Kekerasan dan Resolusi Konflik Gary T. Furlong dalam Kisah Habil dan Qabil

Kekerasan dan Resolusi Konflik Gary T. Furlong dalam Kisah Habil dan Qabil
©Kompas

Kekerasan dan Resolusi Konflik Gary T. Furlong dalam Kisah Habil dan Qabil

Di dunia ini manusia tidak hidup sendiri melainkan hidup dengan berbagai komunitas manusia yang memiliki perbedaan tujuan, kepentingan, dan kebutuhan. Tidak jarang dari perbedaan itu, lahir berbagai macam konflik. Konflik yang lahir dari perebutan akan kebutuhan, tujuan dan kepentingan.

Dalam hidup, konflik merupakan keniscayaan karena perbedaan masing-masing orang. Selain itu, konflik pada dasarnya tidak selamanya buruk, konflik memang harus ada bukan untuk dihindari melainkan diselesaikan.

Konflik harus ada dikarenakan dengan adanya konflik kita menjadi tahu bahwa hidup tidak sedang baik-baik saja, hidup sedang penuh masalah dan harus diselesaikan. Malasahnya terkadang di dalam menyelesaikan konflik orang justru bukan dengan cara-cara yang baik, melainkan dengan cara kekerasan. Sehingga yang lahir bukan keadilan, melainkan kehancuran.

Kenyataan konflik yang diakhiri dengan kehancuran bahkan pembunuhan sejatinya sudah ada sejak manusia diciptakan, yakni melalui Habil dan Qabil. Dari kisah tersebut, kita bisa memetik pelajaran bahwa konflik yang tidak diselesaikan dengan baik bisa melahirkan konflik yang destruktif atau kehancuran.

Konflik Habil dan Qabil

“Dan ceritakanlah (Muhammad) yang sebenarnya kepada mereka tentang Adam (Habil dan Qabil), ketika keduanya mempersembahkan korban, maka (korban) salah seorang dari mereka berdua (Habil) diterima, dan yang lain (Qabil) tidak diterima. Dia (Qabil) berkata; “sungguh aku pasti membunuhmu”. Dia (Habil) berkata; “sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang yang bertakwa” (Al-Maidah: 27).

Ayat di atas sejatinya ingin mengisahkan tentang dua pemuda mengenai rencana Nabi Adam  yang berencana menikahkan anaknya Habil dengan Iklima dan Qabil dengan Labuda. Namun, Qabil tidak terima dengan keputusan ayahnya (Nabi Adam). Hal itu disebabkan bahwa Iklima lebih cantik dari Labuda.

Mendengar ‘pemberontakan’ dari anaknya Qabil, Nabi Adam kemudian meminta petunjuk pada Allah Swt. Petunjuk itu kemudian memberikan Nabi Adam jalan keluar, yakni dengan melakukan persembahan. Bahwa barangsiapa diterima persembahan kurbannya, maka ia pantas menikahi Iklima.

Baca juga:

Meski jalan keluar tersebut sudah dilakukan dengan baik dan pada akhirnya Habil tetap menikahi Iklima. Namun, Qabil tetap saja tidak ikhlas menerima keputusan tersebut. Sehingga dengan perasaan marah, kecewa, dan frustasi ditambah hasutan iblis. Qabil pun lantas membunuh saudaranya, yakni Habil.

Kekerasan dan Konflik Destruktif Habil dan Qabil

Kisah Habil dan Qabil di atas sejatinya banyak sekali dijumpai di dunia yang semakin modern ini. Konflik yang seharusnya bisa diselesaikan dengan baik, namun berujung pada petaka dikarenakan hawa nafsu, kebencian, dan amarah. Menurut Simon Fisher konflik adalah suatu kenyataan hidup, tidak terhindarkan dan sering bersifat kreatif.

Konflik terjadi ketika tujuan masyarakat atau individu tidak sejalan. Berbagai perbedaan pendapat dan konflik biasanya diselesaikan tanpa kekerasan, dan sering menghasilkan situasi yang lebih baik bagi semua pihak yang terlibat.

Selain itu, konflik memang selalu ada dan dibutuhkan, tujuannya antara lain membuat orang menyadari adanya banyak masalah, mendorong ke arah perubahan yang lebih baik (Fisher, 2000).

Namun, menciptakan perubahan yang baik melalui perwujudan konflik harus diselesaikan dengan cara-cara yang baik, jika tidak yang lahir justru adalah konflik destruktif sebagaimana dalam kisah Habil dan Qabil.

Konflik destruktif merupakan konflik yang dapat melahirkan dampak negatif dan kerugian bagi pihak-pihak yang berkonflik. Seringkali pelaku konflik destruktif bersifat kaku dan kasar. Proses konflik diartikan bukan sebagai solusi menciptakan keadilan, melainkan upaya untuk mengalahkan atau menghancurkan lawan-lawan konflik (Arsyad, 2023).

Proses konflik yang dilakukan secara destruktif di dalam realitas sosial masyarakat, pada gilirannya bisa menjadi api dalam sekam yang jika tidak diselesaikan dengan baik akan timbul kekerasan jika ada pemicunya. Kekerasan itu bisa lahir dalam tiga cara, sebagaimana dikatakan oleh Johan Galtung, yakni:

1). Kekerasan langsung. 2). Kekerasan kultural. 3). Kekerasan struktural. Kekerasan langsung, yakni berupa pembunuhan, penyiksaan, dan penganiyaan. Kekerasan kultural, yakni merupakan aspek sosial kebudayaan masyarakat tertentu yang membiarkan terjadinya kekerasan. Kekerasan struktural, yakni kekerasan yang berbasis pada sistem, hukum, dan undang-undang (Liere, 2010).

Baca juga:

Kasus Habil dan Qabil merupakan konflik yang bisa dikategorikan konflik destruktif yang melahirkan kekerasan. Semua itu diawali oleh rasa frustasi, kebencian, hawa nafsu, dan amarah. Sesuatu yang dimulai dengan emosi memang tidak dapat berjalan dengan baik dan adil.

Resolusi Konflik Gary T. Furlong

Di dalam kisah Habil dan Qabil, Nabi Adam sebagai seorang bapak sebenarnya sudah meminta petunjuk kepada Allah Swt agar diberi jalan keluar. Dan Allah Swt sudah memberikan solusi dan jalan keluar akan kejadian tersebut.

Namun Qabil tetap saja tidak menerima solusi dan jalan keluar tersebut, dalam konteks sosial hari ini, meski seseorang atau sebuah lembaga sudah melakukan musyawarah, diskusi, dialog, dan negosiasi, namun juga tidak kunjung menemukan jalan keluar. Sehingga timbul pertanyaan apa yang salah dengan negosiasi, musyawarah atau dialog yang kita lakukan sehingga masih saja terjadi konflik yang cenderung destruktif.

Untuk mengatasi hal tersebut, Garry T. Furlong salah satu pakar resolusi konflik memberikan teori untuk dijadikan acuan agar musyawarah dan dialog yang dilakukan bisa efektif, yakni dengan memperhatikan tiga aspek saat melakukan musyawarah; 1). Substansif. 2). Prosedural. 3). Psikologi.

Pertama substansif, yakni kesepakatan diantara kedua belah pihak sesuai yang diharapkan. Hal ini bisa berupa pemberian ganti rugi, pemulihan, dan komitmen. Kedua prosedural, yakni transparansi (keterbukaan) terhadap pihak-pihak yang berkonflik seperti perundingan.

Ketiga psikologi, yakni upaya para pihak bisa menjadi bagian dari sebuah proses, dimana masing-masing pihak bisa menjadi atau merasa merupakan bagian dari proses sedang berlangsung. Sehingga pihak yang berkonflik merasa puas dikarenakan kesepakatan dan kerjasama (Furlong, 2005).

Daftar Referensi
  • Arsyad, M. (2023). Konflik Sosial dan Resolusinya. Yogyakarta: Zahir Publishing.
  • Fisher, S. (2000). Mengelola Konflik. Jakarta: The British Council Indonesia.
  • Furlong, G. T. (2005). The Conflict Resolution Toolbox. Canada.
  • Liere, L. v. (2010). Memutus Rantai Kekerasan. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Dimas Sigit Cahyokusumo