Ketika Aktivisme Islam Kampus Mencari Identitas Baru

Ketika Aktivisme Islam Kampus Mencari Identitas Baru
Dok. Pribadi

Runtuhnya rezim Orde Baru menjadi titik koordinat penting dalam memahami gerakan mahasiswa Islam. Gerakan mahasiswa Islam seolah-olah kehilangan musuh bersama (common enemy) untuk menyatakan orientasi politiknya, sehingga upaya untuk pencarian identitas islamisme terus kian dilakukan. Hal ini menjadi penanda bahwa kejatuhan rezim Orde Baru memengaruhi dinamisasi kehidupan aktivisme Islam di kampus yang memiliki pelbagai corak Islamisme yang berbeda.

Sebelum kejatuhan rezim Orde Baru, ‘aktor-aktor lama’ gerakan mahasiswa Islam digawangi oleh Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), dan Persatuan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Aktor-aktor lama ini telah memiliki reputasi pada 1960an dan sedang menghadapi kontestasi dengan gerakan mahasiswa kiri seperti Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI).

Setelah kejatuhan Suharto menjadi momentum untuk lahirnya gerakan mahasiswa Islam yang baru dari rahim kampus. Gerakan mahasiswa Islam yang bersifat ‘ekstra universiter’ ini terdiri dari Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), Gema Pembebasan (Organisasi Sayap Mahasiswa HTI), Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus (BK-LDK-jejaring), dan kelompok-kelompok kajian Salafi. Mereka berpusat di masjid-masjid kampus sebagai arena dakwah, ruang pertukaran gagasan, dan pengaderan.

Kondisi lanskap politik era reformasi membuat ‘aktor-aktor baru’ Islamis cenderung subur karena ketiadaan sikap represif negara seperti dilakukan saat pemerintahan Orde Baru. Dengan kemunculan aktor ini, wacana ‘Islamisasi ruang publik’ menjadi trend yang dilakukan secara praktik ketika pasca-Suharto.

Hal ini diperkuat dengan acuan ideologi utama mereka yaitu islamisme (Arrobi, 2014, p. 4).  Islamisme dalam konteks ini dipandang sebagai ide dan praktik yang memandang Islam sebagai suatu kesatuan integral yang melingkupi sistem ekonomi, politik, dan budaya.

Yang menjadi hal menarik, gerakan ‘aktor-aktor lama’ ataupun ‘aktor-aktor baru’ seolah-olah dalam satu barisan mengalami suatu perubahan orientasi ideologi islamisme. Perubahan ini dapat dicirikan ketika keadaan kaum islamis mengalami kegalauan dan krisis identitas, yang mana langkah-langkah pragmatis pun dilakukan guna mempertahankan eksistensi mereka.

Ketika gerakan Islamis mengalami suatu corak, orientasi, dan praktik yang berbeda dari sebelumnya­­, fenomena ini dapat dikatakan sebagai pasca-Islamisme atau post-Islamism. (Bayat, 2013, p. 7).

Fenomena dinamisasi gerakan mahasiswa Islam pasca-islamisme inilah yang menjadi titik kuriositas Zaki, dalam bukunya. Zaki secara komprehensif menelaah gerakan mahasiswa Islam dengan memfokuskan studi kasus dengan lokus penelitian di Universitas Indonesia dan Universitas Gadjah Mada.

Secara orisinal, buku ini diolah dari hasil penelitian skripsi yang dilakukan di Departemen Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Gadjah Mada (2013-2014). Kemudian sebagian hasil penelitian skripsi Bab V ini dijadikan dalam bentuk book chapter yang berjudul “Pemuda (Pos)-Islamis: Islamisme dan Gerakan Mahasiswa Pasca-Suharto di Indonesia” yang diterbitkan pada buku MAARIF Fellowship (MAARIF Institute, 2013) yang pada akhirnya diterbitkan pula melalui versi paripurna dengan judul “Islamisme ala Kaum Muda Kampus: Dinamika Aktivisme Mahasiswa Islam di Universitas Gadjah Mada dan Universitas Indonesia di Era Pasca-Soeharto” (Gadjah Mada University Press, 2020).

Dalam upayanya untuk mengartikulasikan dinamisasi dan mobilisasi gerakan mahasiswa Islam, Zaki berusaha untuk menyajikan kronologi gerakan mahasiswa Islam terdahulu. Setelah itu, Zaki menggunakan dualisme ‘aktor-aktor lama’ dan ‘aktor-aktor’ baru dalam memvisualisasikan orientasi Islamisme yang ditonggak oleh momentum keruntuhan pasca-Suharto.

Baca juga:

Dengan menggunakan teori gerakan sosial yang dikolaborasikan dengan konsep pasca-islamisme yang dimiliki Asef Bayat, buku ini dapat dijadikan panduan untuk memahami dinamisasi aktivisme mahasiswa Islam di kampus yang cenderung kompleks. Tak hanya itu, buku ini memiliki seperangkat data wawancara dengan ‘aktor-aktor baru’ sehingga mendapati bukti-bukti kualitatif nan komprehensif.

Terlihat bahwa dalam penelitiannya, Zaki tidak melihat gerakan mahasiswa Islam sebagai kelompok yang ‘homogen’ atau ‘monolitik’. Bahkan ia berupaya untuk melihat prediksi dari praktik islamisme setelah pasca-islamisme di bab kesimpulan.

Hanya saja, buku ini tidak lengkap dalam menjelaskan pembahasan lebih lanjut terkait latar belakang ‘aktor-aktor baru’ yang memiliki fakta keras bahwa corak islamisme mereka terdapat hubungan nexus dari aktor-aktor eksternal yang bersifat transnasional seperti organisasi Ikhwanul Muslimin atau Hizbut Tahrir secara mendalam.

Terlepas dari itu, book chapter yang disajikan dalam buku “MAARIF Fellowship” ini berhasil memikat para pembaca untuk mengetahui pergerakan mahasiswa islamis secara teoritis maupun praktis. Hal ini juga dilengkapi studi komparatif terkait orientasi karakteristik islamisme ‘aktor-aktor lama’ dan ‘aktor-aktor baru’ melalui tabel yang disajikan pada sub-bab “Bangkitnya Islamisme Kampus Pasca-Suharto”.

Terlebih dari itu, Zaki juga menjelaskan terkait praktik pengaderan di level politik nasional dan materi kajian-kajian yang diminati oleh gerakan mahasiswa Islamis itu sendiri.

  • Judul: MAARIF Fellowship
  • Penulis Bab Buku: Mohammad Zaki Arrobi
  • Editor: Ahmad Fuad Fanani, Mohd. Abdullah Darraz, Khelmy K. Pribadi
  • Penerbit: MAARIF Institute
  • Cetakan: I, Juni 2014
  • Tebal: 170 halaman
  • Peresensi: Muhammad Nauval El Ghifari

    Maarif Institute