Kepemimpinan Libertarian yang Artifisial

Kepemimpinan Libertarian yang Artifisial
©CoinDesk

Kepemimpinan libertarian bersifat artifisial. Karena memang berbeda dengan model-model kepemimpinan klasik atau modern.

Menjadi libertarian bukanlah sebuah tren ataupun mudah didapat predikat liberalisnya. Saat ini, banyak aktor, aktris, aktivis, politisi, tokoh media, guru, profesor, ilmuwan, dan penulis yang menyebut diri mereka sebagai libertarian. Sah-sah saja, sesuai dengan level kebebasannya.

Justru kalau dibuat ketat parameter dan perimeternya, malah bukan libertarian lagi namanya. Tidak perlu terlalu ngototuntuk menilai apakah mereka benar-benar memenuhi syarat secara filosofis dan fundamental sebagai seorang libertarian. Sebagaimana ngototnya mereka yang asal-asalan menuduh ini dan itu sebagai seorang libertarian.

Sebagai starting packs, libertarian dapat dikatakan sebagai pendukung dan pelaksana penuh konsistensi pasar bebas, pemerintahan yang minimalis, dan toleransi sosial yang tinggi. Ini cukuplah sebagai starting packs pembeda antara libertarian dengan yang konservatif. Starting packs ini cukup untuk membuat teriakan lantang, “Jauhkan pemerintah dari ruang rapat dan kamar tidurmu!”

Starting packs di atas akan sangat moncer jika Anda sedikit meluangkan waktu untuk bersilaturahmi kepada 100 orang libertarian yang didapuk menduduki kursi paling berpengaruh di dunia. Daftar 100 orang ini adalah hasil survei yang dilakukan oleh Freedom Fest.

Survei yang melibatkan lebih dari 10.000 orang ini telah mengidentifikasi lebih dari 200 orang yang mereka anggap paling berpengaruh dalam lingkup libertarian. Cek saja, siapa tahu Anda nyangkut.

Beberapa yang dikenal, antara lain Ron Paul, sang pembawa platform libertarian di dunia politik konservatif yang buas. Dia juga telah menulis beberapa buku filsafat libertarian tentang ekonomi, pendidikan, kebijakan luar negeri, dan kebebasan.

Kemudian ada Rand Paul, Senator junior negara bagian Kentucky yang putra Ron Paul itu. Partai Republiknya mampu membawa libertarianisme ke arus utama dengan memajukan tongkat estafet obor gerakan yang dinyalakan oleh ayahnya. Dia telah menjadi salah satu suara paling keras menentang turut campurnya pemerintah, terutama pada masalah pendapatan, privasi, dan keadilan.

Dari daftar tersebut, ada juga si Steve Forbes. Sang pemimpin redaksi Forbes ini telah menjadi pelopor platform pajak yang liberalis.

Baca juga:

Jika dihubungkan dengan kepemimpinan, libertarian tidak begitu fanatik dengan definisinya. Sebab kepemimpinan adalah sebuah pengalaman. Tidak kaku sebagaimana yang dinarasikan oleh sebagian ahli.

Seperti kakunya definisi kepemimpinan yang dinarasikan oleh Joseph C. Rost: kepemimpinan adalah sebuah hubungan yang saling memengaruhi di antara pemimpin dan pengikut (bawahan) yang menginginkan perubahan nyata yang mencerminkan tujuan bersamanya.

Fleksibilitas adalah tuntutan utama dalam kepemimpinan libertarian. Lihat betapa kakunya definisi di atas. Frasa “saling memengaruhi” cukuplah menjadi bagian yang sangat dihindari dalam kepemimpinan libertarian.

Oleh karena itu, kepemimpinan libertarian bersifat artifisial. Karena memang berbeda dengan model-model kepemimpinan klasik atau modern.

Artifisial, dalam artian, memberdayakan semua yang ada untuk tidak saling memengaruhi atau membuat irisan. Namun, ia bergerak bebas sesuai tanggung jawab dan berani menanggung risikonya. Dan, risiko ini tidak boleh ditanggung bersama sebagaimana yang terjadi pada model-model kepemimpinan klasik dan modern lainnya.

Libertarian berani dalam privatisasi risiko, alias berani menanggung risiko tanpa membebankan atau menyalahkan pihak lain. Sebab, kepemimpinan libertarian bukan sebuah kesepakatan korporasi atas personal-personal atau badan-badan.

Kepemimpinan artifisial libertarian tak lebih dari sebuah wadah kebebasan dan kreativitas yang bertanggung jawab atas risikonya sendiri. Kepemimpina artifisial libertarian bukanlah berdasar seperti teori orang-orang terkemuka. Semisal Bernard, Bingham, Tead, dan Kilbourne yang menerangkan bahwa kepemimpinan berkenaan dengan sifat-sifat dasar kepribadian dan karakter.

Kepribadian dan karakter biasanya berhubungan dengan reaktualisasi moral. Ini juga yang dihindari oleh libertarian. Kenapa begitu? Sebab reaktualisasi moral pada model kepemimpinan klasik dan modern cenderung menjadi penghambat produktivitas dan keadilan penilaian.

Karakter dan moral adalah urusan pribadi. Artinya, risiko kebejatannya harus dinikmati sendiri dan tidak boleh menjadi getah pahit bagi orang lain. Selama sang pemimpin tidak merugikan yang dipimpin, silakan bejatkan sendiri karakter dan moral Anda dalam sebuah ruang privasi yang pasti dihormati oleh konsep liberal.

Baca juga:

Kenapa libertarian tidak memilih konsep karakter dan moral sebagai gacoan utama? Sebab, keduanya (karakter dan moral) kadang hanya sebagai topeng busuk saja.

Kepemimpina libertarian yang artifisial juga tak begitu kaku terhadap teori kepemimpinan lingkungan yang dipelopori oleh Mumtord. Teori yang menyatakan bahwa pemimpin muncul oleh kemampuan dan keterampilan yang memungkinkan dia memecahkan masalah sosial dalam keadaan tertekan, perubahan, dan adaptasi.

Pemecah atau solver sebuah masalah sosial bisa saja bukan dari keterampilan atau kemampuan. Tapi, bisa dari sebuah kreativitas yang jarang bisa muncul dari sebuah kekakuan sebuah disiplin prosedur dan protokoler yang berbasis skill dan abilitas.

Arifisial libertarian sepertinya lebih dekat pada teori kepemimpinan lingkungan ala Murphy. Bahwa kepemimpinan tidak terletak dalam individu, melainkan merupakan fungsi dari suatu peristiwa.

Artifisial libertarian juga kurang sejalan dengan teori interaksi harapan Homan (1950). Bahwa makin tinggi kedudukan individu dalam kelompok, maka aktivitasnya makin meluas dan makin banyak anggota kelompok yang berhasil diajak berinteraksi.

Kepemimpinan artifisial libertarian tidak terletak pada klasikal individu yang mempunyai kans nilai penyimpangan dan otoriter yang cukup tinggi.

Kepemimpinan artitifisial libertarian juga sejalan dengan model teori humanistik ala Likert. Bahwa kepemimpinan merupakan proses yang saling berhubungan. Seseorang pemimpin harus memperhitungkan harapan-harapan, nilai-nilai, dan keterampilan individual dari mereka yang terlibat dalam interaksi yang berlangsung.

Jadi, penekanan kata “artifisial” itu juga adalah untuk fleksibilitas kepemimpinan yang tidak kaku sebagaimana model kepemimpinan klasik dan modern.

Ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan kecerdasan artifisial. Bagi kepemimpinan artifisial libertarian, kecerdasan artifisial hanyalah sejumput sarana yang tak akan banyak berpengaruh kepada kebebasan dan kebesaran kepemimpinan artifisial libertarian itu sendiri.

Jika tanpa operator yang libertarian, kecerdasan artifisial sama kakunya dengan teori-teori kepemimpinan yang klasik dan modern itu. Dan, yang menarik, sebagian besar daftar libertarian yang berpengaruh di atas adalah para penulis.

Memang, kepenulisan akan selalu melatih nalar-nalar sehat. Agar terus mengalir meresap ke dalam sebuah kebebasan yang bertanggung jawab dan mencerahkan.

Yudho Sasongko
Latest posts by Yudho Sasongko (see all)