Kita Butuh Reindustrialisasi, Bukan Romantisasi UMKM

Kita Butuh Reindustrialisasi, Bukan Romantisasi UMKM
©GenBisnis

Yang kita butuhkan itu kebijakan-kebijakan pro-industri. Kita perlu reindustrialisasi, bukan romantisasi UMKM.

Nalar Warga – Sebuah problem besar dari ekonomi Indonesia adalah terjadinya deindustrialisasi prematur. Maraknya UMKM ini merupakan tanda-tanda terjadinya deindustrialisasi, jadi bukan sesuatu yang patut diglorifikasi.

UMKM sudah mendominasi perekonomian Indonesia. Dibandingkan dengan negara-negara lain, persentase UMKM dalam komposisi ekonomi Indonesia itu sudah sangat tinggi. Kita sedang kekurangan usaha berskala besar, bukan kekurangan UMKM.

Ada konsep namanya ‘economy of scale’. Contohnya: jauh lebih efisien bagi satu pabrik super besar untuk merakit seribu mobil dibandingkan dengan seribu pabrik kecil untuk masing-masing merakit satu mobil.

Konsentrasi modal, teknologi, dan kapasitas organisasi sebuah perusahaan/pabrik besar memberi efek multiplikasi pada tingkat produktivitas. UMKM itu tidak terlalu produktif.

Ditambah lagi bahwa UMKM-UMKM yang sekarang trendy itu kebanyakan bergerak dalam sektor jasa. Hampir semua ekonomi negara maju pada awalnya didominasi oleh sektor agraria dan pertambangan, kemudian berkembang sehingga pindah fokus ke sektor industri manufaktur.

Setelah produktivitas industri mereka mencapai titik puncak, barulah mereka pindah fokus ke sektor jasa dan menjadi ekonomi post-industrial.

Produktivitas industri manufaktur Indonesia berkembang pesat di akhir Orde Baru, tapi melambat secara drastis setelah krisis 1998. Padahal tingkat produktivitas manufaktur kita belum sampai puncaknya.

Awalnya orang-orang bekerja di sektor industri yang padat nilai tambah. Setelah 1998, mereka pindah ke sektor jasa dan entrepreneurship yang kecil nilai tambah.

Kebanyakan orang di negara berkembang itu menjadi entrepreneur bukan karena ‘spirit mau kaya’, tapi sebagai ‘survival activity’ karena gak ada lapangan kerja yang layak dengan gaji yang cukup.

Yang kita butuhkan itu kebijakan-kebijakan pro-industri. Kita perlu reindustrialisasi, bukan romantisasi UMKM.

Kalau mau membuat welfare-state dengan sistem jaminan sosial mumpuni ala Skandinavia pun, kita juga perlu meningkatkan produktivitas ekonomi kita. Kalau gak bisa reindustrialisasi, ya bakalan jatuh ke middle income trap.

BTW, kalau penasaran topik ini, bisa baca lebih lanjut di buku “Employment and Re-Industrialization in Post Soeharto Indonesia” karya Tadjoeddin dan Chowdury.

*gungnugung

Warganet