Kenapa Novelis Ayu Utami Harus Pilih PSI

Kenapa Novelis Ayu Utami Harus Pilih PSI
Ayu Utami

Novelis kenamaan Ayu Utami membeberkan alasan dirinya kenapa harus memilih Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Menurutnya, PSI adalah suara yang segar dan pantas diberi kesempatan sebagai partai baru.

Hal tersebut Ayu nilai dari upaya kader-kader PSI meloloskan partainya menjadi peserta Pemilu 2019. Pun misi utama PSI dalam hal mencegah tumbuh-suburnya praktik intoleransi di Indonesia.

“PSI telah membuktikan kerja kerasnya untuk lulus menjadi partai yang bisa dipilih. PSI juga menjadi satu-satunya partai yang berani bersuara dalam hal toleransi,” jelas Ayu dalam satu video berlabel #MenangkanJokowiPilihPSI.

Sebagai perbandingan, Ayu Utami menceritakan pengalamannya memilih partai-partai lain. Ia merasa bahwa partai-partai besar seperti PAN, PDI-P, dan Demokrat tidak lagi memikirkan konstituen. Mereka, kata penulis Bilangan Fu ini, lebih banyak disibukkan dengan agenda politik kekuasaan.

“Tidak mewakili kaum minoritas. Mereka (partai-partai besar) adalah partai-partai yang pragmatis dan tidak peduli pada kaum minoritas yang mungkin tidak terlalu langsung menguntungkan suara,” pungkas Ayu.

Seperti diketahui, PSI merupakan salah satu partai pendatang baru di kancah perpolitikan nasional. Ia punya komitmen sebagai kekuatan politik baru yang hendak mengembalikan politik ke tempatnya yang paling terhormat.

“PSI lahir dari kesadaran bahwa politik adalah sebuah tugas mulia untuk mewujudkan kebahagiaan bagi semua orang. Atas dasar itulah kami bertekad mengakhiri sengkarut politik hari ini dengan mengembalikan politik kepada nilainya luhur.” (lihat: Apa Itu PSI?)

Berbekal jargon Terbuka, Progresif, Itu Kita, PSI punya misi menghadirkan segala hal yang baru, mulai dari ide baru, gagasan baru, cara baru, orang baru, hingga mesin baru.

“Tentu tidak mudah menjalankan hal yang baru. Karenanya, kami membutuhkan Anda, terutama anak muda dan perempuan Indonesia yang selama ini merasa jauh dari politik. PSI kami persembahkan untuk Anda, karena kami bukan siapa-siapa tanpa Anda.” (lihat: Kenapa PSI)