Kehidupan di Facebook

Kehidupan di Facebook
©BBC

Kehidupan di Facebook

Kita banyak tertipu dengan kehidupan di media sosial, di mana kita seolah-olah bisa mengetahui dan mengenal baik seseorang sampai kepada kehidupan sehari-hari bahkan ke ruang privasi, namun banyak sekali apa yang terpapar di layar ponsel atau PC itu fake belaka.

Banyak kasus terjadi, seseorang bertemu di depan layar dan menjalin hubungan baik, tetapi mereka tertipu ketika sudah bertemu kopi darat. Ada juga penipu yang bertemu korbannya juga dari dunia maya ini.

Bagaimana seseorang menaruh kepercayaan pada sesuatu yang dia sendiri belum paham dan tidak ada garansi yang dia pegang padahal di kehidupan nyata, hubungan baik dan kepercayaan kita tahu tidak mudah diperoleh padahan dengan orangb yang bahkan sudah dikenal dengan baik.

Tetapi seperti dua si mata uang media sosial juga bisa diambil manfaatnya dan banyak memberikan kemudahan untuk kehidupan. Maka alangkah bijaknya netizen menggunakan media sosial

Kebetulan saya hanya memiliki satu platform media sosial, yaitu FB atau Facebook. Di antara banyak pilihan medsos, hanya FB yang masih relevan dengan minat dan ketertarikan saya.

Dilihat dari umur, kebanyakan warga Facebook berkisar 10 tahun di bawah sampai 10tahun di atas saya karena pertemanan sebaya akan menciptakan obrolan yang setara, konten yang melintasi feed Facebook juga sangat relate dengan keadaan saya di dunia nyata.

Saya termasuk tidak memiliki banyak pertemanan di Facebook, tetapi pertemanan yang saya jalin adalah dengan orang-orang yang saya kenal baik di dunia nyata, meskipun melalui proses pilih-pilih yang ketat. Karena saya tahu apa yang saya bagikan di Facebook akan dikaitkan dengan diri saya di luar dunia per-Facebook-an oleh sebagian orang yang mungkin punya kepentingan dengan saya.

Baca juga:

Makanya tidak semua orang bisa berteman di dua dunia dengan baik. Pertemanan yang kedua adalah dengan mereka yang tidak saya kenal secara langsung, tetapi memiliki pengaruh yang kuat demgan hobi saya, mempunyai tulisan-tulisan yang menginspirasi, para influencer, tokoh- tokoh publik yang postingannya menambah wawasan atau menghibur.

Untuk berteman ataupun mengikuti akun-akun “artis” yang tidak saya kenal, saya tidak perlu susah payah memikirkan siapa mereka sebenarnya di kehidupan nyata. Artinya saya hanya menikmati tulisan-tulisan, foto-foto dan berbagai postingannya di Facebook.

Meskipun bisa saja suatu hari saya bertemu langsung dengan mereka tetapi itu bukan sebuah tujuan, saya hanya ingin menjalin pertemanan atau mengikuti aktivitasnya di dunia maya. Bagi saya mereka bisa membuka satu pintu ilmu bahkan lebih dari itu, mereka memberikan link ilmu yang baru.

Saya akui ada perubahan berpikir yang terjadi kurang lebih 8 tahun yang lalu tentang masalah-masalah sensitif seperti sejarah sunni-syiah dan isu 1965. Sesuatu yang baru dalam wawasan saya, yang selama ini memperoleh informas dari 1 jalur saja.

Berawal dari sebuah pertemanan yang menghubungkan dengan sebuah sumber diskusi dan bertemu dengan orang-orang yang banyak sepemikran, bertolak belakang atau mereka yang hanya menyimak saja seperti saya. Pertemanan yang saling menghubungkan. Dari sana, saya tertarik mencari teman “artis” yang pemikirannya menarik, saya ingin belajar banyak hal, saya ingin mengetahui banyak sumber pengetahuan dari Facebook.

Sedangkan pertemanan dengan mereka yang sudah kenal di dunia nyata, sebenarnya saya lebih nyaman berteman secara langsung di Ngobrol, jalan bareng, atau beraktivitas bersama. Akrab di dunia nyata, biasa di laman maya, kecuali memang terpisah jarak yang jauh, maka Facebook bisa menjadi salah satu media komunikasi yang mendekatkan.

Namun, pernah suatu ketika saya salah menyimpulkan dari kegatan bermedia sosial seorang teman yang sudah lama sekali tidak bertemu langsung. Saya mengikuti aktivitasnya, memberikan komentar dan memberikan “like” pada postingannya, tetapi ada yang aneh karena tidak satupun teman saya tersebut memposting foto atau video suaminya di Facebook.

Saya merasa tidak elok menanyakan tentang hal tersebut, tetapi penasaran apakah keluarganya baik-baik saja atau sudah berpisah. Sampai suatu saat dia merayakan anniversary pernikahan dan memposting poto bersama suami sekalian menjelaskan di halaman FBnya bahwa suaminya adalah tipe orang yang tidak suka bermedia sosial bahkan tidak suka fotonya dibagikan, diam- diam saya mengutuk sendiri “dasar FB!” gak sesuai realita.

Baca juga:

Sejak saat itu saya tidak mudah memikirkan dan penasaran dengan keadaan teman di Facebook, kecuali memang saya tahu betul keadaan yang sebenarnya sama dengan yang disampaikan di FB. Facebook baiknya tidak dikaitkan dengan kehidupan nyata secara serius cukup sebagai ajang having fun, Facebook sebagai tempat menyimpan kenangan dengan cara membagikan momen-momen dengan teman dan/atau keluarga dan menjadi salah satu media belajar.

Tidak perlu baper (bawa perasaan), tidak perlu iri tidak perlu marah dan kecewa ketika tahu seseorang mencitrakan diri di halaman Facebooknya tidak sesuai dengan realita.

Banyak juga hal-hal positif yang bisa dilakukan di Facebook, ada peluang bermuamalah yang menjadi salah satu jalan rezeki seseorang. Berdagang bisa dilakukan di ruang pribadi yang target marketnya adalah teman-teman sendiri. Bisa juga di fitur market yang sudah tersedia, ketika berjualan di pasar, maka jangkauan pembeli jauh lebih luas mencakup orang-orang yang bahkan tdak mengenal kita tetapi membutuhkan barang yang kita tawarkan.

Facebook juga memberikan kesempatan warganya membuat grup jual beli, meskipun formatnya lebih privat (jual beli khusus anggota grup) tetapi anggota grup juga dibentuk secara acak berkumpul dengan motif yang sama.

Facebook juga memberikan fitur hiburan, film-film bagus banyak yang bisa diakses lewat video di Facebook. Segala macam lagu, dan video-video pendek, bahkan sekarang semua orang bisa membuat konten berbayar yang menghasilkan uang.

Halaman Facebook juga banyak diisi dengan dakwah dan konten-konten motivasi, yang ketika melewati berandamu bisa saja mengubah mood menjadi lebih baik dan bersemangat. Tidak ada salahnya menggunakan media sosial sebagai salah satu tempat mengisi waktu selama dengan takaran yang sesuai, dan di waktu yang tepat.

Esti Budi Utami
Latest posts by Esti Budi Utami (see all)