Komplikasi Rasa

Komplikasi Rasa
©Blogspot

Tidak memberinya keterangan, biar orang yang membacanya bisa menempatkan diri dalam tulisan ini serta mengajak untuk merasakan.

Pertanyaan akan definisi soal rasa terhadapmu membuatku bingung. Sebab kata tak bisa menyelesaikan persoalan rasa. Namun, aku diharuskan menjawab sebab tanggung jawab dari kejujuran rasaku terhadapmu yang engkau hargai dengan kejujuran.

Pagi…

Terang tak pernah lelah mengilhami keadaan gelap di mana ia menghadirkanmu di titik penghabisan kebersamaan. Tak menyangka secepat itu rasa menyapaku.

Sore…

Kau pun bergegas dalam duduk dan beranjak, berkeinginan menyampaikan sesuatu. Namun lagi-lagi ego membuatmu tak yakin. Dengan niat kusampaikan rasa itu terlebih dahulu dalam irama kehangatan senja.

Malam…

Engkau sekali lagi membuatku bermimpi dengan mata terbuka, tanpa terlelap kau tak membuatku lelah untuk memikirkan rasa itu.

Perjalanan..

Gerlipan lampu warna warni menghiasi kota sejuta bunga selama perjalanan membuatku merasakan sebuah kehangatan rasa. Perjalanan yang lumayan lama sekitar 1,5 jam yang berasa angin berlalu. Angin yang menghempaskan dirinya ke tubuh membuatku merasakan dingin dengan sekitar 18 derajat celcius.   

Sekitar jam 20:15, jalan yang mulai sunyi dari kendaraan namun perjalanan agak terganggu dengan truk-truk. Sesekali aku menyeka mata sebab truk bermuatan pasir tak bertanggung jawab terhadap keselamatan pasirnya dan orang yang sedang menikmati perjalanan di belakangnya.

Secepat mungkin menyalip truk itu, sementara engkau merasakan ketakutan akan kecepatan motor. Sesekali kau memegang erat tas dan jaket. Tetapi itu tak membuat rasa takutmu hilang, kau sesekali berbisik, “Hati-hati, aku takut.” Terdengar kata itu, sekaligus kecepatan motor aku kurangi.

Tempat yang dituju makin dekat, menyusuri kegelapan samping kiri dan kanan adanya hutan yang lebat. Tak ada lagi gerlip lampu yang menghiasi jalan. Bunyi makhluk yang hidup di hutan adalah hiasan jalan saat itu. Mengerikan memang. Aku dan engkau merasakan kengerian perjalanan dihantui pikiran yang aneh terhadap hal-hal menakutkan.

Seketika rasa aman mendekat ketika lampu jalan mulai terlihat. Menghapus ketegangan yang sedari tadi dirasakan, menandakan bahwa tempat yang dituju sudah dekat. Rasa lelah, takut, tegang, dan lain-lain hilang dengan sendirinya.

Mulai merasa..

Setelah berdiam dalam waktu yang lama akibat ucapan yang seharusnya tidak diucapkan yang menyebabkan terlukanya hati dan perasaanmu. Tersadar sejenak melihat keadaan yang berubah, canda dan tawa telah hilang di mukamu. Kebingungan, sebab bercanda adalah hal yang sering aku lakukan. Melihatmu tak membuatku sadar dan malah keadaan makin aku perburuk dengan membalas diam kepadamu.

Dalam jangka waktu yang lama, sekitar 10 hari lamanya, diam itu berjalan saja tanpa ada kesadaran dariku yang diselimuti ego. Parah dan memang sangat parah responsku terhadapmu dan  membiarkanmu merasakan ketidakenakan rasa setiap hari.

Setelah 10 hari berlalu saja tanpa ada sapa dan tawa. Tepat pada hari Jumat, adanya keinginan kawan-kawan untuk menuju ke permandian air panas. Semenjak saat itu, canda dan tawa kulemparkan kepadamu dan mengajakmu untuk bersama dalam perjalanan.

Awalnya kau menolak dengan halus dan mungkin kau pun  mengatakan, “kenapa tidak diteruskan saja diammu sampai kebersamaan ini benar-benar berakhir?” Itu prasangkaku terhadapmu sebab kau menolak untuk bersama dalam perjalanan.

Pada akhirnya kata iya dan mau untuk bersama kau ucapkan juga, sedari tadi aku tunggu. Namun, dalam perjalanan, satu kata pun tertatih untuk diucapkan. Mungkin itu dampak akan diam yang telah terjadi. Kata tak benar-benar bisa terucap. Engkau lebih memilih diam dalam perjalanan saat itu. Tak mau bicara satu kata pun. Ingin candamu terucap.

Segala cara telah aku coba demi senyum dan kata bisa kembali kau berikan kepadaku. Sesekali kau mulai memberikan senyum dan kata. Agaknya kau pun punya keinginan untuk bercerita tentang diam itu. Namun, ketidakpekaanku membunuh keinginanmu. Begitulah ketidaktahuanku terhadap rasa yang kau sembunyikan. Tak pernah kau katakan atas semua yang mengganggu pikiran dan rasamu.

Engkau lebih memilih menyembunyikan sebuah kepahitan yang menimpa rasamu dalam waktu yang cukup lama. 10 hari termasuk waktu yang lama, apalagi selama 60 hari tatap muka tak pernah terhenti.

Ada kejujuran..

Semenjak canda dan senyum yang canggung mulai engkau perlihatkan. Kata mulai jalan kembali seakan-akan permasalahan diam sudah selesai.

Namun aku salah dalam menilai itu, ternyata diam kemarin belum benar-benar mendamaikan dirimu. Kau masih menahan kata yang mungkin saja dan berkeinginan aku minta maaf terhadapmu. Lagi-lagi tak membuatku sadar dan tak pintar melihat keadaanmu.

Padahal, matamu sudah sangat jelas. Menggambarkan ketidakmampuan menahan rasa yang di mana engkau ditahan oleh ego. Ketidakmampuanku membuatmu jujur mengakibatkan dan memunculkan masalah baru yang membuatmu makin marah.

Tampaknya kau mulai risi atas kegugupan dan keegoisanku yang seakan-akan memaksamu jujur terlebih dulu kepadaku. (“Laki-laki tak bernyali mungkin kau gelarkan kepadaku”).

Namun, kesalahanku dalam menilai yang makin membuatmu ragu untuk melanjutkan percakapan dan ingin secepatnya beranjak pergi di hadapanku. Kesalahan itu makin memperparah situasi yang kemarin sudah mulai reda. Dengan adanya ketidakjujuranku yang tak kusampaikan dalam kata yang benar membuatmu mulai bodoamat akan keadaan ini.

Menanggalkan rasa sejenak..

Setelah kau meninggalkan tempat yang berarti itu, tanggal 30 tepatnya. Aku merasa, ada sesuatu yang belum tersampaikan olehku kepadamu. Namun, sesuatu itu membingungkan bagiku.

Sehingga malamnya saya mencoba menuliskan kebingungan itu, satu per satu kalimat mulai mendekat terhadap apa yang membingungkan diriku. Kemudian, setelah tulisan itu selesai, tulisan itu mengarahkanku ke kalimat yang lagi-lagi sangat membingungkan bagiku.

Kalimat itu tersusun seperti ini: “aku sayang padamu.”

Ah, lagi-lagi keberanian untuk mengucapkan dan mengirim tulisan itu kepadamu dihentikan oleh ketidakpantasan. Sebab aku mengingat bahwa engkau telah memiliki kalimat seperti itu untuk orang lain.

Semenjak itu, tulisan yang aku beri judul “masih ada kata yang hilang” menjadi penghuni memori yang tak menemukan jalan keluar. Dengan dalil kebijaksanaan, mengingat bahwa engkau telah mempunyai sesuatu itu dan mengurungkan niatku untuk memberimu waktu untuk membaca tulisan itu.

    Iqbal Maulana

    Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
    Iqbal Maulana

    Latest posts by Iqbal Maulana (see all)