Kesaksian, Kisah Perlawanan Mahasiswa UTY

Tak ada yang lebih puitis selain bicara tentang kebenaran, termasuk kebenaran perjuangan mahasiswa UTY.

“Mei Berdarah”, sebuah istilah paling bermakna atas perjuangan para mahasiswa saat itu (31 Mei 2011). Seluruh perangkat aksi untuk pertama kalinya terjun memenuhi ruas-ruas jalan itu adalah hari perebutan hak atas kebijakan-kebijakan sepihak.

Dengan semangat dan dalam satu tekad perjuangan bersama: menuntut legalitas BEM Universitas Teknologi Yogyakarta, peristiwa itu sekaligus menjadi kenangan terpahit yang pernah dialami para mahasiswa UTY. Sungguh sebuah awal perjuangan yang layak kita dengungkan.

Lahirnya sebuah catatan/goresan kecil ini, entah mau menyebutnya sebagai karya atau hanya ekspresi subjektif belaka, tak lepas dari “dorongan keras” kawan-kawan idealis-non-kompromistik selama ini. Mereka yang tak bisa penulis sebutkan satu-persatu adalah para pejuang yang terus berkomitmen serta turut membantu dalam proses penyelesaiannya.

Tak peduli seberapa banyak mereka teteskan keringatnya, ceceran-ceceran darahnya, mereka terus ada. Dan kepada mereka semualah catatan ini penulis peruntukkan.

Dalam goresan kecil ini, segala perjuangan mahasiswa UTY, sebelum dan setelah perjuangan merebut kemerdekaan kampus itu, berusaha penulis rangkum yang mungkin tak secermat sebagaimana catatan-catatan sejarah perjuangan mahasiswa lainnya.

Catatan Seorang Demonstran dan Pergolakan Pemikiran Islam adalah dua catatan penting yang menjadi sumber inspirasi utama dalam penulisannya, di samping realitas “bobrok” yang kerap membuntuti setiap jejak langkah penulis untuk perubahan di lingkungan kampus. Landasan terakhir ini yang lebih diutamakan.

Penulis akui bahwa pengalaman semacam ini yang jika dituliskan apalagi didokumentasikan dalam bentuknya yang nanti menjadi konsumsi publik, mungkin akan terkesan berlebihan. Maka dari itu, penulis ingin menegaskan bahwa tujuan penulisan ini bukanlah untuk menebar kebohongan, menjatuhkan nama baik seseorang, kelompok atau institusi tertentu, apalagi mau pamer diri semata.

Bukan, bukan itu tujuannya. Penulis hanya ingin memperlihatkan pada dunia bahwa tirani dan penindasan itu ada di mana-mana. Tak hanya dalam kehidupan berskala besar seperti Negara, melainkan juga dalam dunia pendidikan (mahasiswa) yang semestinya tidak boleh ada.

Bahwa kebenaran hakiki itu wajib dan layak untuk diungkap. Salah satu tujuannya adalah bahwa tidak akan ada lagi pengulangan kesalahan yang sama seperti yang dulu pernah terjadi. Dengan alasan inilah maka penulis memberanikan diri untuk ikut dalam pertarungan penuh konsekuensi ini. Mungkin itu saja. Tak usah bertele-tele dan berpanjang lebar.

Terakhir, catatan ini sungguh sangat tidak akan bermakna tanpa peran serta pembaca yang aktif dalam memberikan saran dan kritiknya. Ini dibutuhkan demi terbangunnya sebuah proses rekonstruktif untuk ke depannya yang lebih baik. Terima kasih.

___________________

Artikel Terkait:
Share!