Kelestarian Alam Perspektif Wahdatul Wujud

Kelestarian Alam Perspektif Wahdatul Wujud
©Okezone

Kelestarian Alam Perspektif Wahdatul Wujud

Agama sebagai sumber nilai dan spiritualitas bagi masyarakat merupakan salah satu faktor strategis yang turut mempengaruhi pandangan masyarakat tentang lingkungan hidup. Oleh karena itu, konsep-konsep dan ajaran agama pada gilirannya mempunyai arti penting bagi pengembangan kesadaran pentingnya kelestarian lingkungan hidup.

Alam dan kehidupan merupakan lingkungan hidup manusia dalam sistem alam semesta. Dengan sistem nilai dan norma tertentu, manusia dapat merubah alam menjadi sumber kehidupan yang bermanfaat (positif) atau mudarat (negatif).

Namun, dalam kenyataannya sehari-hari yang dilalui. Banyak masyarakat justru menjadikan alam secara mudarat alias semena-mena dengan rakus mengeruk sumberdaya alam untuk kepentingan pribadi. Dalam beberapa kasus, kerusakan lingkungan hidup di Indonesia telah masuk ditahap yang mengkhawatirkan. Kerusakan alam yang disebabkan oleh beberapa perusahaan juga turut memperparah keadaan.

Dinas Lingkungan Hidup Jakarta pada tahun 2017, pernah menyebutkan bahwa pencemaran udara di ibu kota banyak berasal dari debu proyek pembangunan. Kadar polutan yang dihasilkan oleh debu proyek pembangunan di Jakarta bahkan relatif tinggi, mencapai  PM 2.5 partikel. Debu PM 2.5 juga dikenal sebagai silent killer karena partikel tersebut dapat menembus dan terhirup melalui masker.

Selain proyek, transportasi darat dan limbah industri juga ikut menyumbang polusi. Contoh kasus kali Cikarang Bekasi Laut (CBL) terpapar limbah yang terindikasi mengandung bahaya dan racun (AIG, 2019).

Contoh di atas merupakan beberapa contoh kerusakan lingkungan hidup, selain beberapa kerusakan-kerusakan akibat datangnya perusahan-perusahaan besar, seperti dalam kasus Pegunungan Kendeng, PT. Freeport, dan Pegunungan Tumpang Pitu. Dimana kehadiran perusahaan itu tak sedikit telah mengakibatkan adanya kerusakan lingkungan. Lantas bagaimana Islam, sebagai agama mayoritas di Indonesia menanggapi isu lingkungan hidup?

Islam dan Alam

Islam memandang bahwa segala sesuatu itu adalah ciptaan Allah Swt, termasuk di dalamnya adalah alam semesta. Oleh karena itu, alam dan lingkungan hidup bagi Islam juga menjadi hal utama untuk dijaga kelestariannya. Karena sebagai ciptaan Allah, manusia tidak pantas untuk merusaknya. Sebagaimana dalam bunyi surah Al-Qashash ayat 77; “Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”.

Sebagai manusia yang diciptakan sebagai khalifah di muka bumi. Sudah seharusnya manusia berperan untuk memiliki tanggung jawab untuk melakukan kebaikan dan menjauhi kerusakan. Abu Hayyan dalam buku tafsirnya Al-Bahru Al-Muhith menafsirkan surah Al-Araf ayat 56;

Baca juga:

“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Allah memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan harapan. Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang yang berbuat baik”.

Dalam tafsirnya Abu Hayyan mengatakan bahwa ayat ini merupakan penegasan larangan semua bentuk kerusakan. Maka itu, membunuh jiwa, keturunan, harta benda, akal, dan agama merupakan perbuatan yang dilarang. Upaya pelestarian lingkungan tak hanya dalam tataran konsep, tetapi juga mewujud dalam kehidupan muslim (Hafil, 2020).

Selain itu, dari kacamata keruhanian Islam yang menyebutkan bahwa manusia adalah sebaik-baik ciptaan yang diturunkan sebagai khalifah dan diberi amanah dan merawat bumi. Merupakan isyarat bahwa sesungguhnya manusia dan alam adalah satu kesatuan.

Kelestarian Alam Perspektif Wahdatul Wujud

Pada hakikatnya alam dan Allah memiliki hubungan yang saling timbal balik secara spiritual. Dalam satu pengertian di dunia tasawuf. Allah adalah tanzih, yakni mengatasi segala sesuatu, tidak serupa dengan apapun. Dalam pengertian lain, segala sesuatu adalah tajjali-Nya, dan karenanya wujudnya bergantung pada Wujud Ilahi.

Karena pada dasarnya alam semesta dengan segala isinya merupakan ciptaan atau bentuk dari tajjali-Nya. Maka sesungguhnya Allah Swt ikut “campur” dalam kelangsungan hidup manusia di alam semesta ini. Sebab, hal-hal yang ada di alam semesta, termasuk manusia adalah bagian dari totalitas, bagian-bagian yang saling membutuhkan dan saling bergantung satu sama lain di bawah kendali dan kekuasaan Allah Yang Maha Kuasa.

Karena terdapat “campur tangan” Ilahiah dalam alam semesta, maka kesadaran berlingkungan merupakan kesadaran yang tidak terpisahkan dari kesadaran spiritual. Karena alam dan lingkungan juga merupakan makhluk Allah Swt, maka mencintai alam (menjaga dan melestarikan) adalah salah satu syarat mencintai Tuhan. Kesadaran spiritual ini harus diterjemahkan dalam kesadaran ekologis manusia, yakni diperoleh dengan memaknai interaksi antar sistem wujud, antara manusia dengan alam dan lingkungan.

Alam yang juga tajjali-Nya merupakan salah satu sarana atau media untuk mengenal-Nya, melalui tafakur dan perenungan alam. Sebagaimana Allah berfirman dalam surah Ali-Imran ayat 190-191;

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta pergantian siang dan malam terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berakal, yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambal duduk atau dalam keadaan berbaring, dan memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi”.

Baca juga:

Sebab jika tidak ada interaksi antar sistem wujud tanpa mengikutsertakan aspek spiritual “persatuan ilahiah” antara aspek tanzih dan tasybih Tuhan. Maka manusia akan bertindak sewenang-wenang terhadap alam dan mengeksploitasinya secara rakus penuh hawa nafsu (Achmad, 2016). Sebagaimana sudah diingatkan dalam surah Al-Alaq ayat 6-7; “Sesungguhnya manusia akan berlaku sewenang-wenang ketika merasa mampu”.

Oleh karena itu, kesadaran ekologis yang berorientasi spiritual ini harus menjadi kesadaran yang mewujud di dalam kehidupan sehari-hari. Sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Arabi bahwa; “pengetahuan tentang segala sesuatu sebenarnya hanya dapat diperoleh melalui pemahaman bahwa segala sesuatu di alam semesta adalah tajjali dari Allah.

Segala sesuatu adalah tanda-tanda yang menunjukkan Nama dan Sifat Ilahi. Ini bukan pengetahuan teoritis, melainkan pengetahuan tentang makrifat. Ini pengetahuan tentang Allah Yang Maha Meliputi” (Achmad, 2016).

Daftar Referensi
  • Achmad, U. (2016). Islam Geger Kendeng (dalam Konflik Ekologis dan Rekonsiliasi Akar Rumput). Jakarta: Prenadamedia Group.
  • AIG. (2019, Desember 9). Lindungi Lingkungan dan Bisnis Perusahaan dari Ancaman Pencemaran. Retrieved from aig.co.id.
  • Hafil, M. (2020, Mei 31). Islam dan Lingkungan Hidup. Retrieved from republika.co.id.
Dimas Sigit Cahyokusumo
Latest posts by Dimas Sigit Cahyokusumo (see all)