Keberpihakan dan Humanisme Universal

Keberpihakan dan Humanisme Universal
Edouard Manet, 'Portrait of Emile Zola', 1868.

Humanisme universal hendak mengatakan seluruh manusia adalah satu. Tapi persoalannya, realitas materil tidak menampakkan demikian.

Nalar WargaMemegang teguh sebuah nilai kadang menjadi dilema tersendiri bagi manusia. Di satu sisi, kita akan berteriak kala nilai itu direnggut oleh orang lain. Namun, di sisi berbeda, kita cenderung diam kala nilai orang lain yang direnggut.

Apakah berarti tidak ada nilai yang universal? Ada. Kaum terpelajar kemudian menamakannya humanisme universal, sebuah nilai kemanusiaan yang tak bersekat.

Secara retoris, humanisme universal hendak mengatakan seluruh manusia adalah satu. Tapi persoalannya, realitas materil tidak menampakkan demikian. Sekat-sekat yang hendak dihilangkan ini tidak akan bisa hilang dengan sendirinya.

Sekat itu berupa ekonomi yang tak pernah bisa terdamaikan. Bentrokan antara kaum penindas dan tertindas adalah bentrokan yang tak melulu hadir dalam arti fisis. Bentrokan di sini bisa kita artikan juga sebagai pertarungan wacana.

Dalam salah satu masterpiece Emil Zola, Germinal, kita diajak menelusuri, tidak hanya para penambang yang bertungkus lumus dengan hidupnya, namun juga pertarungan wacana yang tampil di Perancis sekira 1860-an.

Kaum borjuis yang terdiri dari pemilik tambang, manajer, insinyur, dan deputi-deputinya memersoalkan masalah di sekitar saham, menu makanan, seni, atau rekreasi. Sedangkan kaum proletar yang terdiri seluruhnya dari pekerja tambang memersoalkan masalah sehari-hari ihwal gaji, kekurangan makanan, hutang yang menumpuk, atau kesehatan yang memburuk.

Etienne, tokoh utama dalam novel yang bekerja sebagai penambang adalah salah satu orang yang memiliki kesadaran melihat keganjilan ini. Ia gelisah, bagaimana mungkin keluarga penambang hidup sangat sengsara sedangkan bos-bosnya bisa hidup dengan makanan mahal dan kasur empuk?

Meski seorang naturalis, Emile Zola mengajak kita berpikir: manakah yang lebih penting untuk dibicarakan dan diberi perhatian lebih? Di sini, humanisme universal tidak dapat menghindar dari realitas sosial-ekonomi yang akhirnya membentuk sebuah wacana. Seperti salah satu tokoh bernama Hennebeau, seorang manajer tambang Le Voreaux, yang tidak bisa mengerti mengapa para penambang ngotot ingin mendapatkan roti sampai mereka melakukan pemogokan massal dan perusakan di areal tambang.

Alih-alih merenung apa gerangan yang salah, ia malah mengutuki penambang yang menurutnya tidak tahu diuntung. Para penambang, gerutunya, harusnya bersyukur sudah diberi rumah oleh perusahaan, selain gaji berkala. Apa yang tidak dimengerti Hennebeau ini adalah contoh nyata akibat tingkat ekonomi yang berbeda dari para penambang sehingga menghasilkan kesadaran yang berbeda pula.

Katakanlah kita izinkan humanisme universal masuk gelanggang. Apakah perusakan fasilitas pertambangan yang dilakukan para penambang akan tetap ditimpakan kesalahannya pada para penambang? Atau lebih ekstrim lagi, jika ada manajer atau bos tambang yang dibunuh karena mereka menurunkan upah yang menyebabkan lapar berkepanjangan, apakah para penambang akan tetap disalahkan?

Jika para penambang disalahkan karena seorang manajer mati, sedangkan kelaparan hebat menyebabkan ratusan penambang dan keluarganya mati, maka siapa sebenarnya yang tidak adil di sini? Inilah dilema yang saya sebutkan di atas.

Mengikuti Germinal, Emile Zola jelas berpihak pada penambang yang ditindas habis-habisan sampai tak ada satu pun kekuatan tersisa selain tulang berbungkus kulit. Ratusan tahun mereka berketurunan menjadi generasi demi generasi dan tidak juga bisa keluar dari kesengsaraan.

Ada satu sistem yang mau tidak mau harus diubah dan diganti, seperti misi Etienne dalam memimpin para penambang. Etienne berkata bahwa tambang adalah milik para penambang, maka mereka berhak untuk menguasai dan membagikan hasilnya secara adil agar ketimpangan tak lagi terjadi.

Humanisme universal, pada akhirnya, mau tak mau harus mengakui bahwa kemanusiaan bagi seluruh manusia tak dapat tercipta jika penguasaan atas modal dan alat produksi masih dimiliki secara tak berimbang. Ketakberimbangan inilah fondasi bagi bentrokan fisis maupun non-fisis yang hendak didamaikan oleh humanisme universal itu sendiri.

*Arlandy Ghiffari

___________________

Artikel Terkait: