (meskipun menyesal).

Pengeroyok? Hambar dan malu-malu.

Para pengeroyok bukan lapisan terhormat di rumah penjara. Memang tak dihinakan seperti para pemerkosa, tapi tak juga beroleh rasa hormat.

Tak ada pelajaran hidup yang kita (tahanan-tahanan lain) bisa dapat dari bualan mereka (mereka juga tahu sehingga enggan berkisah).

Manusia memang tempatnya salah, tapi setidaknya hindarkanlah dirimu jadi pemerkosa atau pengeroyok. Hidupmu seperti kain lap kering, di mata orang-orang.

Jika nyalimu muncul saat jadi bagian banyak orang, maka harga dirimu cuma sebagian kecil dari jumlah banyak itu.

Saat kau berani karena bagian dari 10 pengeroyok, harga dirimu tinggal 1/10-nya. Saat kau berani karena bagian dari 50 pengeroyok, harga dirimu tinggal 1/50-nya.

*Budiman Sudjatmiko

    Warganet