Kecerdasan Emosional Bikin Hidup Lebih Berkualitas

Kecerdasan Emosional Bikin Hidup Lebih Berkualitas
©YouTube

Nalar Politik – Pakar Neurosains dr. Roslan Yusni Hasan menyebut kecerdasan emosional membuat hidup manusia jadi lebih berkualitas.

“Makin cerdas secara emosional ternyata membuat hidup kita lebih berkualitas. Karena makin cerdas kita secara emosi, makin bahagia kita. Makin bahagia kita, kita makin rasional,” jelas Ryu Hasan, sapaan akrabnya, dalam obrolan bersama Gita Wirjawan di YouTube, 16 Februari 2022.

Bertajuk Kecerdasan dan Kebahagiaan dari Perspektif Neurosains, Ryu Hasan mula-mula menjelaskan bahwa emosi mengambil peran penting dalam kehidupan. Emosi, bukan rasionalitas, mengendalikan 99 persen kehidupan manusia.

“Rasionalitas itu sesuatu yang kita sadar penuh (conscious). Contoh, 2+2 = 4 itu kita sadar. Tetapi kita makan itu enggak perlu sadar,” kata Ryu Hasan.

Ia pun menekankan bahwa peran emosi yang besar menentukan seseorang itu cerdas atau tidak secara emosi.

“Misalnya, kalau kita melihat ada orang yang enak didengar ngomongnya, tidak terus kemudian memancing emosi, itu cerdas secara emosi sebetulnya dia itu, membuat orang lain itu nyaman dengan dia.”

Orang yang bahagia dan membuat orang lain bahagia pun, tambahnya, adalah orang sebenarnya cerdas secara emosi.

Lebih jauh tentang kecerdasan, yakni bagaimana individu bisa mempertahankan hidupnya selama yang dimungkinkan. Ia mengambil contoh kecerdasan kecoa yang memang berbeda dengan kecerdasan manusia.

Baca juga:

Seekor kecoa bisa mempertahankan hidupnya selama yang dimungkinkan, itu kecerdasan individu. Tetapi kalau kecerdasan spesies, bagaimana spesies itu bertahan selama mungkin dalam panggung kehidupan.

“Misalnya, kecerdasan homo sapiens, kalau dibandingkan dengan homo erectus, masih belum ada apa-apanya. Mereka (homo erectus) dua juta tahun bertahan.”

Tetapi secara individual, kecerdasan manusia meningkat ketimbang misalnya 120 tahun yang lalu.

“Tahun 1900, rata-rata manusia meninggal pada umur 47 tahun. Sekarang, usia harapan hidup manusia 82 tahun.”

Manusia, sebut Ryu Hasan, sudah lebih cerdas dua kali lipat secara individual. Meskipun kecerdasan lebih banyak lahir dari kecerdasan komunitas, kecerdasan kumulatif, atau kecerdasan terdistribusi, atau kecerdasan bergerombol.

“Mas Gita ini usia sekarang seperti ini masih segar, itu karena kecerdasan kita bersama. Kita memahami cara hidup yang lebih sehat.”

Kalau kemudian manusia punya penyakit, manusia akan mengupayakan bagaimana cara mengatasinya, sehingga usia harapan hidup manusia meningkat tajam dalam waktu 50 tahun terakhir ini.

“Secara individual, manusia makin cerdas. Tetapi secara spesies, nanti dulu. Sejarah yang membuktikan nanti.”

Halaman selanjutnya >>>