Ketika Para Filsuf Bermedia Sosial

Ketika Para Filsuf Bermedia Sosial
©Feeder

Apa yang akan diunggah para filsuf ketika punya akun media sosial? Sesuatu yang benar-benar mencerminkan sikap sebagai “pencinta kebijaksanaan”? Atau sinisme seperti pernah dicontohkan salah satu murid Socrates, Diogenes dari Sinope, yang hari ini banyak digandrungi?

Melalui artikel Nathan Dufour, Would Plato tweet? The Ancient Greek guide to social media di BBC Future, kita bisa tahu bagaimana para filsuf era Yunani Kuno akan memperlakukan media sosial. Baik sebagai pengguna maupun pemberi saran ke warganet, mereka punya cara tersendiri jika diukur dari laku dan pemikirannya semasa hidup.

Tentu saja, para filsuf yang dimaksud tidak pernah mencicipi produk teknologi informasi terkini. Tetapi Nathan bisa mengandaikan media sosial layaknya Agora versi virtual modern dari negara-kota Yunani Kuno. Alasan-alasannya spesifik, mendasarkan pengalaman diri sebagai Content Creator.

“Saya membayangkan ini untuk alasan yang sangat spesifik—pekerjaan dan profesi saya, membuat video musik dan bentuk konten lainnya, sering kali tentang filsafat klasik, dan berusaha menyebarkannya di Internet. Jadi, baik atau buruk, berbagai platform tempat saya aktif adalah Agora modern, media saya dalam melakukan perdagangan dan menampikan karya-karya kreatif.”

Sama seperti Agora, media sosial pun menyediakan ruang kebebasan. Wadah ini bisa dijadikan ladang bisnis, jual-beli produk, hingga saling bertukar ide/gagasan. Di panggung seperti ini jugalah filsafat lahir dan tumbuh.

Pemengaruh Komplet

Ketika filsafat pertama kali dipraktikkan di Yunani Kuno, tulisan masih terasa sangat mewah. Umumnya filsuf menyebarkan ide dengan cara lisan-performatif saja di ruang publik. Pertunjukan puisi epik di zaman sebelumnya pun demikian.

“Jauh sebelum para filsuf menulis buku dan makalah, ide-ide mereka harus ditransmisikan dengan cara yang semenarik mungkin.”

Filsuf pra-Socrates, Xenophanes, misalnya, sering mempresentasikan ide-idenya melalui kontes. Bahkan, di era yang lebih lama, mereka kerap membangun persona publik dengan cara yang sangat rumit. Contohnya Empedocles, penemu gagasan empat elemen dasar (tanah, air, api, udara), yang sering tampil di depan umum dengan penuh gaya—jubah ungu, ikat pinggang emas, sandal perunggu—dan menyebut diri sebagai reinkarnasi dewa.

“Jika mode presentasi diri ini mencakup kemampuan merekam video, kita akan memiliki banyak filsuf yang berpotensi sangat viral. Mereka, dengan cara khasnya, mirip seperti pembuat konten dan pemberi pengaruh (influencer).”

Yang membuatnya jadi pemengaruh komplet dari influencer kekinian adalah otoritas intelektual mereka tidak hanya terbatas pada ide-ide, tetapi juga kefasihan performatif dan kultus kepribadian yang melingkupinya.

Walau tanpa menulis, para filsuf Yunani Kuno tetap berhasil menyebarkan ide. Lihatlah Socrates. Kelihaiannya melakukan dialog filosofis di tempat-tempat umum mampu memberi pengaruh yang tidak kecil. Dia tidak hanya menantang kebijaksanaan konvensional tentang berbagai topik, tetapi juga memprovokasi warga dan—paling fatal bagi dirinya kelak—pemerintah.

“Seninya verbal, tetapi ekspresinya sama seperti kicauan (di Twitter) atau unggahan (di Facebook). Socrates adalah contoh warganet pemberani dalam kolom komentar kehidupan intelektual Athena.”

Tanpa andil dari murid-muridnya, terutama Plato yang paling kesohor, kita tidak mungkin tahu bagaimana Socrates hidup di masanya. Dalam banyak hal, dialognya menjadi sumber dari seluruh tradisi filsafat setelahnya, dapat dibaca dalam bentuk biografi fiksional layaknya seorang influencerKoleksi Utas Socrates. Plato menuliskannya kembali secara bebas, namun semangatnya tetap sama.

“Di era media sosial, kita mungkin kembali ke keadaan di mana klaim seorang pemikir atas kebijaksanaan bergantung pada kemampuan mereka untuk melakukannya secara efektif—tambahan syarat, mereka dapat mengubah kinerja itu menjadi sebuah konten.”

Namun, seperti terbukti dari adanya “perang informasi” saat ini, Plato pernah mengatakan bahwa masalah akan timbul ketika penampilan kompetitif dari kebijaksanaan itu tidak mampu membedakan mana yang berasal dari orang yang benar-benar bijaksana atau yang sekadar tampilan belaka.

“Jika kamu viral di media sosial, apakah itu berarti bahwa unggahan kamu memang bermakna? Popularitas bisa saja diukur dari jumlah ‘like’, tetapi kebijaksanaan tidak.”

Mungkin karena alasan itulah kenapa Plato, semasa hidupnya, terus mencari eksistensi filsuf sejati (true philosopher), orang-orang yang tulus “mencintai kebijaksanaan”, membedakannya dari para sofis (sophers) yang hanya tampak bijaksana dari luar. Dia ingin memisahkan influencer yang baik dari yang buruk.

Mewakili Socrates, Plato tidak pernah terkesan dengan orang-orang yang suka pamer moral di ruang publik. Seperti sering terlihat di media sosial, dia tidak suka orang munafik yang gemar mengkritik orang lain agar lebih bermoral menurut versinya.

“Makin kamu mempertontonkan betapa merasa bermoralnya kamu dibanding yang lain, makin besar kemungkinan bahwa kamu tidak menyadari kekurangan moral sendiri.”

Platform Ideal

Dalam Republic, Plato membayangkan sebuah masyarakat ideal yang hidup tertib dan damai di bawah kepemimpinan seorang filsuf yang mampu mendapatkan kebenaran sejati dari segala bentuk opini publik. Plato menerapkan sensor ke dalam kota teoritisnya untuk membedakan informasi yang baik dan yang buruk dari para pemengaruh.

Tak salah jika Jenny Jenkins dari Swansea University berspekulasi, Plato tidak akan pernah mengizinkan warganya menggunakan media sosial. Facebook atau Twitter, misalnya, tidak memiliki niat mempromosikan moralitas atau secara khusus mendidik pengguna.

“Sebaliknya, Plato mengusulkan pendidikan dan hiburan, serta wacana secara umum, harus diregulasi secara ketat. Jika tidak memajukan kesejahteraan masyarakat sesuai prinsip-prinsip rasional, semua seni independen akan dilarang.”

Baca juga:

Dalam platform ideal Plato, hanya negara satu-satunya yang layak jadi pembuat konten. Konten itu adalah “Bentuk Kebaikan” yang terinspirasi dari wawasan filsafat.

“Kita mungkin perlu mewaspadai bagian buku ini, mengingatkan kita pada negara-negara yang memberlakukan kebijakan sensor Internet secara agresif. Namun, dari sudut pandang kontroversi terkini, seperti disinformasi vaksin atau polarisasi politik, kita setidaknya dapat merasakan ketakutan Plato dalam eskperimen sosial-politik imajinasinya.”

Bagian itu juga Plato tegaskan dalam Phaedrus, yang berkisah tentang mitologi Mesir. Dia memperlihatkan bagaimana raja dewa Thamus mengkritik penemuan bahasa tertulis dewa Theuth. Theuth menawarkan hadiah berupa tulisan untuk membantu umat manusia, tetapi Thamus menubuatkan bahwa itu hanya akan membawa efek korosif pada kebudayaan.

“Akan ada banyak pendengar tanpa pernah belajar apa pun. Mereka akan tampak tahu banyak hal padahal sebenarnya tidak tahu apa-apa. Yang berada di dekat mereka akan sengsara karena terlihat bijaksana padahal tidak.”

Bukankah itu semacam kritik tajam atas era informasi hari ini? Di hadapan mesin perambah, aksesibilitas data instan, dan percakapan media sosial yang penuh moralitas, indra manusia, bagi Plato, tidak akan pernah memadai untuk memahami kebenaran sejati. Hal-hal yang kita anggap realitas sesungguhnya, menurut Plato, hanyalah sebuah imaji.

“Konten yang kita buat—gambar artistik, cerita, atau representasi dalam bentuk apa pun—adalah imaji dari imaji. Pada akhirnya, semua hal yang kita unggah hanyalah imaji dari imaji dari imaji karena sudah disunting, dikomentari, dan disesuaikan dengan sirkulasi digital.”

Murid Socrates yang lain adalah Diogenes dari Sinope. Berbeda dari Plato, dia berpendapat, karena kebijaksanaan tidak dapat dicapai oleh hampir semua warga, peran tepat dari seorang filsuf bukanlah untuk membimbing atau mengendalikan, melainkan menjauhkan diri untuk kemudian mengomentarinya dari sisi terluar.

Diogenes adalah filsuf seniman yang mengejutkan—hidup di jalanan, buang air dan bermasturbasi di depan umum, punya kebiasaan mengkritik orang yang lalu-lalang, berjuluk “si anjing” atau “si sinis” karena kritik-kritiknya kejam.

“Dia adalah prototipe dari warganet pemberani. Celakalah mereka yang unggahannya dikomentari Diogenes.”

Untungnya sinisme seperti dipopulerkan Diogenes itu bukan satu-satunya respons atas kegagalan dan ketidakmampuan komunikasi manusia. Ada juga stoicisme yang mencerminkan kembali pemikiran Plato.

Stoicisme memahami bahwa seluruh kosmos adalah satu organisme yang hidup. Gagasan ini merupakan entitas kesatuan di mana manusia terlibat jadi bagian di dalamnya. Sebagai makhluk rasional, stoicisme mengandaikan semua manusia punya kapasitas bernalar secara sehat, dan bertindak sesuai rasionalitas masing-masing.

“Mungkin para stoic-lah (kaum stoa), meski memiliki pandangan ambivalen (campur aduk), yang membangun optimisme tentang kemungkinan yang ditawarkan media sosial.”

Sejauh media sosial menawarkan mekanisme konektivitas, warganet dapat mendorong lahirnya komunitas sungguhan—terutama ketika para pengguna terlibat satu sama lain dengan itikad baik untuk saling menguntungkan.

“Seorang stoic mungkin akan bertanya, apakah kamu menggunakan media sosial sebagai kontributor rasional untuk kesejahteraan manusia dan komunitas? Atau untuk mengagungkan diri, menghibur, atau sekadar pelarian? Jika yang pertama, lanjutkan; jika yang kedua, hapus saja akunmu.”

*Kalau tidak puas dengan terjemahan di atas, baca sendiri artikel aslinya di BBC Future.