Komoditas Tubuh dan Krisis Kemanusiaan

Komoditas Tubuh dan Krisis Kemanusiaan
©Tribun

Semua orang memiliki tubuh dan setiap orang bertanggung jawab penuh atas tubuhnya. Eksistensi tubuh manusia adalah ada dan karenanya ia tetap eksis sampai kapan pun. Semua orang tak berhak mengintervensi tubuh lain. Sebab setiap tubuh dilindungi dan pada esensinya tubuh adalah realitas terberi.

Dalam eksistensi keterberiannya, tubuh dipandang sebagai pemberian yang paling esensial. Maka dari itu, tubuh selalu dilindungi, dipelihara sebaik-baiknya, dan dijunjung tinggi, bahkan hingga keabadiannya.

Beberapa waktu terakhir ini, media massa cetak dan online serta media sosial seperti Facebook, WhatsApp, dan Instagram dihebohkan dengan berita-berita serta imbauan agar waspada terhadap oknum-oknum tertentu. Itu disinyalir menculik anak-anak kecil untuk dimutilasi dan diambil organ dalam tubuhnya untuk dijual.

Tawaran untuk menjalankan aksi ini juga disinyalir meraup banyak keuntungan sehingga diminati juga oleh sebagian besar orang. Adanya fenomena seperti ini juga didukung dengan ulasan-ulasan yang tersebar dalam media sosial sehingga makin memperkuat asumsi masyarakat. Akal sehat masyarakat seolah dibungkam dengan beragam gambar mengerikan yang sungguh menggugah emosi.

Lantas, publik akan lebih waspada dan serentak melakukan pengawasan pula. Akibatnya, segelintir orang yang bertingkah aneh seperti halnya para tunawisma atau orang gila menjadi fokus perhatian dan diduga sebagai aktor kasus-kasus penculikan anak-anak itu. Oleh karena itu, foto-foto mereka disebarkan agar publik lebih berhati-hati lagi terhadap keberadaan mereka. Akan menjadi suatu ironi apabila ternyata mereka tak meladeni sikap tak berperikemanusiaan itu dan menjadi objek tudingan publik semata.

Terlepas dari fakta bahwa berbagai contoh kejadian dan ulasan-ulasan tentang praktik penculikan dan penjualan organ tubuh manusia ini mengandung kebenaran valid ataukah hanya sekadar hoaks, penulis berusaha menelisik lebih dalam akar permasalahan eksistensial ini.

Merebaknya banyak isu ini sebenarnya mengindikasikan suatu sindrom masyarakat dalam bersosialisasi dengan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat. Konstelasi zaman yang makin modern mengonstruksi suatu corak berpikir kalkulatif. Hal ini menggiring manusia pada polemik nalar kapitalis dan karenanya manusia memandang orang lain bermanfaat sejauh ia dapat memberi keuntungan materi padanya.

Baca juga:

Pola pemikiran kalkulatif menyebabkan pergeseran paradigma berpikir dari konsep sosialitas antar-sesama menjadi paradigma untung-rugi. Seluruh aspek kemanusiaan termasuk dalam hal ini tubuh manusia direduksi secara mekanis demi meraup keuntungan sebanyak-banyaknya.

Fenomena yang terjadi dalam masyarakat saat ini bukanlah semata-mata sebagai satu objek untuk mengkaji benar-tidaknya beragam informasi ini. Tetapi lebih jauh ditelisik alasan mengapa isu-isu ini marak dipergunjingkan.

Korelasi antara konstelasi zaman dan aspek fenomena sosial yang terjadi mengindikasikna bahwa masyarakat sedang dilanda krisis kemanusiaan. Pada tataran ini, paradigma berpikir masyarakat hendaknya kembali divitalisasi. Menegaskan arti eksistensial tubuh manusia sebagai substansi yang sering terobjektivisasikan konten hidup setiap hari.

Eksistensi Tubuh Manusia sebagai Substansi Hakiki

Aristoteles, seorang filsuf Yunani, mengemukakan teori hylemorphisme (kata bahasa Yunani, hyle: forma dan morphe: materi). Menyatakan bahwa substansi merupakan kesatuan antara forma dan materi.

Materi dan forma merupakan dua prinsip yang membentuk ada yang konkret. Forma membutuhkan sesuatu untuk diterapkan. Sebab tanpa materi, forma tidak dapat ada dalam dunia konkret.

Sebaliknya, tanpa forma, materi tidak mempunyai ada. Karena bahan memang sudah selalu ada dalam bentuk tertentu. Forma dan materi akan membentuk substansi dan substansi yang hakiki adalah kesatuan mutlak forma dan materi (Yosef Keladu, 2017).

Eksistensi tubuh seorang manusia adalah suatu substansi hakiki. Sebagai substansi hakiki, tubuh tidak boleh dipandang hanya sebagai unsur materi. Tetapi juga, tubuh mencapai eksistensinya yang hakiki karena terdapat forma yang menegaskan realitas kebertubuhannya.

Tubuh yang hakiki merupakan satu kesatuan esensial antara forma dan materi. Kesalahan pemahaman bahwa tubuh hanyalah mengandung prinsip materi akan menyebabkan eksploitasi tubuh manusia secara mekanis tanpa mempertimbangkan aspek-aspek kebertubuhan secara utuh. Begitu pun sebaliknya, tubuh akan “disembah” hanya sebagai suatu idealisme semata apabila realitas kebertubuhan manusia dipandang hanya dari sisi forma.

Kesatuan konkret antara forma dan materi yang menyatu dalam tubuh manusia menegaskan suatu poin yang amat luhur. Bahwa eksistensi tubuh manusia sejatinya adalah utuh secara otonom. Bertolak dari penegasan filosofis ini, penulis menandaskan bahwa tindakan penculikan dan pengambilan organ tubuh manusia untuk diperjualbelikan merupakan suatu tindakan yang melawan hakikat manusia sendiri sebagai suatu substratum otonom.

Perubahan Paradigma Berpikir dan Krisis Kemanusiaan

Kontelasi zaman makin bergulir dengan beragam tren dan mode yang serba-dinamis. Seluruh aspek kehidupan manusia pun turut bergulir sesuai dengan percaturan mode zaman itu.

Salah satu produk zaman ini yang sungguh menggerus sendi-sendi kehidupan manusia adalah paradigma berpikir kalkulatif yang mencaplok manusia pada transaksi untung-rugi. Manusia hanya akan berarti apabila dapat memberikan keuntungan atau laba yang besar.

Paradigma sosialitas yang semula menjadi corak bersama dalam hidup bermasyarakat digusur arus zaman. Isu-isu tentang adanya oknum-oknum tertentu yang menculik anak-anak kecil dan pencaplokan organ-organ tubuhnya untuk kemudian dijual jangan hanya dipandang sebelah mata saja. Munculnya isu-isu ini merupakan proyeksi dari paradigma berpikir keliru yang telah mereka ladeni dalam relaitas hidupnya selama ini.

Pola pikir kalkulatif menggusur nilai rasa kemanusiaan dan menjerumuskan manusia sebagai suatu komoditas yang ditransaksikan demi laba. Pola pikir kalkulatif ini juga membangun konsepsi berpikir yang memandang tubuh hanya sebatas pada tatanan materi semata tanpa memedulikan kesatuan hakiki tubuh manusia yang otonom.

Tubuh manusia yang adalah sakral dan hakiki direduksi menjadi objek mekanis yang mudah untuk dieksploitasi. Timbulnya fenomena seperti ini mengindikasikan suatu corak masyarakat yang sedang mengalami krisis nilai kemanusiaan.

Apa sesungguhnya krisis kemanusiaan itu?

Keadaan krisis berarti suatu situasi yang amatlah sulit, berbahaya, dan kondisi yang genting. Realitas krisis dan genting ini mengindikasikan ada suatu hal pula yang sedang digusur atau tak lengkap. Ini menyebabkan adanya ketakstabilan dalam kancah hidup manusia.

Krisis kemanusiaan berarti adanya kontestasi hidup manusia yang sedang krisis dan dalam situasi yang genting. Manusia tidak lagi menyadari esensi hidupnya yang hakiki dan otonom.

Baca juga:

Ketidaksadaran akan esensi filosofis dasariah hidup manusia ini akan menjerumuskan manusia pada tindakan-tindakan tak berperikemanusiaan. Apabila manusia tak lagi sadar akan realitas adanya yang esensi, maka dengan itu seluruh sepak terjang eksistensi manusia dalam dunia ini akan makin krisis. Daya nalar manusia akan menjadi banal dan manusia akan melegalkan segala hal yang yang tak berperikemanusiaan.

Isu-isu penjualan organ tubuh manusia, terorisme, bom bunuh diri, dan lain sebagainya kemudian akan diklaim sebagai tindakan yang benar. Akan mendapat legalitas dalam hidup manusia apabila nalar manusia banal. Sebab tak menyadari diri sebagai makhluk integral antara substansi material dan forma. Kesadaran akan makna kemanusiaan dari aspek integralitas material dan forma inilah yang kemudian menjadi dasar pijak bagi penghargaan tubuh manusia selanjutnya, yakni dari berbagai sudut pandang moral etika.

Fenomena krisis kemanusiaan ini makin marak menggerogoti seluruh hidup manusia. Menghadapi kondisi krisis ini, kita perlu mencari jalan keluar untuk berbenah. Paradigma berpikir manusia perlu divitalisasikan lagi. Manusia hendaknya disadarkan akan esensi hidupnya yang hakiki. Sehingga pada akhirnya manusia tahu menghargai tubuhnya sendiri dan darinya dapat menghargai sesamanya.

Kita perlu membenahi krisis kemanusiaan ini dalam seluruh sendi hidup manusia dengan menyadarkan manusia akan eksistensi dirinya sebagai makhluk integral. Hal pertama yang menjadi basis pembenahan ini ialah tatanan keluarga sebagai agen sosialisasi primer. Keluarga perlu menanamkan dalam diri anak-anaknya sikap cinta terhadap diri sendiri, menerima diri apa adanya. Setelah mereka mampu mencintai diri dan menerima realitas dirinya, mereka pun akan mampu menghargai dan mencintai orang lain.

Basis kedua ialah lembaga-lembaga sekolah. Kurikulum-kurikulum dalam sekolah hendaknya tak hanya fokus pada pencapaian aspek intelektual semata. Tetapi juga, fokus pada pendidikan karakter dengan menanamkan sikap humanis, dan solidaritas terhadap sesama manusia.

Selain aspek-aspek tadi, hendaknya lembaga-lembaga agama juga perlu menanamkan sikap-sikap moderat, menghargai satu sama lain, dan sikap solider antar-sesama. Agar dengannya karakter anak-anak dibenahi agar tak mudah terjerumus dalam paradigma kalkulatif seperti yang ditawarkan dunia saat ini.

Baca juga:

Santo Yohanes Paulus II dalam ulasannya tentang teologi tubuh menyatakan bahwa tubuh adalah sarana pengungkapan kehadiran manusia yang paling konkret. Melalui tubuhnya, seseorang menyatakan kepada sesama tujuan, arti, dan makna hidupnya di dunia ini. Boleh dikatakan bahwa tubuh adalah sebuah komunikasi dan pengungkapan diri yang paling muda dibaca.

Dengan demikian, memahami tubuh berarti secara perlahan masuk dalam inti diriku sendiri sebagai pribadi dan juga orang lain. Seluruh kedirian seseorang menjadi nyata melalui tubuhnya (Yohanes Paulus II, 1997:1).

Dengan penjelasan ini, dapatlah kita pahami bahwa tubuh manusia bukanlah komoditas yang dapat ditransaksikan secara mekanis. Tubuh manusia merupakan substansi otonom yang hakiki. Oleh karena itu, tubuh manusia hendaknya dihormati, dihargai, dan dicintai.

Marilah kita menyadari esensi tubuh sebagai realitas terberi yang sepatutnya disyukuri eksistensinya. Marilah menghargai dan mencintai tubuh kita.

    Latest posts by Theobaldus Armando Seran (see all)