Kesejahteraan Itu Tak Kunjung Datang

Kesejahteraan Itu Tak Kunjung Datang
©Merdeka

Perbincangan tentang kesejahteraan selalu tak lepas dari roda kepemimpinan suatu negara. Dalam konstitusi negara Indonesia, misalnya, tujuannya tegas melalui alenia keempat Pembukaan UUD 1945: Untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia.

Akan tetapi, tujuan tersebut jauh dari pengharapan yang kita angan-agankan. Yang ada bahwa itu hanyalah sebuah konteks wacana yang negara bangun. Padahal sudah 72 tahun Indonesia merdeka, dan sudah 7 kali pula menganti pemimpin, tapi tujuan tersebut belum sepenuhnya terealisasikan.

Kita lihat secara ekonomi, Negara Indonesia masuk 16 besar negara terkaya di dunia. Indonesia memang kaya dan memiliki wilayah yang luas dengan jumlah penduduk nomor 4 terbanyak di dunia.

Namun, jika kita lihat dari pendapatan per kapitanya yang mencapai US$4.900, ternyata kesejahteraan masyarakat kita masih rendah. Kita baru menempati ranking ke-126 di dunia. Kita jauh tertinggal dari Malaysia yang ada di peringkat 69, Thailand 92, dan Tiongkok di peringkat 93. Bahkan, kita masih di bawah Sri Lanka yang menempati ranking 116.

Rendahnya tingkat kesejahteraan penduduk negara Indonesia terlihat dari fakta bahwa jumlah penduduk miskin masih tinggi, yaitu sekitar 28,55 juta atau 14 persen dari jumlah total keseluruhan penduduk. Belum lagi sebanyak 63 persen penduduk Indonesia berada di perdesaan yang mayoritas adalah petani dan nelayan. Sementara itu, jumlah pengangguran masih di sekitar 7 persen dari seluruh angkatan kerja.

Kondisi yang demikian itu membuat bangsa Indonesia menghadapi sejumlah masalah mendasar. Di antaranya, berbagai kesenjangan sosial dan ekonomi, kesenjangan antardaerah dan antarkawasan, serta infrastruktur yang tidak merata.

Apakah ini harus berkelanjutan sampai negara Indonesia hancur dengan sendirinya? Mungkin sebagian besar dari kita bertanya, kapankah Indonesia benar-benar akan mencapai tujuannya?

Baca juga:
    Zulfajri Zainal Abidin