Kongres HMI: Siapa di Balik Kandidat?

Kongres HMI: Siapa di Balik Kandidat?
©Suara Medan

Yang penting di HMI itu adalah seberapa besar Anda memahami politik dan menjadikan kekuatan intelektual (gagasan) Anda dalam menatap momen kongres HMI.

Himpunan Mahasiswa Islam yang disingkat HMI sebagai sebuah organisasi modern yang sudah lama ada dan selalu bereksistensi terhadap dinamika perjalanan kebangsaan kita (keislaman-keindonesiaan) diprediksi masih akan terus berlangsung dan bertahan lama.

Sejak awal kelahirannya, HMI telah mempunyai tugas untuk mengangkat derajat umat Islam di Indonesia dan sekaligus mempertahankan kemerdekaan Indonesia sebagai sebuah negara merdeka. Sehingga HMI punya peranan penting terhadap perjalanan sejarah bangsa Indonesia dan selalu melakukan survive dalam menghadapi dinamika kebangsaan yang ada sejak didirikan pada 5 Februari 1947.

Pada prinsipnya HMI merupakan organisasi yang tidak terlepas dari kepentingan politik (politic interest) dalam mengembangkan eksistensi HMI itu sendiri. Tapi kepentingan (politik) yang mana dulu yang dibicarakan, dibahas, dan lain sebagainya. Agenda “Kongres” adalah momen untuk membicarakan, membahas, merancang, mengkonsepkan yang selanjutnya mengaktualisasikan semua kepentingan itu. Satu hal yang menjadi titik tekan dari itu semua yakni kepentingan politik umat dan bangsa.

Kontestasi Kongres

Dalam konteks HMI, Kongres merupakan arena pengambilan keputusan tertinggi di tingkat organisasi. Sesuai dengan Anggaran Dasar Bab VII tentang Struktur Organisasi Pasal 12 yakni kekuasaan dipegang oleh Kongres dan Pasal 13 (1) yakni kepemimpinan organisasi dipegang oleh Pengurus Besar HMI.

Kongres HMI merupakan agenda dua tahun sekali dan agenda pertemuan terbesar seluruh kader HMI, selain itu Kongres juga merupakan agenda politik dilingkup HMI. Perpolitikan di HMI sejatinya adalah politik mengadu ide dan gagasan sebagai budaya yang selalu mewarnai kontestasi berpolitik di HMI.

Berpolitik di lingkungan HMI itu tidak penting sedekat apa Anda dengan pejabat negara-elite kekuasaan, seberapa banyak saldo Anda di rekening, dari mana dan degan gerbong mana Anda muncul, dan hal-hal pragmatis lainnya. Yang penting di HMI itu adalah seberapa besar Anda memahami politik dan menjadikan kekuatan intelektual (gagasan) Anda dalam menatap momen kongres HMI.

Dalam perkembangan dinamika organisasi-HMI saat ini kongres sudah seperti dan bagaikan arena politik praktis yang sangat pragmatis, bebas nilai, dan sarat kepentingan. Padahal substansi yang merupakan nilai dari Kongres itu adalah ajang beradu ide dan gagasan atas nama HMI, atas nama umat dan bangsa, dan atas nama keislaman dan keindonesiaan. Artinya dari arena Kongres nantinya akan melahirkan kerangka pikir yang baru dari hasil pikir (ide-gagasan) para kader HMI untuk masa depan Indonesia sebagai negara bangsa (nation-state).

Hal di atas akan hilang apabila manivestasi dari kontestasi Kongres HMI diakibatkan menguatnya pengaruh kepentingan gelap yang terselubung dari pada pengaruh kekuatan gagasan yang tidak terbangun.

Oligarki?

Bahwa kenapa saya menitipkan pembahasan oligarki dalam tulisan ini karena dengan melihat begitu pragmatisnya kontestasi Kongres di tubuh HMI pasca Reformasi. Saya pribadi curiga bahwa jangan-jangan proses berdemokrasi di internal HMI yang disebut kongres ini merupakan pintu masuk untuk oligarki dan mereka akan bekerja secara diam-diam (di belakang layar) dalam menentukan setiap kebijakan dan keputusan teman-teman di Pengurus Besar HMI.

Ada semacam intervensi pihak luar (para elite maupun elite alumni) yang di balik para kandidat atau calon ketua umum di kongres HMI. Artinya, kongres tidak lagi murni pertarungan ide dan kemandirian dari para kader himpunan berdasarkan tafsiran independensi HMI. Tetapi sudah lebih untuk pertarungan kepentingan politis yang selalu diwarnai kemauan para elite atau penguasa di negara. Atau yang sering kita sebut oligarki dalam tubuh HMI.

Seperti diketahui bahwa oligarki diartikan sebagai sebuah pelaku yang menguasai serta mengendalikan suatu konsentrasi secara besar-besaran dalam hal sumber daya material yang nantinya bisa digunakan untuk mempertahankan ataupun dapat meningkatkan kekayaan pribadi serta posisi eksklusif sosial.

Menurut Jeffrey A. Winters, oligarki dibedakan menjadi dua dimensi. Dimensi pertama, oligarki mempunyai suatu dasar kekuasaan serta kekayaan material yang sangat sulit untuk dipecah dan juga diseimbangkan. Sedangkan dimensi kedua menjelaskan bahwa oligarki mempunyai suatu jangkauan kekuasaan yang cukup luas dan sistemik, meskipun mempuyai status minoritas di dalam sebuah komunitas.

Jeffrey mengatakan distribusi kekuasaan dalam politik di Indonesia tidak adil karena adanya oligarki dengan menggunakan material untuk menjalankan kegiatan politik. Dia menilai prinsip kesetaraan dalam politik penting dilakukan agar setiap orang mendapatkan suara secara benar.

Cara untuk memperbaikinya adalah harus ada sterilisasi sistem politik supaya kekuasaan material yaitu uang dikurangi. Menurut saya tidak bisa (kekuasaan material) dibuat nol tapi bisa dikurangi agar keleluasan serta kekuasaan dapat dibendung dan dipersempit ruang geraknya.

Sebab tanpa kita sadari maupun ada yang sudah menyadari bahwa oligarki sudah sangat dekat membangun hubungan dengan HMI lewat momentum demokrasi di lingkup organisasi. Oleh karena itu, para kader terutama para peserta utusan (penuh) dan yang lainnya harus mendiagnosa secara betul-betul para kandidat ketua umum yang bertarung di Kongres kali ini, Kongres ke-31 ini.

Perbaikan

HMI dalam setiap waktunya haruslah terus merevitalisasi dengan melakukan perbaikan baik secara etis maupun organisatoris demi mempertahankan diri (baca: HMI) sebagai anak kandung revolusi Indonesia. Olehnya itu, harus ada kesadaran baru pada internal (kader) HMI dan pastinya kesadaran-kesadaran itu bukan kesadaran yang palsu. Kesadaran baru ini harus terjadi dalam setiap momen-momen penting HMI-salah satunya momentum Kongres.

Ada beberapa catatan yang perlu kita evaluasi bersama. Pertama, HMI pada tingkat struktur kekuasaan pusat kurang memiliki strategi yang terukur dan terarah dalam mengimplementasi usaha-usaha untuk mewujudkan tujuannya sehingga kehadirannya tidak dirasakan bagi anggota HMI di akar rumput.

Kedua, telah terjadi kegagapan nalar intelektual dalam menangkap perkembangan dan tantangan zaman, sehingga HMI tidak mampu untuk memaksimalkan peran dan fungsinya untuk memberikan jawaban-jawaban yang solutif atas berbagai persoalan yang melanda umat dan bangsa pada saat ini.

Ketiga, HMI terlalu disibukkan dengan berbagai persoalan internal dan domestik sehingga energinya habis terkuras hanya untuk menyelesaikan persoalan domestik tersebut. Bagi penulis, itulah ketiga pokok permasalahan mendasar yang patut untuk kita renungkan bersama, untuk kemudian kita berkomitmen melakukan ikhtiar perbaikan untuk kebaikan bersama. Harapannya HMI mesti dan harus tetap ada dalam melewati berbagai macam dinamika kebangsaan kita.