Keterlupaan dan Kekinian

Keterlupaan dan Kekinian
©GBI

Keterlupaan dan Kekinian

Pengakuan akan identitas diri mengandaikan juga dua situasi waktu yang berbeda. Kedua situasi waktu itu adalah memori dan janji. Memori berkenan dengan masa lalu, sedangkan janji berhubungan dengan masa depan. Masa lalu dan masa depan hanya bisa dimengerti secara bersama dalam masa sekarang.

Untuk sebuah memori tentang masa lalu, kita berbicara tentang kemampuan untuk mengingat. Tentu, hal yang paling penting dalam kemampuan untuk mengingat adalah soal bagaimana mengaktualkan atau menghadirkan masa lampau ke masa sekarang. Di dalam aktualisasi, saya mengingat tentang masa lalu dan serentak pada saat yang sama saya membuat janji masa depan.

Namun, aktualisasi tidak pernah luput dari tantangan. Tantangan utama untuk suatu memori adalah keterlupaan, sedangkan tantangan untuk janji adalah pengkhianatan.

Oleh karena itu, setiap orang harus tetap menyalakan api kesadarannya untuk tidak jatuh ke dalam keterlupaan dan melanggar janji. Ricoeur berkata “Mengingat berarti tidak melupakan; berpegang pada janji berarti tidak boleh melanggar”.

Kalau memori berkenan dengan kesanggupan mengingat, maka pertanyaan paling penting adalah: Apa yang saya ingat?

Ricoeur memberi jawaban bahwa mengingat berkenan dengan kesanggupan mengakui bayang-bayang masa lampau yang hadir dalam jejak-jejak. Misalnya jejak mental yang berkaitan dengan kesan-kesan, dan jejak peristiwa dalam bentuk dokumen dan arsip-arsip publik.

Namun, yang lebih penting, setiap jejak pada dasarnya ada dalam situasi sekarang, karena jejak bergantung pada pikiran yang menghadirkannya, menginterpretasi, serta menjadikannya sebagai jejak dari.. menurut Ricoeur, musuh dari memori adalah keterlupaan, karena keterlupaan memberi tugas kepada memori untuk selalu aktif, sadar dan tetap berjaga-jaga agar tidak jatuh ke dalam keterlupaan itu.

Baca juga:

Dalam sejarah filsafat, memori adalah persoalan klasik. Ia berhubungan dengan ingatan anamneses. Namun, perjuangan untuk melawan keterlupaan bukan alasan satu-satunya bagi aktivitas memori unutk mengingat. Sebab, memori juga berkaitan dengan soal jarak waktu.

Kelampauan masa lalu dan jaraknya dari masa sekarang biasanya membawa kita kepada pertanyaan: Sejak kapan? Bilamana? Di sini kita berhadapan dengan paradoks tentang distansi temporal itu. Masa lampau adalah apa yang tidak ada lagi, tetapi yang masih ada hingga kini.

Namun, pertanyaan yang lebih penting adalah: Dalam hal apa memori tentang masa lampau memberi kontribusi terhadap pengakuan identitas diri? Jawaban atas pertanyaan ini diberikan oleh Ricoeur melalui kerangka berpikir Bergson tentang recognizing images.

Dengan recognizing images, Bergson berbicara tentang pengakuan dalam pengertian menghadirkan sesuatu yang sesungguhnya tidak hadir secara riil pada saat sekarang, namun tampak dalam gambaran, imaji atau bayangan. Di sini ada semacam keajaiban dalam pengakuan, khususnya ketika pengakuan itu bersentuhan dengan kehadiran dan ketidakhadiran.

Kalau ada sesuatu yang hidup kembali dalam memori, ini disebabkan pertama-tama karena kita tidak mengalami kehilangan memori itu. Karena itu, kita harus bersyukur. Kita menemukan kembali sesuatu dan mengakuinya melalui suatu perjuangan dalam memori itu.

Dan menemukan kembali berarti menyikapinya sebagai yang berguna meskipun terkadang sesuatu itu tidak dapat diterima. Kita selalu berusaha untuk mencari, menemukan kembali, dan sasaran akhir dari setiap pencarian dan penemuan kembali adalah pengakuan.

Di sini, pengakuan akan bayang-bayang masa lampau serta pengakuan diri berjumpa kembali ketika memori itu aktif dan kreatif. Kembali ke masa lampau adalah suatu retrospeksi, mengarahkan diri ke masa depan adalah suatu prospeksi.

Ketika keduanya, retrospeksi dan prospeksi, berinteraksi dalam waktu sekarang maka, pengakuan diri mendapat penegasan dari dua hal penting, yaitu sejarah hidup masa lampau dan dari komitmen untuk masa depan.

Halaman selanjutnya >>>
Mario G. Afeanpah
Latest posts by Mario G. Afeanpah (see all)