Kecolongan Lagi

Kecolongan Lagi
©Twitter

Nalar Warga – Di negara asing manakah tak melihat bahwa Indonesia adalah negara dengan pencapaian hebat pada pemerintahan Jokowi? Dunia terpana melihat perubahan itu. Cara pandang dunia berubah.

Seperti berbaju, modis cara kita memilih model, plus dengan pilihan aksesori matching, serta-merta kita dianggap mewakili mode tatanan dunia baru. Tak berlebihan bila banyak dari mereka tiba-tiba ingin meniru cara kita.

Kombinasi pembangunan infrastruktur yang masif dengan kebijakan ekonomi dan sistem keuangan yang terstruktur telah mengantar kita pada makna matching tersebut. Tak banyak negara lain yang mampu melakukan itu apalagi pada situasi dunia serba sulit seperti saat ini. Kita leading.

Namun, pada rapi kita berbaju, ada fakta bahwa ada cukup banyak tersembunyi luka yang selalu dan sengaja kita sembunyikan.

Sesekali, hanya bau yang tercium dapat kita identifikasi. Kadang, pada sekilas tampak rapi baju kita pun tiba-tiba muncul bercak. Ada luka lama kembali terbuka dan baju kita kotor.

Buru-buru kita bungkus luka itu dengan “perban”. Bukan demi sembuh, sering kali hanya supaya luka itu tak tampak saja. Bau anyir akibat busuk luka itu entah kenapa hanya selalu kita tutup dengan bau yang lain.

Dengan sok anggun, kita siram sumber bau dengan parfum, bukan HANYA semprot.

TELAH TERJADI KESALAHPAHAMAN adalah perban. Telah terjadi KESEPAKATAN DAMAI adalah parfum. Wangi makna RUKUN adalah budaya kita, mereka tebarkan dengan capture foto saling salaman dan pelukan.

Baca juga:

SUDAH HANYA BEGITU SAJA. Selalu keributan yang telah memakan korban berakhir dengan konsensus berhias materai. Bahwa tak lama lagi luka itu bernanah dan kemudian menebar bau anyir lagi, cara yang sama akan kembali mereka lakukan.

Itulah potret kita. Cerita mirip ibu Meliana itu terus berulang dan berulang dan kini giliran pada malam takbiran di NTB dan akan terus diselesaikan dengan cara yang sama dan namun tak ada sedikit pun rasa bersalah telah berlaku KONYOL!

Bila kita masih tak serius menyelesaikan dari sumber masalahnya, akan tiba masa di mana koyak pada banyak luka lama itu terjadi secara bersamaan dan lantas baju maupun parfum tak lagi mampu menutupinya, dan kita mati.

Pada Afghanistan, Libya, Irak, Yaman, dan banyak negara gagal itu sudah terjadi. Tubuh bernama negara itu tak lagi tampak serupa seperti layaknya fisik sebuah negara.

Koyak tanpa terlihat bentuk asli tubuhnya, ditambah dengan fakta hadirnya luka-luka yang sangat dalam itu tak lagi menyisakan harapan sembuh.

Ya, negara memang seperti buta dan tak tahu jalan mana harus dipilih. Memanggil dokter untuk melakukan tindakan operasi, bagi mereka, bukan pilihan. Melakukan tindakan operasi pada faktanya butuh memperlebar luka hingga batas akar infeksi itu telah menjalar.

Dan kita tak ada kata siap. Kita takut luka yang makin lebar itu dilihat banyak orang dan kita malu.

Baca juga:

Memotong jalur infeksi oleh aparat keamanan akan menyentuh kepentingan banyak pihak dan itu seperti makna memperlebar luka di mana aparatus negara memang tak siap apalagi mampu.

Dalam baju politik, aparatus negara itu bilang demi stabilitas keamanan. Dalam fakta, mereka terlalu minder dengan jargon mayoritas padahal faktanya kelompok-kelompok yang terindikasi intoleran itu sangat minoritas yang kebetulan saja dijaga dengan uang dan kekuasaan.

*NitNot

    Warganet