Ketertinggalan dan Keterpurukan, Salah Siapa?

Ketertinggalan dan Keterpurukan, Salah Siapa?
Ilustrasi

Nalar Warga Umumnya orang-orang menyalahkan pemimpin atas berbagai ketertinggalan dan keterpurukan di negeri ini. Mereka dianggap lalim karena hanya memperkaya diri, keluarga, dan golongannya. Mereka dituduh tidak memikirkan kesejahteraan rakyat padahal itu adalah tugasnya.

Benarkah anggapan dan tuduhan itu?

Tentu saja ada benarnya. Tetapi, menurut saya banyak salahnya. Anggapan dan tuduhan tersebut berasal dari pengandaian seolah-olah pemimpin ada dengan sendirinya. Dengan kata lain, anggapan dan tuduhan tersebut lahir dari pengabaian terhadap kenyataan bahwa kita sekarang hidup di negara demokrasi.

Di negara demokrasi, pemimpin dipilih oleh rakyat. Apakah dia mampu atau tidak, jujur atau tidak, adalah bukan perkara. Yang penting dia dipilih oleh suara terbanyak.

Oleh karena itu, kualitas pemimpin sesungguhnya sangat tergantung pada kualitas rakyat sebagai pemilih. Tidak mungkin lahir pemimpin yang toleran di tengah pemilih yang intoleran. Juga tidak mungkin lahir pemimpin yang bebas korupsi di tengah pemilih yang terbiasa kolusi.

Setya Novanto tidak akan duduk sebagai anggota DPR jika tidak ada rakyat yang memilihnya. Jadi buat apa menyalahkannya jika dalam pemilu dan pilkada pemimpin seperti dia tetap terpilih lagi dan lagi. Bukankah itu yang sekarang terjadi?

Dalam situasi ini, saya kadang berpikir, jangan-jangan rakyat kita tidak butuh kemajuan. Entah apa yang mereka inginkan. Atau mungkin mereka tidak sadar hidup di negara demokrasi. Mereka masih berpikir di alam kerajaan atau kekhalifahan di mana pemimpin lahir karena kehendak tuhan.

Kalau alam pikir rakyat sebagai pemilih masih demikian, masihkan kita bisa berharap negeri ini akan lepas landas dari ketertinggalan dan keterpurukan?

*Amin Mudzakkir

___________________

Artikel Terkait: