Kisah Seorang Ibu yang Melawan Hasrat Bunuh Diri demi Buah Cinta

Kisah Seorang Ibu yang Melawan Hasrat Bunuh Diri demi Buah Cinta
┬ęTons of Facts

Bertepatan dengan World Suicide Prevention Day (Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia), saya ingin bercerita tentang orang-orang yang pernah terpikir bunuh diri cuma karena masalah pekerjaan.

Sebelumnya, saya berharap tidak ada yang menghakiminya, tidak mengata-ngatainya. Dan kalau ingin berbagi pendapat, silakan; asalkan menghindari kata-kata buruk. Sebab ini sedang berbicara soal manusia dan masalah kemanusiaan di sekitar kita.

Saat ia masih dalam pernikahan, ia sama sekali tidak memiliki kesempatan bekerja. Ya, dengan enam anak yang harus diurus, bisa dibayangkan bagaimana sulitnya seorang ibu rumah tangga ditinggal suami yang memilih kawin lagi, dan harus menghidupi enam orang anak dengan jatah bulanan hanya 1,5 juta rupiah.

Ini adalah kejadian nyata, dari sebuah keluarga yang berdiam tidak jauh dari mal PVJ, Bandung.

Sang suami sebenarnya terbilang cukup diberi kenyamanan oleh mertua. Bagaimana tidak, ia bersama istri dan keenam anak bisa tinggal di rumah mertua, tanpa perlu bayar sewa.

Namun, makin ke sini, sang istri justru jadi sasaran sikap kasar sang suami. Dari semburan kata kasar sampai dengan kebiasaan sang suami melempar apa saja yang ada di dekatnya ke arah istri. Nah, ini hidup di rumah mertua, masih bisa-bisanya begini, ya?

Istrinya ini tampaknya juga sebenarnya sangat cinta kepada suaminya. Buktinya, ia masih memaklumi sikap kasar sang suami. Menurutnya, itu terjadi mungkin karena suaminya stres lantaran punya enam anak. Pulang kerja dan layaknya anak-anak terkadang sering rewel karena ingin dimanja.

Sang istri ini bahkan masih lebih peduli kelelahan suaminya. Walaupun kalau bicara lelahnya mengurus enam anak, dari sudut pandang kita, jelas si istri ini jauh lebih lelah.

Baca juga:

Namun, saat ia membela sang suami, justru ia makin tersita tenaga dan pikirannya. Ia sendiri tidak bisa melakukan pekerjaan untuk menambah penghasilan karena harus mengurus keenam anak. Di sisi lain, harus memaklumi sikap kasar dari sang suami.

Puncaknya adalah saat kelahiran anak keenam. Sang suami sama sekali tidak memberikan biaya untuk ke rumah sakit. Justru ibunya si istri yang sekarang usia 71 tahun harus turun tangan meminjam uang ke sana-kemari.

Di sini juga si istri makin merasa terpukul dan terhantui oleh pikiran suicidal. Muncul keinginan bunuh diri. Ia serbasalah. Satu sisi ingin membela suami, tapi di sisi lain malu sekaligus tidak tega sama ibunya sendiri yang sudah sepuh.

Ya, bayangkan saja, seorang ibu usia 71 tahun harus mengambil alih tanggung jawab yang mestinya harus dipikul menantunya yang jadi suami anaknya.

Belakangan diketahui, si suami rupanya juga meminta duit dari ayahnya sendiri. Alasannya karena istrinya melahirkan secara sesar, padahal lahiran normal. Si suami dapat uang itu, namun istrinya harus membayar biaya melahirkan dari uang pinjaman ibunya yang sudah berusia 71 tahun tadi.

Pemandangan-pemandangan inilah yang membuat perasaan dan pikiran si istri makin keruh. Bayangan bunuh diri makin menghantuinya. Namun ia masih berusaha terus menguatkan diri karena keenam anak buah cintanya dengan si suami lumayan membantunya untuk bertahan.

Singkat cerita, tahun 2013, anak bungsunya tersebut lahir, dan pasangan yang cuma selisih usia setahun itu memutuskan cerai pada 2014. Dari sanalah perjuangan panjang sekaligus babak baru ibu enam anak di usianya yang sudah 37 tahun tersebut bermula.

Keahliannya sejauh ini adalah memasak. Dari sanalah ia berusaha mendapatkan pemasukan sejak cerai dari suaminya. Ia tetap berusaha tidak sepenuhnya berharap pada mantan suaminya. Toh, kalaupun dapat jatah bulanan, tidak lebih dari 1,5 juta.

Halaman selanjutnya >>>

Zulfikar Akbar