Kepemilikan Pribadi Atas Properti

Kepemilikan Pribadi Atas Properti
©Braxton

Kepemilikan pribadi atas properti mungkin memang bukan “bawaan asali” masyarakat di Nusantara. Juga faktanya, hingga kini, kepemilikan pribadi atas properti tidak dikenal di sejumlah etnik/sub-etnik.

Saya tidak sedang mengevaluasi mana yang lebih baik bagi komunitas etnik, apakah kepemilikan kolektif atau kepemilikan pribadi. Tapi juga, coba lihat di kawasan-kawasan urban di mana orang dari beragam latar belakang kultural bertemu mengais rezeki. Apa yang diperjuangkan jika bukan kepemilikan pribadi atas properti?

Banyak di antara para pejuang ini berasal dari komunitas-komunitas etnik di mana properti pribadi tidak dikenal pada awalnya, malah mungkin masih tidak dikenal hingga kini. Tetapi mereka, orang-orang rantau ini, meninggalkan kolektivisme mereka sebagai masa lalu, hidup dalam kekinian ekonomi berbasis pertukaran kepemilikan pribadi.

Kenapa mereka melakukannya? Cuma mereka yang tahu pasti. Dugaan saya, mereka tidak mendapatkan yang ingin mereka dapatkan di kampung halaman: kepemilikan pribadi!

Hanya di kawasan-kawasan urban ini kepemilikan pribadi itu mungkin. Tenaga dan keahlian SAYA untuk uang yang akan SAYA miliki. Uang SAYA untuk makanan, pakaian, atau rumah yang akan menjadi kepunyaan SAYA. Dan seterusnya yang serba milik SAYA.

Mungkin, sesekali orang-orang ini bernostalgia merindukan kolektivisme ala kampung halaman. Sesekali mereka mencaci maki kapitalisme dan privatisasi dengan memposting status di media sosial—dengan gadget pribadi yang dibeli dengan uang pribadi, sambil menikmati bir atau kopi di kedai-kedai usaha pribadi, atau menjelang istirahat di ranjang dalam rumah—yang lagi-lagi dimiliki secara pribadi.

Boleh jadi ini sebuah keterpaksaan dalam situasi kapitalistik yang tak terhindarkan. Dan saya kira wajar saja jika mereka kadang memimpikan keruntuhan kapitalisme dan segala properti kembali dimiliki secara kolektif.

Tak ada cita-cita yang sepatutnya dilarang. Termasuk cita-cita kolektivisme. Tapi untuk bisa meyakinkan orang lain berjalan bersama cita-cita Anda, seperti kata orang bijak, mereka harus mulai dari diri mereka sendiri. Jadilah teladan untuk orang lain.

Kepada mereka saya ingin berkata, “Tanyakan kepada diri Anda sendiri, masih adakah barang-barang yang Anda klaim sebagai milik Anda pribadi? Seberapa rela Anda melepasnya untuk menunjukkan kepada dunia inilah kolektivisme yang memeluk manusia dalam hangatnya sebuah kebersamaan?” Andai saya bisa mendengar jawabannya.

Nanang Sunandar
Latest posts by Nanang Sunandar (see all)