Kematian Metafisika dalam Perspektif Wittgenstein Awal

Kematian Metafisika dalam Perspektif Wittgenstein Awal
Ludwig & Paul Wittgenstein [ONB]

Membaca (Lagi) “Tractatus Logico-Philosophicus” Wittgenstein; Catatan Zaman Kuliah

Pada mulanya adalah kata (Yohannes 1:1)

“The world is all that is the case,” tukas Ludwig Josef Johann Wittgenstein, filsuf paling menghebohkan selepas masa Perang Dunia II itu dalam pembukaan bukunya yang termasyhur, Tractatus Logico-Philosophicus (1922)—yang untuk selanjutnya kita singkat Tractatus.

“Dunia ini adalah sedemikian adanya” boleh jadi merupakan sebuah pernyataan yang cukup lugas dalam ranah filsafat di masa itu. Sebagai dalil pertama dari buku yang ia tulis dalam bentuk berupa dalil-dalil pernyataan pendek dan bernomor urut itu, sejak semula pernyataan tersebut barangkali memang telah mengisyaratkan pandangan Wittgenstein terhadap metafisika.

Bagi Wittgenstein muda dengan Tractatus-nya, metafisika adalah sebuah daerah yang tabu bagi filsafat karena tak memiliki referensi-acuan yang jelas, yang dapat kita ungkapkan sebagai pengalaman empiris. Tentu saja, ini merupakan buah kesepakatannya dengan pemikiran Schopenhaues yang membagi kenyataan ke dalam dua wilayah. Yaitu, wilayah yang tidak kita ketahui secara konseptual; yang tak ada apa pun mengenainya yang dapat kita bicarakan, dan wilayah pengalaman indrawi kita; atau wilayah fenomenal yang kita alami sehari-hari.

Wilayah berada di luar jangkauan indra itu, oleh Wittgenstein, kemudian disebut sebagai The Mystically; sesuatu yang tak perlu kita bicarakan karena belum terketahui atau kita alami.

Boleh kita katakan, inti dari buku tipis yang judulnya konon terilhami Tractatus Theologico-Politicus karya Spinoza ini adalah “bentuk logis”; sebuah relasi internal yang sama-sama ada pada lukisan dan pemandangan alam, yang memungkinkan kita berbicara tentang dunia dalam bahasa.

Dari sinilah kemudian Wittgenstein memperkenalkan apa yang ia istilahkan dengan “The Theory of Picture” (Teori Gambar [Mengenai Makna]). Dalam teori ini, apa pun proposisi yang manusia bahasakan haruslah memiliki dua unsur, yakni struktur bahasa dan struktur realitas. Sehingga dengan demikian yang satu dapat menampilkan yang lainnya. Atau dengan kata lain, setiap kata merujuk kepada benda, setiap kalimat merujuk kepada kondisi alam nyata.

Dalam Tractatus, suatu bahasa tertentu kita mengerti sebagai bahasa model atau bahasa standar yang dengannya kita mendeskripsikan kenyataan (“A picture is a fact”, “A picture is a model of reality”).

Persoalan Utama Filsafat

Filsafat Wittgenstein pada dasarnya adalah sebuah filsafat kasus. Lebih mengacu kepada upaya menentukan makna, kelogisan, kelayakan ungkapan bahasa, dan ketepatan aturan bahasa.

Bersama J.L. Austin di Oxford, ia mengkritik pedas filsafat Barat yang baginya selama ini telah melakukan kesalahan dengan terlampau memusatkan perhatian pada ontologi dan membangun fondasi di atas epistemologi. Padahal persoalan terbesar yang filsafat hadapi bukanlah terletak pada misteri-misteri dunia (ruang, waktu, materi, hubungan sebab-akibat, dan lain-lain), tetapi semata-mata lebih kepada masalah penggunaan bahasa.

Baca juga:

Filsafat menjadi ruwet bahkan tak terpahami lantaran kekacauan dalam pemakaian bahasa secara tidak tepat. Kesalahan penggunaan bahasa mengakibatkan hal-hal yang sederhana pun menjadi rumit. Sehingga, hal ini menyebabkan kita terperosok ke dalam kerancuan logika.

Tugas seorang filsuf, menurut Wittgenstein, pertama-tama adalah meluruskan kerancuan tersebut melalui analisis-analisis mendalam terhadap penggunaan bahasa. Inilah yang seyogianya menjadi pikulan filsafat, yakni hanya menyeleksi masalah-masalah konseptual, menganalisis dan memperjelas konsep-konsep dan penggunaannya tersebut.

Karena itulah, baginya, bahasa filsafat yang masuk akal harus membatasi dirinya pada wilayah yang dapat kita bicarakan. Bila tidak, pembicaraan kita hanya akan tergelincir menjadi semacam omong kosong tak bermakna tatkala kita mencoba melampaui batas-batas tersebut.

Dalam hal ini, secara amat tegas, ia menyatakan bahwa selayaknya filsuf mengerangkeng diri dalam hal berbahasa dan logika. Tugas filsafat hanya berada sejauh perbatasan hal-hal yang masuk akal bagi pemikiran konseptual karena “kita selalu terkurung dalam suatu gambar”.

Metafisika dan Batas Indrawi

Tentu saja, metafisika sebagai studi tentang “yang ada” (sains of being) merupakan sebuah ranah yang menembus jauh keluar batas kemampuan pengindrawian kita dalam upaya menghargai “totalitas” pengalaman dan pengetahuan manusiawi. Secara etimologis, ia bermakna mengatasi dunia fisik yang empiris. Ia mengkaji tentang ada, struktur realitas, prinsip pertama, akar terdalam, mengkaji kategori, scientia sacra, dan sebagai kehendak keindahan; yang menyelidiki kenyataan hingga bagian yang terdalam dari semua hal.

Dengan demikian, metafisika kemudian berbicara mengenai substansi, aksidensi, esensi, dan sebagainya. Hal-hal yang tak memiliki referensinya dalam wilayah dunia fenomenal yang mampu pancaindra kita kecap, tapi berada dalam kerimbunan misteri yang tak bisa kita usik, empiriskan, logikakan, maupun kita paksa bertekuk lutut dalam genggaman logika manusia dan hasil pertarungan logika demi pencarian kebenaran absolut transendental.

Keberadaan Tuhan sebagai The Perfect Being, misalnya, adalah sesuatu yang bersembunyi di luar dunia fenomenal. Ia tak dapat kita ekspresikan atau gambarkan. Sehingga di sini filsafat takkan mampu melihat dan mengajakNya bertatap muka, berkomunikasi dan membawaNya ke dalam pengalaman indrawi kita

Tentang hal ini Wittgenstein menjawab dengan lantang: I would really, this is a fact, say “I can’t say. I don’t know,” because I haven’t any clear idea what I’m saying when I’m saying “I don’t cease to exist”. Selanjutnya ia mengatakan bahwa meskipun ia dapat memahami konsep Tuhan seperti keterlibatanNya dalam pengganjalan terhadap dosa dan kesalahan seseorang, namun ia tak bisa memahami konsepsi dari Sang Pencipta.

Karena itulah, bagi Wittgenstein, dunia Tuhan akan selalu berada di luar batas-batas dunia sekaligus terbaring di luar dunia. Lantaran struktur bahasa adalah elemen primer yang mencerminkan fenomena realitas dalam dunia bahasa. Dalam hal ini, tersadari atau tidak, bahasa menjadi pemantul dan pantulan realitas dunia yang “all thas is the case”, yang begitulah adanya “What is the case—a fact—is the existence of atomic fact,” lanjut Wittgenstein.

Dunia adalah fakta, pengalaman dengan fakta-fakta yang harus dapat kita bagi hingga bagian-bagian yang terkecil sebagai bentuk-bentuk peristiwa.

Halaman selanjutnya >>>

Sunlie Thomas Alexander
Latest posts by Sunlie Thomas Alexander (see all)