Konflik: Sebuah Upaya Mendeteksi dan Mencegah

Konflik: Sebuah Upaya Mendeteksi dan Mencegah
©Marketing

Manusia mungkin sudah lelah ketika mendengar istilah konflik, karena istilah itu adalah momok yang menakutkan, seperti mesin penghancur. Bahkan tidak jarang manusia kelimpungan manakala konflik menjalar dalam sendi-sendi kehidupan. Tanpa disadari bahwa konflik adalah min lawazim al-hayah (keniscayaan hidup). Ia akan selalu ada dan pasti ada selama manusia itu masih ada, karena dinamisasi kehidupan sejatinya adalah konflik, apa pun bentuk dan variasinya.

Karena konflik adalah fakta kehidupan, konflik tidak terkait dengan masalah baik atau buruk, tapi bagaimana konflik itu dikelola—mengatasi konflik tidak sama dengan menghindari atau menekan konflik. Menangani konflik berarti mendorong konflik untuk dikelola agar lebih bernilai positif, sehingga keuntungan dan proses perubahan akibat konflik dapat dimaksimalkan untuk kemajuan.

Jika konflik adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan, tentu manusia juga tidak akan bertahan hidup dalam pertentangan atau konflik secara terus-menerus.

Hukum alam memiliki dialektikanya sendiri, yaitu antara keteraturan (cosmos) dan ketidakberaturan (chaos). Lihat saja fenomena kehidupan alam semesta, ketika makhluk hidup membutuhkan air terkadang terjadi kekeringan, banjir, gempa bumi, dan musibah lainnya. Bisa jadi chaos terjadi di suatu tempat tapi di tempat lain tidak. Jika terjadi chaos, tentu manusia akan berharap pada cosmos (keteraturan).

Proses terjadinya equilibirium alam semesta pasti terjadi. Demikianlah sunnatullah irama alam berjalan. Jika ritme kehidupan alam tersebut ditarik ke dalam kehidupan manusia, maka konflik (chaos) dan damai (cosmos) adalah ibarat siang dan malam yang saling silih berganti.

Wujud konflik muncul dalam konteks perorangan, kelompok, komunitas yang memiliki kepentingan berbeda. Bahkan dari konflik individu, jika tidak dapat terselesaikan, maka eskalasinya akan pindah menjadi konflik golongan dan begitu seterusnya.

Perbedaan pendapat dan kemudian sampai pada titik akumulasi yaitu sikap tidak ingin menerima keberadaan orang lain yang berselisih dalam bentuk apa pun, maka konflik akan terus bereaksi dengan cepat seperti virus yang siap melenyapkan pihak-pihak yang lemah dan dianggap sebagai musuh. Bahkan dalam tingkat yang sederhana antara Anda yang membaca tulisan ini barangkali juga terdapat konflik dengan argumen yang penulis munculkan.

Konflik antarkelompok atau konflik sosial, jika sampai pada titik pemusnahan, maka kontiniunitas dendam sejarah akan melekat pada generasi selanjutnya. Virus kebencian akan tetap bersemi seiring reproduksi dan konstruksi konflik yang terjadi mengalami regenerasi.

William Chang mengatakan bahwa trauma psikologis anak-anak korban kerusuhan akan menjadi watak konflik yang destruktif, manakala bertemu dan berinteraksi dengan pihak atau kelompok yang dalam sejarah pernah membuat mereka menderita. Konflik semacam ini sangat erat kaitannya dengan konflik yang terjadi pada masa lalu.

Pemahaman akan pentingnya mengelola dan mengatasi konflik ini, maka perlu pemahaman yang komprehensif tentang konflik dengan baik; memahami berarti mengerti atau mengetahui sesuatu secara mendalam; memahami mensyaratkan penguasaan detail suatu hal, seluk beluk, bahkan sampai pada asal-usulnya.

Karakteristik konflik, baik konflik individu maupun kelompok (komunitas), perlu didekati dan dipahami dengan multidisiplin ilmu. Sehingga pembacaan dengan multidisiplin ilmu dapat mengurai konflik dari berbagai aspek sudut pandang.

Kekuatan konflik yang berwajah ganda, yaitu destruktif dan konstruktif ini, harus diarahkan pada energi konstruktif dan positif. Jika tidak, maka kekuatan konflik yang bersifat destruktif akan menguat dan siap untuk menghancurkan dan meluluhlantahkan tatanan kehidupan manusia. Oleh karena itu, sisi positivisme konflik mesti lebih dikedepankan dan dikampanyekan.

Sumber Konflik

Jika konflik adalah min lawazim al-hayah, maka untuk membaca dan memahami konflik dengan mudah harus dipetakan berbagai entitas yang dapat menjadikan memicu atau sumber konflik itu sendiri. Pada setiap entitas pasti memiliki potensi konflik, dan akumulasi dari berbagai konflik akan meningkatkan eskalasi konflik yang terjadi.

Akar konflik secara filosofis terletak pada perbedaan (differences). Perbedaan ini bisa saja pada etnis, warna kulit, agama, ekonomi, politik, bahasa, pengetahuan, gender, kelas sosial dan seterusnya.

Perbedaan semacam itu adalah wilayah yang potensial bagi awal terjadinya konflik, dan perbedaan itu pasti ada begitu juga dengan konflik yang melengkapinya. Kemudian perpedaan itu akan makin menguat ketika watak ashabiyah mengakar dan cenderung eksklusif.

Ashabiyah dapat diartikan dengan kedekatan, rasa cinta terhadap identitas kelompok dan berusaha sekuat tenaga menjalankan prinsip dan nilai yang dianut oleh kelompoknya. Karena menurutnya, rasa cinta terhadap identitas kelompok adalah fitrah, maka hal ini akan ada sepanjang manusia ada.

Halaman selanjutnya >>>
    Salman Akif Faylasuf
    Latest posts by Salman Akif Faylasuf (see all)