Kisah Tragis dan Ratusan CPNS Mundur, Tergodakah “Kecabulan Ekonomi?”

Kisah Tragis dan Ratusan CPNS Mundur, Tergodakah “Kecabulan Ekonomi?”
©Detik

Ratusan CPNS mundur itu menandakan ada sesuatu yang hilang, yang tidak bisa dijelaskan secara regulatif dan etis.

Peristiwa tragis ini adalah peristiwa nyata terjadi di paruh pertama 2020. Satu kisah yang berawal dari sosok pria berusia lebih lima puluhan menandai babakan drama kehidupan, titik di mana ujung babakan menyisakan duka lara.

Sebagai bagian dari kehidupan, sosok pria itu memiliki sebuah keluarga sederhana. Dari sumber yang ada, tidak ada gambaran rinci dari latar belakang kehidupannya.

Di sini perlu diakui bahwa di antara status yang diincar oleh sebagian masyarakat Indonesia adalah pegawai negeri sipil/aparatur sipil negara (PNS/ASN).

Seseorang berstatus PNS dengan gaji jutaan rupiah per bulan bagi sebagian orang mungkin sudah cukup asyik untuk menopang kebutuhan hidup. Apalagi bila ada pengumuman rencana kenaikan gaji tahun depan, betapa mereka melonjak-lonjak karena gembira. Ditambah penghasilan di luar gaji seperti tunjangan ini dan itu.

Tetapi tidak bagi Agus Haidir, seorang PNS yang ditemukan tidak bernyawa secara mengenaskan di kebun sawit Bumi Ratu, Lampung Tengah. Justru di sela-sela kesibukan sebagai PNS di UPTD Pendidikan Kecamatan Panjang, Bandar Lampung, dia juga ternyata menjalani profesi ganda, yaitu menekuni pekerjaan sebagai tukang ojek pangkalan. (tribunnews, 2020/01/23)

Oleh Yasir (20), anak korban terakhir kali bertemu ayahnya pada Rabu, yang seperti biasanya pergi ke kantor sambil ojek yang mangkal di satu tempat. Saat ditemui di rumah sakit, Yasir rupanya telah mengidentifikasi pakaian ayahnya di hari nahas itu.

“Pada hari itu, ayah pakai baju kemeja putih, celana hitam, dan sepatu olahraga,” tuturnya. Menurut pengakuannya, sejak itu, dia tidak lagi mengetahui sang ayah di mana rimbanya.

Dia mulai curiga dengan ayahnya karena selama empat hari tidak bisa menghubunginya. Jika selama itu tidak diketahui di mana keberadaan sang ayah, ada kemungkinan besar sedang terjadi di luar kebiasaan atau gelagat yang asing.

Baca juga:

Mungkin melalui firasatnya yang aneh dan tajam, saat setelah mendengar kabar mengenai penemuan mayat di kebun sawit, membuat dia yakin bahwa dialah sang ayah yang tewas di suatu tempat yang tidak dirahasiakan, selain rahasia kematian itu sendiri.

Identifikasi pakaian sang ayah sebelumnya ditangkap oleh Yasir membantu pihak petugas kepolisian, sehingga mampu mengenali sang ayah.

Berkat pengenalan yang jeli melalui hasil identifikasi sang ayah sebelumnya, maka dia bisa memastikan korban diketahui dengan pakaian yang dikenakan. Tidak ada motif dan warna lain dari pakaian sang ayah yang dikenakan saat itu. Semuanya terlihat jelas dalam ingatan. Suatu ingatan yang kejam di hari kematian ayahnya.

Tidak hanya sampai di situ kisahnya. Berlanjut pada serangkaian penyidikan oleh aparat yang berwewenang untuk menangani kasus mayat yang ditemukan di luar kawasan keramaian atau permukiman penduduk.

Didahului oleh penemuan mayat oleh salah satu warga setempat, tampak tangan korban terpisah dengan jarak sekitar 20 meter dari tubuhnya. Jenazah korban yang berstatus PNS setelah dikonfirmasi merupakan warga yang sama dengan anaknya.

Di hari itu yang tidak disangka akan kedatangan musibah kematian dari seorang pengendara bernama Agus Haidir, sosok PNS dilanjutkan pada tahapan pemeriksaan DNA korban, agar yang bersangkutan merupakan orang tua dari Yasir, anak korban.

Singkat cerita, aparat yang berwewenang apa motif dari kehadiran korban yang tewas. Apakah korban mutilasi atau karena terkaman binatang buas? Masih bersifat spekulasi peristiwa tersebut masih diselimuti teka-teki. Sementara dalam tahapan olah tempat kejadian perkara yang dilakukan oleh aparat hukum.

Satu ungkapan, untung tidak dapat diraih, malang tidak dapat ditolak. Begitulah peristiwa tragis yang menimpa Agus Haidir, salah satu sosok PNS, pelayan masyarakat, yang rela nyambi sebagai tukang ojek demi mencari nafkah tambahan bagi keluarganya.

Halaman selanjutnya >>>
    Ermansyah R. Hindi