Kelas Menengah yang Semakin Konservatif

Kelas Menengah yang Semakin Konservatif
Ahmad Dhani | Instagram Image

Nalar PolitikSurvei membuktikan, kelas menengah adalah kalangan paling rentan terjangkiti konservatisme, bahkan radikalisme, keagamaan. Hal ini sekaligus membantah bahwa kemiskinan punya hubungan langsung dengan dua paham perusak tersebut.

“Orang miskin lebih mempunyai perhitungan rasional ketika ditawari bergabung ke dalam arus itu. Kalangan yang paling rentan justru adalah kelas menengah. Berbagai survei membenarkan gejala ini,” beber peneliti LIPI Amin Mudzakkir dalam keterangan tertulisnya.

Kenapa hal ini bisa terjadi? Menurut Amin, penyebabnya bisa bermacam-macam.

Di era neoliberal sekarang, jelasnya, kelas menengah adalah pihak yang sesungguhnya paling dirugikan. Mereka berada di luar skema jaminan kesejahteraan sosial negara. Sehingga nasibnya sangat tergantung pada gelombang pasar yang naik-turun mengikuti kurs dollar.

“Lihat saja kasus kehebohan zonasi pendidikan dan penyalahgunaan SKTM (Surat Keterangan Tidak Mampu) hari-hari terakhir ini. Kelas menengah begitu panik. Sehingga menggunakan segala cara untuk menyelamatkan diri dan masa depan keluarganya.”

Dalam situasi psikologis yang panik itu, lanjut Amin, kelas menengah gampang sekali tertarik oleh bujuk rayu konservatisme, bahkan radikalisme, keagamaan.

“Mereka mudah terbuai oleh ceramah ustaz atau ustazah seleb di televisi dan media sosial, meski konten ceramahnya tidak substansial. Bagi mereka, agama adalah parasetamol 500 mg yang diharapkan bisa manjur mengobati sakit kepala karena tekanan keinginan untuk naik kelas atau takut jatuh miskin.”

Dalam konteks politik Indonesia sekarang, kelas menengah ini pulalah yang menurutnya paling membenci Jokowi setengah mati. Bagi mereka, sosok Jokowi ini, dari segi fisik saja, dianggap tidak meyakinkan, lalu diyakini membuat hidup mereka semakin susah.

“Sebagai gantinya, mereka mengembangkan mimpi tentang pemimpin-pemimpin hebat dari negeri antah-berantah. Tidak peduli lagi apakah mimpi itu masuk akal atau tidak. Sebagian mereka memang terpelajar, tetapi sudah tidak membaca buku serius lagi sejak lulus sekolah puluhan tahun silam,” pungkasnya.

___________________

Artikel Terkait: