Kecamuk Palestina

Kecamuk Palestina
Foto: irdiplomacy.ir

Sebelum masuk lebih jauh menyoal kecamuk Palestina, tentang konflik berdarah yang terjadi antara Palestina dan Israel, penulis merasa perlu mengupas kembali arti jihad dalam Islam. Penulis meyakini konflik ini bukan saja masalah perebutan wilayah kekuasaan, tapi lebih didominasi oleh faktor aqidah (agama).

Alquran, misalnya, telah menegaskan bahwa orang Yahudi dan Nasrani sampai kapan pun tidak akan pernah rela sampai orang Islam ikut agama mereka. Dua hal besar ini (perebutan wilayah kekuasaan dan agama) dalam sejarah selalu dan hanya dapat dilalui dengan jalan perang. Islam menyebutnya dengan istilah jihad fi sabilillah. Darinya, penting untuk diperjelas kembali tafsir kata jihad dalam Islam.

Berbicara masalah tafsir dalam Islam sangatlah bervarian. Jihad, baik di kalangan mufasir klasik dan modern, ada yang diartikan sebagai suatu kewajiban seperti tafsir Abul A’la Al Maududi dan Sayyid Kutb. Kedua orang ini mengatakan bahwa jihad adalah perang dalam agama, bukan saja mempertahankan, tapi juga menyebarkan pesan-pesan Islam.

Jihad bagi mereka bukan hanya bersifat defensif tapi ofensif, bukan saja bertahan tapi juga menyerang, yang kemudian ini dipakai oleh kelompok radikal untuk mengesahkan kekerasan. Di sini nampak jelas agama di atas segalanya dan memperbolehkan segalanya.

Berikutnya, seperti Hasan Hudaibi punya pandangan berbeda dengan kedua mufasir di atas. Beliau berpendapat bahwa Islam sejatinya adalah agama kasih sayang, agama yang mengajarkan kebenaran, agama yang sangat toleran, antikekerasan.

Asghar Ali Engineer dalam banyak tulisnya itu mengulas tentang adanya kesalahpahaman interpretasi mengenai Islam, baik dari kalangan muslim itu sendiri maupun orang barat. Lebih lanjut, Asghar Ali Enjineer mengatakan bahwa jihad sering kali ditonjolkan sebagai perang melawan orang kafir dan kewajiban semua orang Islam. Padahal semua ayat dalam Alquran tidak menggunakan kata jihad dalam pengertian perang, tapi dengan pengertian berjuang dengan kekayaan dan nyawanya.

Yang perlu diingat bahwa keduanya adalah bagian dari varian atau ragam tafsir yang ada dalam Islam. Sekarang kita tinggal memposisikan diri kita ada pada pemahaman yang mana, keduanya sudah dilandaskan pada argumen yang dapat dipertanggungjawabkan.

Keputusan Donald Trump dengan mengklaim Yerussalem (Al-Quds) sebagai ibu kota Israel adalah sebuah keputusan sepihak yang sangat merugikan Palestina. Ini menambah kecamuk Palestina. Keputusan Trump ini tentu akan memancing adanya eskalasi konflik internasional seluruh dunia, khususnya umat Islam.

Kini nyata kecamuk Palestina dan konflik warisan itu kembali setelah Trump mengakui Yerussalem sebagai ibu kota Israel. Umat Islam mengutuk dan menuntut Trump supaya mencabut kembali keputusannya. Tekanan dan penolakan dari seluruh penjuru dunia terus bergulir melalui negara-negara yang tergabung di KTT OKI (Konferensi Tingkat Tinggi Organisasi Kerja Sama Islam) Istanbul Turki.

Tapi, sayangnya upaya itu belum tentu mengubah rencana Trump yang sangat ambisius dan prinsipil. Baginya, apa yang harus diputuskan haruslah terealisasi, lebih-lebih keputusan Trump mengubah Yerussalem menjadi ibu kota Israel adalah sebagai janji kampanyenya saat Pilpres.

Apa pun alasannya, pantang bagi Trump untuk mencabut kembali sabdanya. Apalagi bagi negara diktator seperti Amerika bukan pertama kalinya berbuat ulah demikian.

Dalam situasi tertindas seperti ini, umat Islam, khususnya Palestina, pasti tendensius pada model tafsir yang pertama, sehingga perang adalah jalan satu-satunya jalan yang dianggap paling benar, jalan yang diridai tuhan. Tidak heran para pejuang Palestina rela melihat anak-anak mereka, istri dan keluarganya harus mati dalam peperangan demi Yerussalem.

Dalam keyakinan umat Islam, Yerussalem merupakan kota suci sebab di dalamnya ada Masjid al-Aqsa. Masjid ini merupakan tempat suci ketiga bagiIslam setelah Masjidil Haram di Mekkah dan Masjid Nabawi di Madinah.

Umat islam yakin Nabi Muhammad ke Yerusalem dari Mekkah ketika melakukan perjalanan malam yang disebut Isra Mi’raj. Diyakini pula di Masjid al-Aqsa Nabi Muhammad salat bersama dengan roh seluruh nabi.

Umat Muslim mengunjungi situs suci tersebut sepanjang tahun. Oleh karenanya, Yerussalem adalah harga mati yang harus terus diperjuangkan dalam arti ofensif, bukan hanya dipertahankan dalam arti defensif, sekalipun dengan darah.

___________________

Artikel Terkait:
Latest posts by Imam Jasuli (see all)